LLDIKTI XV Kawal Pemulihan Bencana Flores

BeritaNasional.ID, KUPANG – Solidaritas keluarga besar pendidikan tinggi untuk masyarakat terdampak bencana Flores terus menguat. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV mencatat, hingga Senin, 14 September 2026, dana yang berhasil dihimpun melalui Posko LLDIKTI XV Peduli Bencana Flores mencapai Rp160.922.091.
Dana tersebut merupakan hasil gotong royong berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, organisasi, dunia usaha, mitra, hingga masyarakat umum.
Posko tersebut diinisiasi LLDIKTI Wilayah XV sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya mengonsolidasikan gerakan pendidikan tinggi dalam mendukung penanganan dan pemulihan masyarakat yang terdampak bencana Flores pada 15 Agustus 2026.
Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, S.T., M.Eng., mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk hadir di tengah masyarakat ketika terjadi situasi sulit, termasuk bencana.
Menurutnya, kekuatan perguruan tinggi tidak hanya terletak pada kemampuan menghimpun bantuan material, tetapi juga pada sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, tenaga ahli, dosen, mahasiswa, dan jejaring kelembagaan yang dapat dikerahkan untuk membantu masyarakat.
“Pemulihan Flores adalah tanggung jawab kita bersama. Perguruan tinggi tidak boleh berjarak dengan masyarakat, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit. Kita hadir dengan kepedulian, ilmu pengetahuan, sumber daya manusia, dan semangat gotong royong,” tegas Prof. Amheka dalam jumpa pers pada Selasa 15 September 2026.
Sejak bencana terjadi, LLDIKTI Wilayah XV bersama perguruan tinggi di NTT terus melakukan koordinasi untuk memperkuat respons kemanusiaan sekaligus memastikan keberlanjutan pendidikan mahasiswa terdampak.
Pada Senin, 24 Agustus 2026, LLDIKTI Wilayah XV telah menyerahkan bantuan kepada BPBD Provinsi NTT berupa sembako dan berbagai kebutuhan dasar masyarakat.
Penyaluran melalui BPBD dilakukan agar bantuan dapat dikoordinasikan dengan pemerintah daerah dan disalurkan berdasarkan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
Adrianus menjelaskan, hingga kini kebutuhan di lapangan masih terus dipetakan. Sejumlah kebutuhan yang menjadi perhatian antara lain air bersih, listrik, layanan kesehatan, sanitasi, logistik, pembangunan kembali rumah warga, serta dukungan psikologis dan trauma healing.
Karena itu, LLDIKTI XV mendorong seluruh pihak agar bantuan yang diberikan berbasis data, sesuai kebutuhan nyata masyarakat, terkoordinasi, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Respons pendidikan tinggi terhadap bencana Flores juga mendapat penguatan langsung dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Manggarai pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Mendiktisaintek meninjau kondisi masyarakat terdampak dan mengonsolidasikan langkah penanganan bersama pemerintah daerah, BNPB, LLDIKTI Wilayah XV, pimpinan perguruan tinggi, dosen, dan mahasiswa.
Kegiatan berlangsung di Posko Lapangan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.
Kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi antara pemerintah, perguruan tinggi dan berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan bencana.
Selain kebutuhan masyarakat, keberlanjutan pendidikan mahasiswa terdampak menjadi perhatian serius pemerintah.
Kemdiktisaintek menyiapkan kebijakan pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama satu semester bagi mahasiswa yang terdampak bencana.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk sekitar 5.000 mahasiswa terdampak bencana di NTT. Dukungan juga mencakup mahasiswa asal NTT yang sedang menempuh pendidikan di luar wilayah terdampak.
LLDIKTI XV bersama Kemdiktisaintek dan perguruan tinggi kini terus melakukan pemutakhiran data untuk memastikan kebijakan tersebut tepat sasaran.
“Bencana tidak boleh menjadi alasan terhentinya masa depan pendidikan mahasiswa,” menjadi salah satu prinsip yang dikawal dalam kebijakan tersebut.
Pendataan mencakup mahasiswa yang berada di wilayah terdampak maupun mahasiswa asal Flores yang sedang menempuh pendidikan di daerah lain, termasuk di luar NTT.
