Workshop “How to Survive at Crisis Time”: Saat Sulap, NLP, dan “Jalan di Atas Beling” Mengajarkan Seni Menembus Batas

BeritaNasional.ID, JAKARTA – Sebanyak 17 orang yang terdiri dari 15 peserta dan dua panitia mengikuti Workshop How to Survive at Crisis Time yang digelar di Hotel Kimaya Slipi, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Workshop yang untuk pertama kalinya dibuka untuk umum ini menghadirkan kolaborasi Bahtiar Nugraha, seorang praktisi NLP (Neuro-Linguistic Programming), dengan Mbah Dragon.
Kegiatan tersebut dirancang bukan sekadar sebagai seminar motivasi, tetapi sebagai ruang belajar untuk membangun resilient mentality, kreativitas, keberanian melakukan terobosan, serta kemampuan berpikir out of the box dalam menghadapi situasi krisis.
Kolaborasi tersebut bermula dari komunikasi yang terkesan spontan. Saat itu Mbah Dragon sedang berada di Kupang untuk pelayanan ketika dihubungi Bahtiar Nugraha untuk berbagi pengalaman dan ilmu yang selama ini digunakan dalam membenahi perusahaan.
Bahtiar kemudian mengajak Mbah Dragon berkolaborasi dalam sebuah workshop. Mbah Dragon menjelaskan bahwa jika yang diberikan adalah materi Magic Marketing, dibutuhkan waktu sedikitnya dua hari.
Namun, karena kegiatan hanya berlangsung satu hari, materi kemudian difokuskan pada Break the Limit, yakni eksplorasi kreativitas dan pola berpikir di luar kebiasaan, yang dipadukan dengan resilience mentality dari perspektif NLP.
Workshop kemudian ditutup dengan praktik Walk on Glass atau berjalan di atas pecahan kaca sebagai bagian dari pembelajaran untuk menghadapi rasa takut dan mental block.
Sesi awal workshop dibawakan Bahtiar Nugraha dengan materi tentang resilience dan anchoring. Peserta diajak memahami pentingnya kesiapan mental menghadapi perubahan dan tekanan, serta bagaimana membangun kebiasaan berpikir positif agar mampu bangkit kembali ketika menghadapi kegagalan.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah perjalanan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Kisah tersebut digunakan sebagai ilustrasi bahwa kegagalan pada satu tahap tidak harus menjadi akhir perjalanan seseorang.
Peserta diajak melihat kegagalan sebagai pengalaman yang dapat menjadi bahan pembelajaran untuk terus berlatih dan memperbaiki diri.
Setelah sesi tersebut, kegiatan dilanjutkan Mbah Dragon hingga sore menjelang malam.
Seperti menjadi ciri khasnya, Mbah Dragon membuka sesi dengan permainan sulap.
Salah satunya menggunakan teh botol yang secara visual berubah menjadi bening. Ia juga memperlihatkan air yang tidak tumpah ketika botol dibalik, kemudian membuktikan adanya lubang pada bagian mulut botol melalui tusuk gigi yang dapat bergerak ke atas.
Permainan tersebut tidak berhenti sebagai hiburan.
Mbah Dragon menggunakannya sebagai analogi bahwa pikiran manusia perlu terlebih dahulu “dijernihkan” dari berbagai prasangka dan pola pikir lama agar dapat menerima pengetahuan baru.
Peserta kemudian diajak memahami konsep Mind Power melalui permainan membengkokkan sendok. Pesan yang disampaikan adalah pentingnya menjaga pikiran dan memilih asupan informasi secara positif karena pola pikir dapat memengaruhi cara seseorang melihat dan menghadapi kehidupannya.
Diajak Berani “Berpikir Gila”
Materi kemudian masuk pada konsep Adversity Quotient dan perubahan perilaku manusia.
