DaerahJawa TimurNasionalPelantikanPendidikanPolitikRagam

Ansor Jatim Dorong Muktamar NU Mendatang Digelar di Kawasan Hutan Wisata

BeritaNasional.id, JOMBANG – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (PW GP Ansor) Jawa Timur menggagas konsep berbeda untuk penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) mendatang. Alih-alih digelar di kawasan perkotaan, Muktamar NU diusulkan berlangsung di kawasan hutan wisata.

Gagasan tersebut disampaikan Ketua Departemen Pemanfaatan Hutan Bidang Kehutanan PW GP Ansor Jawa Timur, H. Misbakhul Munir, S.Hut., dalam diskusi kehutanan sosial di Jombang, Jumat (28/8/2026).

Menurut Munir, sejumlah kawasan hutan wisata seperti Coban Rondo di Malang dan Tanjung Papuma di Jember dapat dikaji sebagai alternatif lokasi.

Namun, pemilihan lokasi harus mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari daya dukung ekologis, kapasitas kawasan (carrying capacity), aksesibilitas, mitigasi risiko hingga kesiapan infrastruktur.

“Kenapa Muktamar NU berikutnya tidak kita coba selenggarakan di hutan wisata? Kita membutuhkan Muktamar yang udaranya segar sekaligus suasana permusyawaratannya tidak pengap,” ujar Munir.

Ruang Musyawarah Lebih Terbuka
<span;>Munir menilai lingkungan dan tata ruang memiliki pengaruh terhadap kualitas interaksi sosial selama pelaksanaan forum besar organisasi.

Menurut dia, kawasan terbuka dan alami berpotensi menciptakan ruang interaksi yang lebih egaliter antarmuktamirin.

Konsep tersebut, kata Munir, diharapkan dapat memperluas ruang dialog sekaligus mengurangi potensi eksklusivitas, mobilisasi kepentingan, hingga transaksi politik.

“Muktamar harus menjadi ruang lahirnya keputusan melalui musyawarah. Kita perlu memperbesar ruang dialog dan mempersempit ruang transaksi,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa gagasan Muktamar di kawasan hutan bukan sekadar memindahkan lokasi acara.
<span;>Konsep tersebut, lanjut dia, dapat menjadi model integratif yang menghubungkan fungsi ekologis hutan dengan fungsi sosial, edukasi, serta penguatan ekonomi masyarakat.

Beri Dampak Ekonomi bagi Warga
<span;>Kehadiran ribuan peserta Muktamar dinilai dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi.

Pelaku UMKM, usaha kuliner, penyedia homestay, transportasi, produk pertanian, kerajinan hingga jasa ekowisata berpotensi memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut.

“Muktamar harus meninggalkan manfaat bagi masyarakat sekitar. Kehadiran peserta dalam skala besar harus memiliki social and economic impact yang terukur,” kata Munir.

Meski demikian, Munir mengingatkan pemanfaatan kawasan hutan untuk kegiatan berskala nasional tidak boleh mengabaikan aspek kelestarian lingkungan.

Menurutnya, penyelenggaraan harus disesuaikan dengan fungsi kawasan serta memperhitungkan kapasitas ekologis, keamanan, aksesibilitas dan infrastruktur pendukung.

Hutan sebagai Ruang Refleksi
Lebih jauh, Munir memandang hutan bukan hanya sebagai lokasi kegiatan, tetapi juga dapat menjadi ruang reflektif bagi warga NU dan peserta Muktamar.

Ekosistem hutan, menurut dia, merepresentasikan keteduhan, keseimbangan, keberagaman dan saling ketergantungan. Nilai-nilai tersebut dinilai memiliki relevansi dengan semangat keumatan yang dibawa NU.

Karena itu, gagasan tersebut ditawarkan sebagai paradigma baru dalam memaknai ruang permusyawaratan organisasi. Keputusan strategis organisasi diharapkan dapat lahir dalam suasana yang lebih terbuka, ekologis dan berorientasi pada kemaslahatan.

Dengan perencanaan berbasis daya dukung kawasan dan prinsip keberlanjutan, Muktamar juga dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi keumatan, konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi lokal.

“Hutan tidak hanya menjadi latar kegiatan, tetapi menjadi bagian dari pesan substantif bahwa keberlanjutan organisasi semestinya berjalan seiring dengan keberlanjutan alam dan kehidupan masyarakat,” ujar Munir.

Ia pun merangkum gagasannya dengan konsep Muktamar yang tidak hanya teduh secara tempat, tetapi juga dalam proses pengambilan keputusan.

“Muktamar yang teduh bukan sekadar teduh tempatnya, tetapi teduh cara berpikirnya; terbuka ruang dialognya, merdeka keputusannya, dan nyata kemanfaatannya bagi umat serta lingkungan,” pungkasnya.

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button