Dari Arang Menjadi Peluang, Mahasiswa KKN STAIN Majene Latih Warga Kenje Produksi Briket

BeritaNasional. ID POLMAN SULBAR— Sesuatu yang selama ini mungkin dipandang sebagai bahan sederhana di lingkungan sekitar ternyata dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Gagasan itulah yang diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) melalui program Kenje Berkarya, berupa pelatihan pembuatan briket arang bersama masyarakat Desa Kenje yang digelar di Aula Kantor Desa Kenje, Ahad (9/8).
Sebanyak 18 peserta mengikuti kegiatan yang diarahkan untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman pembuatan briket arang.
Kegiatan berlangsung dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pelatihan.
Selain memperoleh pengetahuan baru, peserta juga mendapatkan pengalaman mengenai bagaimana bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat lebih.
Salah seorang peserta, Syamsiah, mengapresiasi pelatihan yang diberikan mahasiswa KKN. Ia mengatakan kegiatan tersebut menambah pengetahuan sekaligus pengalaman baru bagi masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih karena dengan pelatihan ini menambah ilmu baru dan pengalaman baru terkait pembuatan arang,” kata Syamsiah.
Apresiasi juga disampaikan Ketua TP PKK Desa Kenje, Supriani, S.Pd. Ia menilai kegiatan tersebut merupakan bentuk kontribusi mahasiswa KKN dalam memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Pemerintah Desa sangat mengapresiasi kegiatan pelatihan pembuatan briket arang yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN bersama masyarakat.
Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam memberikan pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Supriani.
Menurut Supriani, pelatihan tersebut memiliki nilai positif karena mengajak masyarakat memanfaatkan bahan yang ada di lingkungan sekitar menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna dan berpotensi menjadi sumber tambahan pendapatan.
“Kami melihat kegiatan ini sangat positif, karena masyarakat diajak untuk memanfaatkan bahan yang ada di lingkungan sekitar menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna dan berpotensi menjadi sumber tambahan pendapatan,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti selama mahasiswa KKN berada di Desa Kenje. Pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh masyarakat diharapkan dapat terus dikembangkan dan diterapkan secara berkelanjutan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti selama mahasiswa KKN berada di desa, tetapi dapat terus dikembangkan dan diterapkan oleh masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Supriani.
Sementara itu, Junaedi, Koordinator Posko KKN, mengatakan pelatihan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang berkesan bagi mahasiswa selama menjalankan KKN di Desa Kenje.
“Selama melaksanakan kegiatan KKN, salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi kami adalah dapat melaksanakan pelatihan pembuatan briket arang bersama masyarakat,” kata Junaedi.
Menurut Junaedi, antusiasme masyarakat selama mengikuti pelatihan menjadi hal yang menggembirakan bagi mahasiswa.
Ia berharap pengetahuan yang dibagikan dapat terus dikembangkan dan, ke depan, berpotensi menjadi peluang usaha bagi masyarakat.
“Kami sangat senang melihat antusiasme masyarakat dalam mengikuti pelatihan ini. Semoga kegiatan yang kami lakukan dapat memberikan manfaat dan menjadi pengetahuan yang bisa terus dikembangkan, bahkan menjadi peluang usaha bagi masyarakat ke depannya,” ujarnya.
Junaedi juga berharap keterampilan yang telah dipelajari bersama dapat tetap diterapkan setelah mahasiswa KKN menyelesaikan kegiatan di Desa Kenje.
“Semoga setelah kegiatan KKN ini selesai, ilmu dan keterampilan yang telah dipelajari bersama dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Kami berharap kegiatan sederhana ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat,” katanya.
Melalui Kenje Berkarya, mahasiswa KKN tidak hanya memperkenalkan proses pembuatan briket arang, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat potensi bahan di sekitar mereka dari sudut pandang yang berbeda.
Bahan sederhana yang sebelumnya kurang diperhitungkan dapat menjadi keterampilan baru dan berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.