Peserta diperkenalkan pada gambaran kurva yang membagi manusia berdasarkan tingkat perubahan yang dilakukan dalam kehidupannya. Sebagian besar berada pada kelompok yang melakukan perubahan biasa-biasa saja, sementara sebagian lainnya melakukan perubahan yang jauh lebih besar.
Mbah Dragon kemudian mengajukan pertanyaan kepada peserta:
“Anda berada di mana? Di kelompok tengah atau kelompok yang berani melakukan perubahan luar biasa?”
Peserta juga diajak mempertanyakan kesediaan mereka untuk dianggap “gila” ketika memilih melakukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan.
Dalam konteks workshop, istilah tersebut bukan dimaksudkan secara harfiah, melainkan sebagai keberanian untuk keluar dari pola pikir konvensional dan mencoba pendekatan yang belum umum dilakukan.
Inovasi, Usaha dan Doa
Salah satu bagian yang menarik adalah konsep yang disebut Mbah Dragon Way, yakni rumus keberhasilan yang terdiri dari Inovasi, Usaha dan Doa.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak merefleksikan kembali siapa saja yang selama ini mereka doakan.
Ketika ditanya, sebagian besar peserta menyebut diri sendiri, orang tua, anak, maupun keluarga.
Mbah Dragon kemudian memperluas perspektif tersebut.
Bagi seseorang yang memiliki karyawan, misalnya, apakah karyawannya juga didoakan sebagai bagian penting dari aktivitas usaha? Bagi seorang pekerja, apakah perusahaan tempatnya bekerja dan pimpinan yang memberikan arah juga didoakan?
Begitu pula pelanggan.
Peserta diajak menyadari bahwa dalam sebuah bisnis, pelanggan merupakan bagian penting dari rantai keberlangsungan usaha.
Namun, doa saja tidak cukup. Menurut Mbah Dragon, doa perlu disertai usaha, kerja keras, kerja cerdas, dan inovasi.
Belajar “Out of the Box” Melalui Sulap
Salah satu metode yang digunakan Mbah Dragon untuk menjelaskan pola pikir out of the box adalah membongkar trik sulap.
Dalam permainan tiga kartu yang tampak berpindah tempat, peserta tidak hanya diperlihatkan hasil akhirnya, tetapi juga diajak memahami bagaimana trik tersebut diciptakan.
Peserta diajak menyadari bahwa manusia sering terjebak pada “anchor” atau asumsi yang telah tertanam sejak kecil.
Ketika asumsi tersebut diubah, sesuatu yang sebelumnya terlihat mustahil dapat dipahami dengan cara berbeda.
Konsep tersebut kemudian diperkenalkan sebagai salah satu bentuk berpikir di luar kotak kebiasaan.
Medici Effect: Mempertemukan Dua Hal yang Berbeda
Pembelajaran kemudian berlanjut pada konsep Medici Effect, yaitu menemukan titik temu dari dua atau lebih hal yang berbeda, bahkan bertolak belakang, untuk menghasilkan gagasan baru.
Mbah Dragon memberikan contoh melalui dompet dan api.
Secara logika sederhana, api dapat membakar isi dompet. Namun ketika keduanya dikombinasikan menjadi Fire Wallet, lahirlah sebuah alat sulap yang justru menjadikan api sebagai bagian dari pertunjukan.
Contoh lain diberikan melalui permainan koran dan air.
Air dituangkan ke sisi koran, kemudian seolah-olah menghilang. Setelah proses tertentu, air tersebut kembali muncul dalam bentuk jus jeruk.
Permainan tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa kreativitas dapat muncul ketika dua hal yang tampaknya tidak berhubungan dipertemukan dengan cara baru.
Dari Permainan Menjadi “Winner Effect”
Peserta juga mengikuti sejumlah permainan asah otak.
Mereka bahkan diminta tidak menyontek peserta lain yang telah menemukan jawaban lebih dahulu.
Tujuannya bukan semata-mata mendapatkan jawaban benar, tetapi mengalami sendiri proses menemukan solusi.
