tasikmalaya

Terjadi di Tasikmalaya, Pengadaan Mobil Siaga Desa Sukasenang Senilai 270 Juta Tahun 2025 Melalui PT HRW Tidak Kunjung Tiba: Uang Hilang, Janji Kosong, Kepala Desa Sakit

 

Beritanasional.id – Tasikmalaya, Jawa Barat,- Ratusan juta rupiah melayang, mobil siaga tak kunjung datang, dan kepala Desa Sukasenang justru terbaring sakit. Ironi ini menyayat hati warga Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya, yang sejak September 2025 menanti janji mobil siaga senilai Rp270 juta. Hingga awal Februari 2026, janji itu tinggal janji kosong. Jalan desa tetap lenggang, mobil tak pernah muncul.

Sekretaris Desa Sukasenang, Burhan, tak kuasa menahan kekecewaan. “Awalnya kami percaya penuh pada pihak ketiga dari PT HRW itu berinisial IW. Nyatanya mobil tak datang, uang raib, dan pak kades kini dirawat di RS Jasa Kartini,” ujarnya, Senin (2/2/2026).

Kepercayaan yang Runtuh

Kepercayaan warga terhadap pihak ketiga maupun aparat desa kini runtuh. Kuasa hukum pihak ketiga sempat datang menawarkan sejumlah aset di sekitar Kecamatan Cigalontang sebagai pengganti uang. Namun tawaran itu masih menggantung, menambah kabut ketidakpastian. Warga menilai langkah tersebut bukan solusi, melainkan sekadar upaya menunda tanggung jawab.

Pola yang Berulang

Lebih getirnya, informasi yang dihimpun awak media menunjukkan Desa Sukasenang bukan satu-satunya korban. Sejumlah desa lain di Tasikmalaya disebut ikut terjebak dalam modus pengadaan mobil siaga dan program ketahanan pangan yang tak pernah terealisasi. Pola yang muncul serupa: janji pengadaan, aliran dana, lalu hilangnya barang yang dijanjikan.

Fenomena ini menimbulkan dugaan adanya jaringan praktik pengadaan fiktif yang menyasar desa-desa dengan dana desa yang relatif besar. Jika benar, kasus Sukasenang hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang lebih luas.

Warga Mulai Geram

Kemarahan warga pun mulai memuncak. “Sudah awal 2026, mau masuk Februari, mobilnya tak ada kabar. Kalau dibiarkan, masalah ini bisa berlarut-larut. Desa harus bergerak cepat,” desak seorang warga.

Mobil yang mestinya jadi penyelamat warga, kini justru menjadikan kepala desa “siaga sakit”. Ratusan juta lenyap, janji tinggal janji, dan warga hanya bisa menatap jalan kosong.

Aparat Dinilai Lamban

Hingga berita ini diturunkan, laporan ke polisi baru sebatas lisan. Langkah yang dinilai terlalu lambat, sementara kerugian sudah nyata dan kepercayaan warga makin terkikis. Ketiadaan laporan resmi membuat proses hukum berjalan di tempat, membuka ruang bagi pihak ketiga untuk terus mengulur waktu.

Pertanyaan yang Menggantung

Kini pertanyaan besar bergema di tengah masyarakat: siapa yang benar-benar siaga? Warga yang menunggu, aparat yang diam, atau pihak ketiga yang kabarnya sudah “siaga kabur”?

Kasus ini bukan sekadar soal mobil yang tak kunjung datang. Ia adalah cermin rapuhnya tata kelola dana desa, lemahnya pengawasan, dan rentannya masyarakat terhadap praktik manipulasi. Jika tidak segera ditindak, ironi Sukasenang bisa menjadi preseden buruk bagi desa-desa lain di Tasikmalaya, bahkan di luar daerah.

Hingga berita ini diterbitkan, Direktur PT Herwanto Rudiawan Wicin (HRW) berinisial IW belum memberikan keterangan jelas, bahkan berulangkali dihubungi melalui telepon whatsapp miliknya pun tidak pernah menjawab dan terkesan menghindar dari awak media.

Laporan: Chandra Foetra S.

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button