Dari Hulu ke Hilir, Perhorti Sulbar Menjahit Kedaulatan Pangan Berbasis Sains

BeritaNasional. ID POLMAN SULBAR–
Oleh: Dr. Hj. Mardjani Aliyah Abdul Naim, S.P., M.P.
Ketika perubahan iklim semakin sulit diprediksi, harga pangan mudah bergejolak, dan kebutuhan masyarakat terus meningkat, pertanian tidak lagi cukup dipandang sebatas aktivitas produksi. Pertanian harus ditempatkan sebagai fondasi ketahanan sosial, ekonomi, kesehatan, bahkan kedaulatan bangsa.
Di titik inilah sains pertanian menemukan relevansinya.
Ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang-ruang akademik, seminar, atau tumpukan laporan penelitian. Sains harus turun ke tanah, menyentuh kehidupan petani, menjawab persoalan produksi, memperpendek rantai pasok, menciptakan nilai tambah, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Gagasan inilah yang terus didorong Perhimpunan Hortikultura Indonesia (Perhorti) Komisariat Daerah Sulawesi Barat melalui pendekatan pertanian berbasis pemberdayaan masyarakat.
Bagi kami, membangun kedaulatan pangan bukan pekerjaan satu lembaga. Ia membutuhkan orkestrasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, petani, generasi muda, komunitas, dan masyarakat desa. Semua harus bergerak dalam satu ekosistem: dari hulu hingga hilir.
Ketahanan pangan sejati tidak dibangun dengan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah. Ia lahir dari kemampuan suatu wilayah mengelola sumber daya, teknologi, manusia, dan pasar yang dimilikinya secara berkelanjutan.
Dari Polman, Kita Bisa Memulai
Kabupaten Polewali Mandar memiliki modal agroekologi yang besar untuk dikembangkan menjadi salah satu sentra hortikultura unggulan di Sulawesi Barat.
Salah satu komoditas yang memiliki prospek besar adalah durian. Pada 2025, Perhorti Sulbar bersama Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Polewali Mandar turut mendorong pengembangan durian Monthong di tujuh kecamatan.
Program tersebut sesungguhnya bukan hanya tentang menanam durian.
Lebih jauh, ia adalah upaya membangun cara berpikir baru bahwa komoditas pertanian harus dikelola sebagai bagian dari sistem agribisnis. Mulai dari pemilihan varietas, kesesuaian lahan, teknologi budidaya, pemeliharaan, produktivitas, pascapanen, pengolahan, pemasaran hingga penciptaan merek dan pasar.
Jika dikelola secara konsisten, Polman tidak semestinya hanya menjadi daerah pemasok bahan pangan. Polman memiliki peluang untuk tumbuh sebagai daerah produsen hortikultura dengan produk unggulan yang memiliki daya saing nasional.
Di sinilah pentingnya keberanian untuk berpikir jangka panjang.
Petani tidak boleh terus ditempatkan hanya sebagai produsen bahan mentah. Mereka harus didorong menjadi bagian utama dari rantai nilai agribisnis.
Petani Muda Adalah Masa Depan Pertanian
Pertanian berkelanjutan juga membutuhkan wajah baru.
Kita membutuhkan generasi muda yang tidak sekadar mau turun ke sawah dan kebun, tetapi mampu membawa teknologi, manajemen, inovasi, jejaring pasar, serta keberanian mengambil risiko ke dalam dunia pertanian.
Sulawesi Barat memiliki anak-anak muda seperti itu.
Sudiarno, A.Md., melalui P4S Marenty Jaya di Desa Osango, Kabupaten Mamasa, menunjukkan bagaimana potensi dataran tinggi dapat dikembangkan melalui spesialisasi komoditas. Wortel, buncis, kubis, brokoli, bawang merah hingga semangka menjadi bagian dari upaya membangun basis produksi hortikultura yang sesuai dengan karakter agroekologi wilayah.
Di Kabupaten Mamuju, Muhammad Padli, S.Tp., melalui P4S Petani Peternak Muda Keren (PPMK), menunjukkan bahwa generasi muda dapat tampil sebagai pelaku agribisnis yang adaptif. Intensifikasi cabai di tengah ancaman anomali iklim menjadi bukti bahwa teknologi, keberanian dan manajemen risiko dapat berjalan bersama.
Penghargaan yang pernah diterimanya sebagai Duta Petani Milenial dari Kementerian Pertanian RI menjadi pesan penting bahwa bertani bukan pekerjaan kelas dua.
Justru sebaliknya.
Pertanian membutuhkan intelektual muda karena masa depan pangan membutuhkan ilmu pengetahuan.
Sementara itu, Syarifuddin, Ketua Kelompok Tani Bumi Harapan sekaligus Kontak Tani Andalan Sulbar di Majene, menunjukkan bahwa keterbatasan alam tidak harus menjadi alasan untuk berhenti berinovasi.
Di tengah tantangan iklim, ia mengembangkan cabai dan bawang merah sekaligus melakukan diversifikasi tanaman tahunan seperti pisang, mangga dan kelapa.
Yang lebih menarik, produksi tersebut tidak berhenti di kebun. Melalui UMKM Bumi Harapan, hasil pertanian diolah menjadi produk bernilai tambah seperti bawang goreng dan olahan cabai.
Inilah wajah pertanian yang sesungguhnya kita butuhkan: dari tanah menuju produk, dari produksi menuju nilai tambah, dan dari petani menuju pelaku usaha.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Rumah
Kedaulatan pangan juga tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas.
Pekarangan rumah, lahan tidur, dan ruang domestik yang selama ini tidak produktif dapat menjadi bagian dari solusi.
