LLDIKTI XV dan Kampus Bersatu, Bangun NTT dari Desa

BeritaNasional.ID, KUPANG – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi antarperguruan tinggi melalui kegiatan berbasis riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak nyata.
Komitmen ini diwujudkan melalui Forum Sinergi LLDIKTI XV Berdampak yang mengangkat tema “Evaluasi GENTASKIN dan Konsolidasi KPT Kosabangsa”, digelar pada Senin, 10 November 2025 di Aston Kupang Hotel.
Forum ini menjadi ruang strategis bagi pimpinan perguruan tinggi, kepala LPPM, dan tim KPT Kosabangsa untuk mengevaluasi capaian Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Gerakan Tuntas Stunting dan Kemiskinan (GENTASKIN) serta memperkuat komitmen kolaborasi dalam wadah Konsorsium Perguruan Tinggi Kolaborasi Sosial Membangun Bangsa (KPT Kosabangsa).
Kegiatan ini tak sekadar menjadi ajang diskusi, tetapi juga momentum penyusunan dan penandatanganan Komitmen Bersama KPT Kosabangsa, sekaligus merumuskan strategi serta instrumen pengukuran dampak program dalam mendukung pengentasan kemiskinan ekstrem dan penurunan stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Adrianus Amheka, menegaskan bahwa forum ini menjadi langkah penting untuk memperkuat kiprah perguruan tinggi agar benar-benar berdampak bagi pembangunan daerah.
“Kami berharap ke depan, GENTASKIN bisa menjangkau lebih banyak wilayah. LLDIKTI XV akan terus mengonsolidasikan pelaksanaannya bersama pemerintah daerah, karena penentuan lokus KKN sangat bergantung pada kebutuhan dan arah kebijakan pemda,” ujarnya.
Prof. Amheka juga menyampaikan bahwa LLDIKTI XV dan seluruh perguruan tinggi di wilayah kerjanya berkomitmen untuk melakukan aksi nyata, terencana, dan berkelanjutan dengan melibatkan berbagai sumber daya agar lembaga pendidikan tinggi tidak hanya menjadi menara gading, tetapi juga motor penggerak pembangunan NTT.
“Kami ingin memastikan bahwa mahasiswa, dosen, dan seluruh elemen perguruan tinggi mampu menjadi agen perubahan yang membawa solusi konkret di tengah masyarakat,” jelasnya.
Apresiasi terhadap pelaksanaan program GENTASKIN juga datang dari Wakil Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Dominikus Rangga Kaka, yang hadir dalam forum tersebut.
Menurutnya, program KKN Tematik GENTASKIN yang diinisiasi oleh LLDIKTI XV sangat membantu pemerintah daerah dalam menangani dua isu utama, yakni stunting dan kemiskinan ekstrem, yang masih menjadi tantangan besar di SBD.
“Kehadiran mahasiswa melalui KKN GENTASKIN sangat membantu kami dalam mencapai target RPJMD, khususnya pada sektor penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem,” ujar Domi Rangga Kaka.
Ia menjelaskan, kehadiran mahasiswa di lapangan telah memberikan dampak signifikan terhadap pemberdayaan masyarakat di berbagai sektor — mulai dari pendidikan, pertanian, peternakan, hingga kesehatan.
“Saya yakin, apabila pemerintah daerah dan lembaga pendidikan berkolaborasi secara berkelanjutan, maka visi menuju Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Domi juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada mahasiswa dan dosen pembimbing yang telah bekerja keras di lapangan meski menghadapi tantangan alam dan cuaca ekstrem di Sumba Barat Daya.
“Dengan kondisi topografi dan cuaca yang sulit, semangat para mahasiswa luar biasa. Mereka turun langsung ke desa, hidup bersama masyarakat, dan benar-benar membawa perubahan,” ungkapnya.
TTS Juga Rasakan Manfaat GENTASKIN
Tak hanya Sumba Barat Daya, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) juga merasakan manfaat besar dari pelaksanaan program GENTASKIN.
Asisten I Setda Kabupaten TTS, Denny Nubatonis, menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat terhadap program ini sangat tinggi.
Bahkan, setelah pelaksanaan KKN di tiga desa, banyak kepala desa lain yang meminta agar wilayah mereka dijadikan lokasi GENTASKIN berikutnya.
“Kemarin di TTS ada tiga desa lokasi KKN GENTASKIN. Setelah selesai, kami didatangi kepala-kepala desa lain yang ingin agar desanya menjadi lokasi selanjutnya. Itu artinya, masyarakat merasakan langsung manfaat dari program ini,” ujarnya.
Program KKN Tematik GENTASKIN 2025 dilaksanakan selama dua bulan, dimulai sejak Agustus 2025, dan difokuskan di tiga kabupaten prioritas, yaitu Timor Tengah Selatan (TTS), Sumba Barat Daya (SBD), dan Manggarai Timur (Matim).
Ketiga kabupaten ini dipilih karena memiliki angka stunting dan kemiskinan ekstrem tertinggi di NTT.
Program tersebut melibatkan 15 perguruan tinggi negeri dan swasta di bawah koordinasi LLDIKTI XV.
Mahasiswa yang terjun ke lapangan mengimplementasikan pendekatan edukatif, partisipatif, dan berbasis kebutuhan lokal.
Mereka tidak hanya memberikan edukasi tentang gizi dan kesehatan, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam mengelola pertanian berkelanjutan, memperkuat ekonomi keluarga, dan mendorong pola hidup sehat berbasis potensi lokal.
Selain evaluasi GENTASKIN, forum ini juga membahas konsolidasi Konsorsium Perguruan Tinggi Kolaborasi Sosial Membangun Bangsa (KPT Kosabangsa) — wadah sinergi nasional antara perguruan tinggi untuk melaksanakan riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak sosial dan ekonomi.*
Alberto/Bernas