Menurut konsep yang disampaikan dalam workshop, keberhasilan-keberhasilan kecil dapat membangun Winner Effect atau pengalaman AHA, sehingga seseorang semakin percaya diri untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Setelah makan siang, peserta kembali menghadapi permainan multi-perception yang memaksa mereka melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut.
Dalam sesi tersebut diperkenalkan pula gagasan bahwa kemampuan menghasilkan ide dapat berkembang ketika seseorang bekerja bersama orang lain.
Mbah Dragon kemudian membagikan pengalaman profesionalnya, termasuk bagaimana perubahan fungsi suatu bahan kimia dapat menghasilkan peluang bisnis ketika dirinya masih menjalani masa kuliah.
Lima Pola Berpikir untuk Mencari Solusi
Workshop juga membahas beberapa pola berpikir yang dapat digunakan dalam memecahkan persoalan, mulai dari berpikir paradoks, keluar dari jebakan berpikir secara berurutan, melakukan pergeseran paradigma, peralihan paradigma, hingga lompatan paradigma.
Peserta juga diajak memahami bagaimana berpikir di luar sistem.
Mbah Dragon menggunakan analogi rel kereta api dan helikopter.
Kereta api hanya dapat bergerak mengikuti jalur rel. Sementara helikopter dapat bergerak lebih bebas menuju berbagai arah.
Analogi tersebut digunakan untuk menggambarkan perbedaan antara pola berpikir yang sistematis dengan pola berpikir kreatif yang memungkinkan seseorang melihat kemungkinan-kemungkinan baru.
Konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan penerapan manajemen, termasuk PDCA, Fishbone, serta PICA (Problem Identification and Corrective Action).
Fishbone digunakan untuk membantu mengidentifikasi akar persoalan. Setelah akar masalah ditemukan, peserta diajak menggunakan pola pikir kreatif untuk merancang Corrective Action yang diharapkan menghasilkan solusi low cost, high impact.
Dari Kanebo hingga Ekspor Udang
Peserta kemudian diajak mendiskusikan sejumlah studi kasus.
Salah satunya bagaimana memperluas pasar produk Kanebo melalui perubahan segmentasi dan positioning.
Contoh lain adalah parasetamol yang secara umum dikenal sebagai obat pereda nyeri, tetapi ketika dikemas dan diposisikan sebagai produk khusus untuk nyeri haid dengan merek Feminax, sasaran pasarnya menjadi lebih spesifik.
Mbah Dragon juga membagikan sejumlah pengalaman yang pernah ditemuinya dalam dunia profesional, termasuk persoalan ekspor udang ke Jepang, pengolahan air laut menjadi air tawar, penjernihan air melalui elektrolisa, hingga inovasi telur asin dengan rasa kari ayam.
Berbagai contoh tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu identik dengan teknologi mahal.
Kadang-kadang, perubahan sederhana dalam cara melihat persoalan dapat menghasilkan dampak yang besar.
Kreativitas Harus Digunakan untuk Kebaikan
Di tengah pembahasan kreativitas, peserta juga diingatkan agar kemampuan tersebut tidak digunakan untuk menipu atau mengeksploitasi masyarakat.
Mbah Dragon menyinggung sejumlah contoh produk atau klaim yang menurutnya pernah dipasarkan dengan narasi kesehatan yang bermasalah, seperti Power Balance, klaim “otak tengah”, koyo penyerap racun, dan sejumlah produk lain yang menggunakan istilah ilmiah untuk menarik konsumen.
Sebaliknya, kreativitas diharapkan digunakan untuk menghasilkan solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk membantu masyarakat miskin mendapatkan solusi kesehatan yang lebih terjangkau, mengurangi polusi, menghemat energi, dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan.