Karena itu, Perhorti Sulbar mendorong edukasi mengenai pupuk organik cair (POC), kompos, pemanfaatan limbah rumah tangga dan limbah pertanian, serta pengembangan Pekarangan Pangan Lestari (P2L).
Kelompok Wanita Tani dan ibu-ibu PKK memiliki posisi strategis dalam gerakan ini.
Di Kabupaten Polewali Mandar, edukasi tersebut dilakukan di sejumlah titik, antara lain Desa Kunyi Kecamatan Anreapi, Desa Padang Timur Kecamatan Campalagian, Kelurahan Takatidung serta wilayah penyangga lainnya. Di Kabupaten Majene, gerakan serupa dilakukan di Kelurahan Lutang dan Kelurahan Salabulo.
Pendekatan tersebut bukan semata-mata soal membuat pupuk organik.
Lebih dari itu, kita sedang membangun kesadaran bahwa limbah dapat dikembalikan menjadi sumber daya. Sisa bahan organik dapat diolah menjadi input pertanian. Pekarangan dapat menghasilkan pangan. Dan masyarakat dapat mengurangi ketergantungan terhadap input dari luar.
Inilah prinsip ekonomi sirkular yang sederhana tetapi sangat relevan dengan kehidupan masyarakat desa.
MBG Tidak Boleh Hanya Dipandang sebagai Program Konsumsi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang besar bagi daerah untuk membangun ekosistem pangan lokal.
Namun, kita harus melihat MBG lebih jauh dari sekadar bagaimana makanan sampai ke meja makan anak-anak sekolah.
MBG seharusnya dapat menjadi pasar yang mendorong tumbuhnya produksi petani lokal.
Sayuran, buah-buahan, telur, ikan, dan berbagai sumber pangan bergizi lainnya seharusnya sedapat mungkin dapat dipasok melalui ekosistem produksi lokal yang memenuhi standar kualitas, keamanan pangan, kontinuitas, dan harga yang wajar.
Dengan begitu, uang yang berputar melalui program pangan tidak sekadar menjadi belanja konsumsi, tetapi ikut menggerakkan ekonomi petani, UMKM, koperasi, dan pelaku usaha lokal.
Inilah yang saya maksud sebagai sinergi hulu-hilir.
Petani memproduksi. Teknologi meningkatkan produktivitas. Pemerintah membangun regulasi dan infrastruktur. Dunia usaha mengembangkan pasar. Masyarakat menjadi bagian dari ekosistem konsumsi. Dan lembaga pendidikan menyediakan inovasi.
Jika semua terhubung, maka program pangan nasional dapat sekaligus menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi daerah.
Dari Ketahanan Menuju Kedaulatan
Kita perlu membedakan antara ketahanan pangan dan kedaulatan pangan.
Ketahanan pangan berbicara tentang kemampuan menyediakan pangan yang cukup dan aman. Sementara kedaulatan pangan menuntut kemampuan menentukan bagaimana pangan diproduksi, siapa yang memproduksi, teknologi apa yang digunakan, bagaimana rantai pasok dibangun, serta bagaimana nilai ekonomi dari pangan tersebut kembali kepada masyarakat.
Karena itu, kedaulatan pangan tidak mungkin lahir secara instan.
Ia harus ditanam.
Ditanam melalui pendidikan petani.
Ditanam melalui riset.
Ditanam melalui regenerasi petani muda.
Ditanam melalui penguatan kelembagaan.
Ditanam melalui diversifikasi komoditas.
.Ditanam melalui hilirisasi.
Dan ditanam melalui keberanian untuk mengubah pola pikir bahwa pertanian adalah sektor tradisional menjadi pertanian sebagai industri berbasis ilmu pengetahuan.
Sulawesi Barat memiliki semua modal awal untuk itu: lahan, agroekologi, komoditas, sumber daya manusia, serta generasi muda yang mulai berani kembali ke sektor pertanian.
Yang kita perlukan adalah konsistensi.
Menanam Masa Depan dari Sulawesi Barat Perhorti Sulbar percaya bahwa pembangunan pertanian tidak boleh berjalan parsial.
Hulu tanpa hilir akan membuat petani terus bergantung pada pasar bahan mentah. Hilir tanpa hulu akan membuat industri kekurangan bahan baku. Sains tanpa implementasi hanya akan menjadi pengetahuan yang tersimpan di ruang akademik. Sementara program pemerintah tanpa penguatan ekosistem lokal berisiko kehilangan daya ungkit ekonominya.
Karena itu, sinergi adalah kata kuncinya. Sinergi antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal. Sinergi antara pemerintah dan petani. Sinergi antara generasi senior dan petani milenial. Sinergi antara produksi pangan dan industri pengolahan. Serta sinergi antara kebutuhan pangan masyarakat dan potensi produksi daerah.
Dari Sulawesi Barat, kita ingin membuktikan bahwa kedaulatan pangan bukan utopia.
Ia dapat dimulai dari kebun kecil, pekarangan rumah, kelompok tani, P4S, UMKM, desa, hingga sentra produksi berskala kawasan.
Yang terpenting adalah kemauan untuk bergerak bersama.
Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membeli pangan, tetapi bangsa yang mampu memproduksi, mengolah, menjaga, dan menentukan masa depan pangannya sendiri.
Bunga soka mekar berseri,Tumbuh subur di taman kota;Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia,Sains hortikultura meneguhkan kedaulatan bangsa.
Indah nian tenunan sutra,Bawang digoreng harum terasa;Petani milenial bergerak bersama,Pangan berdaulat, Indonesia jaya.



