Menyambut Revalidasi UGG, Di Indonesia Hanya Bondowoso yang Punya Perda Kopi

BeritaNasional.ID, BONDOWOSO JATIM – Dalam waktu dekat UNESCO Global Geopark akan melakukan revalidasi di Bondowoso. Menurut Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) Bondowoso, salah satu yang menjadi point adalah kopi dan budaya.
Pemkab Bondowoso dinilai serius menjadikan Bondowoso sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark (UGG), dengan diterbitkannya Perda tentang perkopian dan kebudayaan. Satu langkah lebih maju dengan daerah lain.
Anggota PHIG Bondowoso, Ahmad Sofyan, mengatakan, setidaknya ada 3 hal yang harus mendapatkan perhatian serius dari Pemkab Bondowoso, yaitu geodiversity, biodiversity dan culture diversity.
“Ketiga unsur tersebut merupakan roh dari pengelolaan geopark. Kalau 3 unsur tidak dijalankan, maka Ijen Geopark akan kehilangan substansinya. Sebetulnya di Bondowoso penunjangnya sudah ada, yaitu muatan lokal, modul pembelajaran, dan game edukasi,” ujarnya.
Pemerintah, lanjutnya, tinggal memperkuat melalui Perda. Kegiatan penunjang sudah dijalankan oleh Dinas Pendidikan melalui lembaga pendidikan, SD dan SMP yang tersebar di seluruh Bondowoso.
Ditambahkan, potensi kopi di Bondowoso masuk dalam salah satu situs Geopark dan Pemkab telah menerbitkan Perdanya. Dengan Perda tersebut, secara regulative, kopi diakui sebagai salah satu potensi Bondowoso.
Di Indonesia, hanya Bondowoso yang punya Perda kopi, sekarang ditambah Perda tentang Budaya. Ini menjadi koefisien penting saat revalidasi. Implementasi kedua regulasi harus dimunculkan dalam dossier pengajuan sebagai klausul penguatan identitas.
Dalam konteks positioning dan diferensiasi, aspek budaya dinilai memiliki peran krusial. Di sektor kebudayaan, PHIG mendorong percepatan penetapan busana khas atau pakaian adat Bondowoso, termasuk batik khas daerah.
Penetapan formal dinilai penting agar memiliki dasar kuat dalam proses asesmen. Disamping itu, warisan budaya seperti Singo Ulung, Topeng Konah, Remo Sutinah, hingga kesenian Pojien perlu diidentifikasi dan didokumentasikan secara sistematis. (Syamsul Arifin/Bernas)



