Puluhan Titik di Kota Probolinggo Tergenang, Wakil Ketua DPRD Soroti Drainase dan Infrastruktur Sungai

BeritaNasional.ID, PROBOLINGGO, JATIM – Curah hujan tinggi yang mengguyur Kota Probolinggo pada Sabtu (17/1/2026) menyebabkan banjir genangan di puluhan titik dan menimbulkan kerusakan infrastruktur. Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Wakil Ketua II DPRD Kota Probolinggo, Santi Wilujeng, yang menilai sistem drainase dan saluran air di kota setempat perlu dibenahi secara menyeluruh.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo, tercatat sedikitnya 22 titik genangan air yang tersebar di sejumlah kecamatan, meliputi Kanigaran, Mayangan, Wonoasih, dan Kedopok. Selain genangan, hujan deras juga mengakibatkan satu pohon tumbang di Jalan KH Genggong serta ambrolnya plengsengan sungai sepanjang sekitar 10 meter di Jalan Kiai Fadhol.
Kasi Logistik dan Kedaruratan BPBD Kota Probolinggo, Yudha Arisandy, menyampaikan bahwa puluhan rumah warga terdampak banjir. “Lokasi terparah berada di Jalan KH Genggong Gang Sukun dengan 25 rumah terdampak, serta di Jalan Mangga, Kelurahan Sumberwetan, dengan 14 rumah tergenang,” ujar Yudha melalui pesan singkat, Senin (19/1/2026).
Ia menambahkan, BPBD masih terus melakukan pemantauan dan upaya penanganan, termasuk penyedotan air di sejumlah titik yang hingga kini belum sepenuhnya surut, salah satunya di kawasan Jalan Bogowonto.
Banjir genangan tersebut turut mendapat perhatian Wakil Ketua II DPRD Kota Probolinggo, Santi Wilujeng. Sejak Minggu (18/1/2026), Santi turun langsung meninjau sejumlah wilayah terdampak, termasuk Kelurahan Kareng Lor.
Menurutnya, berdasarkan hasil peninjauan di lapangan, banjir di Kareng Lor disebabkan oleh jebolnya plengsengan sungai yang tidak mampu menampung debit air yang tinggi. Kondisi tersebut diperparah oleh pendangkalan sungai dan tumpukan sampah yang menghambat aliran air.
“Saya melihat langsung di Kareng Lor, plengsengannya jebol karena tidak kuat menampung debit air. Ditambah lagi kebiasaan membuang sampah sembarangan yang memperparah aliran air,” ujar Santi saat ditemui, Senin (19/1/2026) pagi.
Selain itu, Santi juga menyoroti pengaduan warga di wilayah lain terkait proyek pembangunan drainase yang bermuara ke sungai besar Gladak Serang. Menurut warga, drainase tersebut dinilai kurang efektif karena saat debit air sungai meningkat, air justru berbalik masuk ke permukiman.
“Warga bahkan menyebut proyek tersebut gagal karena air masuk ke rumah. Saya sudah turun bersama Dinas PU untuk melakukan survei dan mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya.
Di Kareng Lor, lanjut Santi, genangan air bahkan tidak surut hingga dua hari. Ia mendorong Dinas Pekerjaan Umum (PU) segera melakukan normalisasi sungai, termasuk pengerukan sedimen.
“Sekitar tujuh tahun wilayah ini aman dari banjir setelah dilakukan pengerukan. Sekarang banjir kembali terjadi, artinya perlu pengerukan ulang. Bahkan jembatan di bawah aspal mungkin perlu ditinggikan agar aliran air lebih lancar,” jelas politisi PDI Perjuangan tersebut.
Tak hanya soal infrastruktur, Santi juga menekankan pentingnya pengelolaan sampah. Ia mengusulkan penambahan titik penampungan sampah sementara serta optimalisasi armada pengangkut sampah guna mencegah warga membuang sampah ke sungai.
“Warga mengeluhkan lokasi pembuangan sampah yang terlalu jauh ke TPA Bestari. Program tossa harus dimaksimalkan supaya sampah tidak lagi dibuang ke sungai,” pungkasnya.
(Yul/Bernas)



