NTT Bangun Sistem Data Terpadu untuk Intervensi Tepat Sasaran

BeritaNasional.ID, KUPANG – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus memperkuat langkah kolaboratif dalam upaya penghapusan kemiskinan ekstrem dan penurunan risiko stunting.
Hal ini ditandai dengan penyelenggaraan kegiatan Koordinasi dan Kolaborasi Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, dan Lintas Sektor yang digelar di Hotel Aston Kupang, Senin (27/10/2025) pagi.
Kegiatan tersebut dihadiri sebanyak 149 peserta yang berasal dari berbagai unsur, antara lain perwakilan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, sektor swasta, serta organisasi masyarakat sipil.
Forum ini menjadi wadah penting dalam menyatukan langkah lintas sektor untuk memastikan percepatan penurunan angka kemiskinan ekstrem dan stunting di Provinsi NTT berjalan efektif dan berkesinambungan.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BKKBN atas dukungan nyata dalam membantu pemerintah daerah mempercepat penanganan dua persoalan mendasar tersebut.
Ia mengakui bahwa meskipun angka kemiskinan dan stunting di NTT telah menunjukkan tren penurunan, capaian tersebut belum signifikan dan belum sepenuhnya memuaskan.
Menurut Gubernur, kondisi ini menjadi dorongan agar seluruh pemangku kepentingan terus bekerja lebih keras dan lebih terarah.
“Memang benar angka kemiskinan dan stunting di NTT telah menurun, namun penurunan tersebut belum bermakna dan belum memuaskan kita semua. Artinya, kerja keras kita masih harus ditingkatkan,” tegasnya.
Gubernur Melki juga menekankan pentingnya dukungan Pemerintah Pusat agar seluruh bentuk intervensi dapat berjalan secara optimal, terutama dalam hal penyediaan pangan bergizi bagi ibu dan anak, akses air bersih, pelayanan kesehatan yang memadai, serta fasilitas sanitasi yang layak.
Ia menilai bahwa keberhasilan penghapusan kemiskinan ekstrem dan penurunan stunting tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh semangat gotong royong lintas sektor yang menjadi jiwa dari gerakan “Ayo Bangun NTT.”
Menurutnya, BKKBN berperan sebagai motor penggerak utama dalam membangun sinergi kolaboratif antarinstansi dan lembaga.
Gubernur menegaskan bahwa kemiskinan ekstrem dan stunting memiliki hubungan yang erat, di mana tingginya angka kemiskinan berbanding lurus dengan meningkatnya kasus stunting.
Namun, dengan kolaborasi yang kuat, kerja bersama yang terarah, serta pengelolaan program berbasis data yang akurat, keduanya dapat ditekan secara signifikan.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menyoroti pentingnya perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi program yang lebih terukur dan berbasis data.
Ia menilai salah satu tantangan terbesar yang dihadapi di lapangan adalah ketidaksinkronan data antarinstansi.
Oleh karena itu, pemerintah provinsi bersama perguruan tinggi tengah membangun sistem pendataan terpadu berbasis real-time dengan metodologi dan alat ukur yang seragam.
Gubernur Melki berharap, langkah ini menjadi fondasi penting agar semua pihak memiliki satu basis data yang sama dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan intervensi.
Ia menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi NTT kini juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, lembaga swadaya masyarakat, NGO, BUMN, BUMD, serta sejumlah negara sahabat yang menunjukkan komitmen untuk berkontribusi dalam penanganan kemiskinan dan stunting di wilayah NTT.
Gubernur Melki menegaskan bahwa pondasi utama dari kolaborasi lintas sektor tersebut adalah data yang akurat, agar setiap program yang dijalankan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Lebih jauh, Gubernur menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT tengah memperkuat berbagai program prioritas seperti Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) yang melibatkan banyak pihak untuk mendampingi keluarga berisiko stunting selama seribu hari pertama kehidupan, penguatan kelembagaan posyandu melalui pelatihan bagi ribuan kader dengan kompetensi penanganan stunting, serta program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) yang mengintegrasikan layanan Posyandu, PAUD, dan TPA secara holistik.
Selain itu, terdapat Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang mendorong peran aktif ayah dalam pengasuhan anak dan program Lansia Berdaya (SIDAYA) yang memberdayakan komunitas lansia melalui Posyandu Lansia.
“Dengan semangat gotong royong dan data yang akurat, saya yakin NTT mampu menurunkan angka kemiskinan ekstrem dan stunting secara bermakna. Mari kita bergerak bersama, satu visi, satu data, satu semangat Ayo Bangun NTT!” seru Gubernur Melki.
Sementara itu, Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat BKKBN, Sukaryo Teguh Santoso, dalam arahannya menegaskan bahwa sasaran utama dari seluruh intervensi adalah keluarga, terutama ibu hamil, balita, dan calon pengantin.
Ia menyebut, Posyandu memiliki peran vital melalui tim pendamping keluarga yang bertugas memberikan edukasi kepada masyarakat, menyiapkan data yang akurat, serta memfasilitasi berbagai layanan kesehatan dasar.
Teguh juga menjelaskan bahwa kegiatan di NTT ini merupakan bagian dari agenda nasional BKKBN untuk memastikan seluruh komitmen, koordinasi, dan rencana aksi yang telah disepakati bersama dapat berjalan efektif.
Ia menegaskan bahwa dalam lima tahun ke depan, pemerintah menargetkan penghapusan kemiskinan ekstrem dapat terwujud.
“Pertemuan hari ini menjadi momentum penting untuk memastikan seluruh komitmen berjalan dan rencana aksi disepakati bersama. Kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan setiap keluarga Indonesia hidup layak, sehat, dan bebas dari stunting,” ujar Teguh.*
Alberto



