
BeritaNasional.id, SITUBONDO – Jejak kejayaan Pelabuhan Panarukan yang pernah menjadi salah satu simpul penting perdagangan di era kolonial kembali menyita perhatian. Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah tampak takjub saat mengunjungi kawasan pelabuhan lama di Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, Rabu (29/7/2026), usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) program Anyer–Panarukan 3R (Road, Route, Roots).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Serang dan Pemerintah Kabupaten Situbondo dalam menghidupkan kembali jalur historis Anyer–Panarukan yang memiliki nilai strategis dari sisi sejarah, pariwisata, hingga ekonomi.
Rombongan Bupati Serang disambut jajaran Forkopimcam Panarukan, Kepala KSOP, Posal Panarukan, serta Pemerintah Desa Kilensari. Setibanya di lokasi, rombongan langsung meninjau sisa-sisa bangunan lama yang menjadi saksi bisu kejayaan Pelabuhan Panarukan pada masa kolonial Belanda.
Pelabuhan Panarukan sendiri memiliki catatan panjang dalam sejarah Nusantara. Pada abad ke-19, kawasan ini dikenal sebagai titik akhir Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Dari pelabuhan inilah berbagai komoditas hasil bumi dari wilayah Jawa Timur dikirim ke berbagai penjuru, bahkan hingga pasar internasional.
Meski kini sebagian besar hanya menyisakan puing dan struktur tua yang dimakan usia, aura historis kawasan tersebut masih terasa kuat. Hal itu pula yang membuat Ratu Rachmatuzakiyah mengaku terkesan.
“Ini sangat indah dan penuh nilai sejarah. Kita bisa membayangkan bagaimana dulu Panarukan menjadi pelabuhan penting yang menghubungkan berbagai wilayah,” ujarnya di sela kunjungan.
Usai meninjau lokasi, rombongan menyempatkan diri bersantai di tepi pantai dengan latar pemandangan laut lepas dan Gunung Putri yang menjulang di kejauhan. Keindahan lanskap alam berpadu dengan nilai historis kawasan menjadikan Panarukan dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis sejarah.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan, keberadaan Pelabuhan Panarukan dan jalur Anyer–Panarukan merupakan aset besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Anyer dan Panarukan bukan sesuatu yang kecil, tetapi sesuatu yang besar. Ini ibarat berlian yang masih tertutup lumpur. Tugas kita adalah mengangkatnya kembali agar menjadi pengungkit kesejahteraan masyarakat,” kata Mas Rio, sapaan akrabnya.
Menurutnya, program Anyer–Panarukan 3R menjadi langkah strategis dalam menghidupkan kembali nilai historis tersebut. Konsep Road (jalan) menempatkan Jalan Raya Pos sebagai warisan sejarah yang harus dirawat, Route (rute) mengembangkan jalur tersebut menjadi koridor wisata lintas daerah, sementara Roots (akar) menggali kembali identitas budaya dan sejarah masyarakat di sepanjang jalur.
“Dari sisi branding daerah, ini sangat kuat. Hampir semua orang Indonesia mengenal Anyer–Panarukan. Ini peluang besar untuk menjadikan Situbondo sebagai destinasi wisata sejarah,” ujarnya.
Mas Rio menambahkan, kerja sama lintas daerah ini diharapkan tidak berhenti pada dua kabupaten saja. Pemerintah Kabupaten Situbondo membuka peluang bagi daerah lain yang dilalui jalur Jalan Raya Pos untuk ikut bergabung dalam jejaring Anyer–Panarukan 3R.
“Ke depan bisa berkembang menjadi kolaborasi besar, mulai dari misi dagang, kebudayaan, hingga promosi pariwisata,” katanya.
Sementara itu, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menegaskan bahwa MoU yang telah ditandatangani akan segera ditindaklanjuti melalui kerja sama konkret antarorganisasi perangkat daerah (OPD), seperti Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Koperasi dan Perdagangan, serta Dinas Komunikasi dan Informatika.
“Kami ingin kerja sama ini tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar diwujudkan dalam program nyata yang berdampak langsung pada masyarakat, meningkatkan pendapatan daerah, dan kesejahteraan warga,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, kedua daerah berencana menggelar Festival Anyer–Panarukan untuk memperkenalkan kembali jalur bersejarah tersebut kepada publik. Festival ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan identitas sejarah sekaligus penggerak ekonomi baru berbasis pariwisata.
Dengan perpaduan nilai sejarah Pelabuhan Panarukan, keindahan alam pesisir, serta kolaborasi lintas daerah, program Anyer–Panarukan 3R diyakini mampu menjadikan kawasan ini kembali bersinar—tak hanya sebagai saksi masa lalu, tetapi juga sebagai harapan masa depan bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.