Sejumlah perguruan tinggi di NTT telah bergerak memberikan dukungan sesuai kapasitas dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Perguruan tinggi tersebut antara lain Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, Universitas Muhammadiyah Maumere, Politeknik Cristo Re Maumere, Universitas Flores, Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Bajawa, STIKes Citra Bakti Bajawa, Institut Nasional Flores, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, dan Politeknik ElBajo Commodus.
Bentuk dukungan yang diberikan beragam. Mulai dari bantuan logistik, layanan kesehatan, asesmen kebutuhan masyarakat, dukungan psikologis, trauma healing, penyediaan air bersih dan sanitasi, hingga pendampingan serta pemberdayaan masyarakat.
Menurut Prof. Amheka, keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam setiap fase penanganan bencana, tidak hanya pada masa tanggap darurat tetapi juga pada tahap pemulihan.
Dukungan terhadap masyarakat terdampak bencana Flores juga datang dari berbagai perguruan tinggi di luar NTT.
Sejumlah perguruan tinggi yang memberikan dukungan antara lain Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Mataram (Unram), Universitas Negeri Surabaya, Universitas Udayana, Universitas Sebelas Maret, dan Universitas Negeri Semarang.
Dukungan juga datang dari berbagai lembaga dan pihak lainnya, termasuk perguruan tinggi swasta, yayasan, organisasi, Dharma Wanita Persatuan, dunia usaha, mitra, serta masyarakat secara perorangan.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.
Dibutuhkan kerja bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, BNPB, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat, mahasiswa, alumni dan seluruh elemen masyarakat.
Kemdiktisaintek juga menyiapkan Aksara Mahasiswa (Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa) sebagai bagian dari Program Mahasiswa Berdampak.
Program tersebut dirancang agar mahasiswa tidak hanya hadir memberikan bantuan ketika bencana terjadi, tetapi juga mengambil bagian dalam proses pemulihan masyarakat secara berkelanjutan.
Konsolidasi program melibatkan pemerintah daerah, BNPB, LLDIKTI Wilayah XV, pimpinan perguruan tinggi, dosen pendamping, mahasiswa, serta perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dan dosen dapat berkontribusi berdasarkan bidang keahlian masing-masing, seperti kesehatan, psikologi, teknik, pendidikan, kebencanaan, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat membantu masyarakat melewati masa tanggap darurat sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat untuk bangkit dan membangun kembali kehidupannya.
LLDIKTI XV saat ini masih melakukan pendataan mahasiswa dan perguruan tinggi yang terdampak bencana.
Data tersebut diperlukan untuk memetakan kondisi mahasiswa, menentukan kebutuhan bantuan, serta memastikan berbagai kebijakan pemerintah dapat diberikan kepada pihak yang memenuhi ketentuan.
Adrianus mengatakan, pendataan juga menjadi dasar dalam menentukan bentuk intervensi pendidikan bagi mahasiswa terdampak, termasuk mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu dan mahasiswa penerima berbagai skema bantuan pendidikan.
Di sisi lain, LLDIKTI XV terus memastikan akses mahasiswa terhadap proses pembelajaran dan pelaksanaan tridarma perguruan tinggi tetap berjalan meskipun berada dalam situasi pascabencana.
LLDIKTI XV menegaskan bahwa respons terhadap bencana Flores tidak boleh berhenti setelah bantuan logistik tersalurkan.
Kebutuhan masyarakat dalam proses pemulihan jauh lebih panjang, mulai dari pemulihan rumah warga, infrastruktur dasar, layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, pemulihan psikologis, hingga keberlanjutan pendidikan.
Karena itu, sinergi antara Kemdiktisaintek, LLDIKTI Wilayah XV, pemerintah daerah, BNPB, perguruan tinggi, mahasiswa, dunia usaha, mitra, dan masyarakat akan terus diperkuat.
Bagi LLDIKTI XV, pendidikan tinggi memiliki posisi penting untuk menjembatani bantuan kemanusiaan dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan kepakaran.
“Penanganan bencana membutuhkan kerja cepat, tetapi pemulihan membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kolaborasi jangka panjang,” demikian semangat yang terus dikawal LLDIKTI Wilayah XV.*
(Alberto)



