Situbondo dan Serang Inisiasi Anyer–Panarukan 3R, Satukan Sejarah, Budaya dan Ekonomi 22 Daerah

BeritaNasional.id, JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, bersama Pemerintah Kabupaten Serang, Banten, meluncurkan program Anyer–Panarukan 3R (Road, Route, Roots) untuk menghidupkan kembali nilai sejarah Jalan Raya Pos sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sepanjang jalurnya. Program tersebut resmi diluncurkan dalam acara Kick Off Anyer–Panarukan 3R di Auditorium Bank BJB, Jakarta Selatan, Minggu (11/10/2026).
Peluncuran ini dihadiri Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah, serta sejumlah pemangku kepentingan.
Program ini tidak hanya berfokus pada pelestarian sejarah, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan potensi desa, pariwisata, kebudayaan, kuliner, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sepanjang jalur bersejarah Anyer–Panarukan.
Mendes PDT Yandri Susanto menyambut baik inisiatif tersebut. Menurut dia, jalur Anyer–Panarukan memiliki potensi besar karena melintasi ribuan desa dengan karakteristik dan keunggulan yang beragam.
Potensi tersebut, mulai dari pertanian, kawasan pesisir, desa wisata hingga produk budaya dan ekonomi kreatif, dinilai dapat menjadi penggerak ekonomi desa apabila dikelola melalui kolaborasi lintas daerah.
“Kemendes akan menjadikan momentum Program Anyer–Panarukan 3R ini untuk menaikkan kelas desa-desa yang ada di jalur Anyer–Panarukan dengan tetap mengedepankan potensi desa masing-masing,” ujar Yandri.
Ia berharap program tersebut berkembang menjadi gerakan bersama yang menghubungkan pembangunan ekonomi, kebudayaan, dan infrastruktur.
Yandri juga mendorong agar Anyer–Panarukan 3R menjadi agenda tahunan dan melibatkan lebih banyak kabupaten, kota, serta desa yang berada di sepanjang jalur tersebut.
“Kemendes PDT siap mendukung pengembangan jejaring kerja sama dengan berbagai mitra,” katanya.
Bupati Situbondo ingin Jalan Raya Pos kembali menggerakkan ekonomi
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan, pengembangan Anyer–Panarukan 3R berangkat dari upaya menghubungkan warisan sejarah dengan kebutuhan ekonomi masyarakat masa kini.
Menurut dia, Jalan Raya Pos tidak cukup hanya dikenang sebagai peninggalan sejarah. Jalur tersebut juga memiliki peran penting dalam menopang aktivitas perdagangan, usaha kecil, dan kehidupan masyarakat.
“Tidak hanya sebagai Anyer–Panarukan sebagai eksistensi sejarah, tapi bagaimana masa depan itu juga dijaga. Jalan Anyer–Panarukan itu tumbuh dengan UMKM. Banyak pedagang, kehidupan ekonomi bisnis tumbuh di sana,” ujar Mas Rio.
Ia menilai keberadaan Tol Trans-Jawa menjadi tantangan tersendiri bagi jalur lama. Karena itu, kawasan di sepanjang Jalan Raya Pos perlu memiliki daya tarik agar tetap menjadi pilihan perjalanan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Mas Rio mencontohkan Situbondo yang menjadi salah satu jalur perjalanan menuju Bali. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi pengembangan pusat kuliner, destinasi wisata, serta pemasaran produk unggulan daerah.
“Meskipun sudah ada tol sekarang, tapi saya yakin banyak pengguna jalan yang, apalagi Situbondo itu orang mau ke Bali pasti lewat jalan Anyer–Panarukan. Jadi, kita siapkan, tumbuh kembangnya ekonomi bisnis di sepanjang jalan itu,” jelasnya.
Melalui program tersebut, Situbondo ingin memperkuat posisi Panarukan dalam narasi sejarah nasional sekaligus mengembangkan potensi daerah agar tidak sekadar menjadi wilayah lintasan.
Sejumlah potensi yang dapat dikembangkan antara lain kawasan Panarukan, Kota Tua Besuki, Pendopo Pate Alos, tradisi lokal, serta produk unggulan seperti kopi, batik, kuliner, dan kerajinan.
