
BeritaNasional.id, SITUBONDO — Desa Olean, Kecamatan Situbondo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, kembali menjadi pusat perhatian pada Minggu malam (28/6/2026). Ribuan warga tumpah ruah dalam perayaan Festival Budaya Tajin Sora dan Tosan Aji ke-10, sebuah tradisi tahunan yang sarat makna spiritual dan kearifan lokal.
Festival yang telah berlangsung selama satu dekade ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga menjadi momentum penyucian diri menjelang Tahun Baru Islam. Selain itu, tradisi ini berfungsi sebagai upaya merawat dan melestarikan pusaka leluhur yang diwariskan turun-temurun.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Kepala Desa Olean, Dewan Kesenian Situbondo, Forkopimcam, anggota DPRD Situbondo, hingga seluruh warga desa. Kebersamaan ini mencerminkan kuatnya semangat gotong royong yang masih terjaga di tengah arus modernisasi.

Acara dimulai selepas matahari terbenam dengan sambutan Kepala Desa Olean, Ansori. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa festival ini digelar sebagai upaya mempertahankan nilai-nilai budaya leluhur sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
“Tradisi Tajin Sora ini bukan inovasi baru, melainkan warisan para sesepuh yang wajib kita jaga. Jangan sampai generasi muda melupakan akar budaya mereka,” ujar Ansori.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pengajian sebagai bentuk refleksi spiritual masyarakat. Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi Tosan Aji atau pemandian pusaka, sebuah ritual sakral yang melambangkan pembersihan diri dan penyucian jiwa dalam menyambut tahun baru Islam.
Keunikan festival ini terletak pada sajian Tajin Sora, bubur tradisional yang dibuat secara mandiri oleh setiap warga. Pada malam puncak acara, ribuan porsi tajin terkumpul dan dinikmati bersama, menciptakan suasana hangat penuh kebersamaan.
Meski digelar dengan keterbatasan anggaran, semangat masyarakat tidak surut. Ansori mengakui bahwa keterbatasan dana menjadi tantangan, namun tidak menghalangi pelaksanaan festival.
“Walaupun sederhana, kami tetap berupaya membuat acara ini semeriah mungkin,” katanya.
Sementara itu, anggota Komisi I DPRD Situbondo, Drs. H. Syaifullah, M.M., mengapresiasi komitmen masyarakat dalam menjaga tradisi. Ia bahkan berkomitmen untuk mendukung pengembangan festival agar masuk dalam kalender event resmi kabupaten.
“Festival ini bukan sekadar makan bersama, tetapi mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial. Ini satu-satunya di Situbondo,” ujarnya.
Ia juga mendorong adanya inovasi dalam penyajian Tajin Sora agar lebih menarik dan berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya, bahkan bagi masyarakat luar daerah.
Festival Tajin Sora dan Tosan Aji di Desa Olean menjadi bukti bahwa tradisi lokal mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. Lebih dari sekadar perayaan, kegiatan ini memperkuat identitas budaya sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
Dengan semangat kebersamaan, warga Desa Olean berharap tradisi ini terus lestari dan semakin dikenal luas, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional.