Bupati Serang bidik wisata sejarah dan kuliner
Senada dengan Rio, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menilai Jalan Raya Pos dapat dikembangkan menjadi koridor ekonomi yang menghubungkan berbagai potensi masyarakat.
Menurut Ratu, konsep Route dalam Anyer–Panarukan 3R dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat UMKM, kuliner, serta wisata religi dan sejarah.
“Kita ingin menjadikan Jalan Raya Pos ini sebagai pergerakan ekonomi. Kita bisa menumbuhkan UMKM, kita bisa menumbuhkan kuliner. Kemudian juga kita juga bisa menumbuhkan wisata, misalnya wisata religi dan juga sejarah,” tuturnya dalam talkshow seusai peluncuran.
Ia berharap pengembangan jalur bersejarah tersebut membuka kesempatan lebih luas bagi pelaku usaha lokal dan pengelola destinasi wisata.
Kolaborasi Situbondo dan Serang diharapkan menjadi langkah awal untuk mempertemukan potensi kedua daerah sekaligus mendorong partisipasi wilayah lain di sepanjang Jalan Raya Pos.
Sejarah Jalan Raya Pos perlu dikaji secara utuh
Selain aspek ekonomi, program Anyer–Panarukan 3R juga menempatkan pelestarian sejarah dan penguatan identitas lokal sebagai bagian penting dari pengembangannya.
Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Prof. Dr. Djoko Marihandono, S.S., M.Si., menekankan pentingnya penggunaan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan dalam mengembangkan narasi Jalan Raya Pos.
Menurut dia, jalur tersebut perlu dipahami tidak hanya sebagai infrastruktur peninggalan masa lalu, tetapi juga dalam konteks perubahan masyarakat, kebudayaan, dan kehidupan ekonomi di sepanjang jalurnya.
“Jalan Raya Pos tidak cukup dipahami hanya sebagai infrastruktur peninggalan masa lalu. Jalur ini perlu dikaji melalui sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus dibaca dalam konteks perubahan masyarakat, kebudayaan, dan kehidupan ekonomi di sepanjang jalurnya,” kata Djoko.
Ia menilai pendekatan tersebut penting agar pengembangan warisan sejarah tetap berpijak pada fakta dan memberikan makna bagi generasi sekarang.
Dokumentasi situs bersejarah, cerita masyarakat, tradisi lokal, serta potensi budaya di setiap daerah juga perlu dilakukan dengan memperhatikan konteks kolonial dan pengalaman masyarakat pada masa pembangunan Jalan Raya Pos.
Ekspedisi Anyer–Panarukan disiapkan
Sebagai tindak lanjut peluncuran, program Anyer–Panarukan 3R diarahkan untuk membangun basis data dan dokumentasi potensi di sepanjang jalur Jalan Raya Pos.
Salah satu agenda yang disiapkan adalah ekspedisi penelusuran Anyer–Panarukan untuk memetakan kondisi jalur, situs bersejarah, cerita masyarakat, destinasi wisata, produk UMKM, serta peluang kerja sama antardaerah.
Hasil pemetaan tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan program yang lebih terarah, mulai dari pengembangan paket wisata, promosi budaya, penguatan jejaring UMKM hingga kolaborasi antardesa dalam pemasaran produk unggulan.
Program ini juga membuka ruang keterlibatan generasi muda melalui dokumentasi digital, produksi konten sejarah, kompetisi video, festival budaya, dan penceritaan kreatif melalui media digital.
Adapun konsep Anyer–Panarukan 3R terdiri dari tiga gagasan utama.
Road menempatkan Jalan Raya Pos sebagai warisan sejarah sekaligus penghubung antardaerah. Route berfokus pada pengembangan koridor perjalanan, perdagangan, dan destinasi wisata. Sementara Roots menekankan penggalian serta penguatan akar sejarah, budaya, identitas, dan kearifan lokal masyarakat.
Melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat, program ini diharapkan mampu menghubungkan pelestarian sejarah dengan peluang pembangunan yang nyata.
“Kita tidak sedang menghidupkan kembali sebuah jalan. Kita sedang menghidupkan kembali cerita tentang perjalanan bangsa. Anyer Panarukan 3R, Road, Route, dan Roots. Dari Anyer ke Panarukan — 1.000 KM untuk Indonesia,” tegas Mas Rio.