Salah satu contoh gagasan futuristik yang diperkenalkan adalah konsep Lilypad City karya arsitek Vincent Callebaut, berupa kota terapung dengan sistem ekologi dan teknologi pengolahan air laut.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa sesuatu yang hari ini terdengar seperti “ide gila” dapat menjadi bahan diskusi serius untuk masa depan.
Tantangan Berpikir hingga Metakognisi
Tidak hanya otak kanan, peserta juga diberikan latihan untuk mengasah kemampuan otak kiri melalui metakognisi.
Dalam permainan tersebut, Dokter Andri menjadi peserta tercepat dengan menyelesaikan tantangan dalam waktu sekitar 12 menit, disusul Martha sekitar 16 menit.
Sementara sejumlah peserta lainnya membutuhkan waktu lebih dari 25 menit, bahkan beberapa belum menyelesaikannya sehingga menjadi pekerjaan rumah karena keterbatasan waktu workshop.
Puncak Workshop: Berjalan di Atas Beling
Salah satu sesi yang paling ditunggu peserta adalah Walk on Glass.
Sebelum praktik dilakukan, Mbah Dragon menjelaskan prinsip fisika yang digunakan, termasuk konsep kelembaman dan tekanan P = F/A.
Penjelasan tersebut membuat Dokter Andri yang memiliki latar belakang sebagai seorang ilmuwan dan memahami fisika merasa percaya diri untuk menjadi orang pertama yang mencoba.
Ia berhasil berjalan di atas beling tanpa mengalami luka.
Peserta tertua, Pak Hendro, kemudian ikut mencoba setelah memahami prinsip yang dijelaskan.
Namun, tidak semua peserta langsung berani.
Ada peserta yang meminta jaminan keselamatan, sementara dua peserta bahkan sempat memilih menghindar.
Ketika melihat peserta lain berhasil, keberanian mulai tumbuh.
Intan yang sebelumnya khawatir kakinya terluka akhirnya ikut mencoba dan berhasil.
Satu demi satu peserta kemudian melakukan hal yang sama.
Bagi peserta, pengalaman tersebut menjadi semacam AHA Effect karena mereka berhasil mengalahkan ketakutan yang sebelumnya muncul di dalam pikiran.
Bonus Lima Trik Sulap
Menjelang akhir acara, Mbah Dragon memberikan lima trik sulap sebagai bonus sekaligus oleh-oleh bagi peserta.
Trik tersebut antara lain Magic Book, Magic Ring, kartu untuk branding, tas kertas yang dapat mengeluarkan kotak-kotak, serta trik sendok yang dapat dibengkokkan.
Peralatan untuk memainkan trik tersebut juga diperbolehkan dibawa pulang oleh peserta.
Workshop akhirnya berakhir sekitar pukul 19.00 WIB.
Peserta: “Materinya Tidak Ada di AI”
Kesan positif disampaikan para peserta.
Pak Hendro, salah satu peserta, bahkan menyampaikan keinginannya agar workshop serupa kembali digelar.
Ia mengatakan akan mereferensikan kegiatan tersebut kepada teman-temannya, terutama para pengusaha yang sedang menghadapi tekanan dan perubahan kondisi dunia usaha.
Sementara Dokter Andri menilai materi manajemen yang selama ini dikenalnya melalui PDCA dan Fishbone menjadi lebih mudah dipahami ketika dipadukan dengan pola pikir out of the box.
Ia juga mengaku tertarik dengan pendekatan multi-perception yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana sebuah produk dapat memperoleh pasar baru melalui perubahan positioning.
Peserta lainnya, Yosep, mengaku merasa beruntung karena mendapatkan kesempatan mengikuti workshop setelah dikirim oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Sementara Ardi yang menjadi salah satu perwakilan generasi Z memberikan komentar yang cukup menarik.
Menurut Ardi, materi yang diberikan Mbah Dragon terasa berbeda dari seminar atau pelatihan yang selama ini pernah diikutinya.
“Materinya benar-benar gila dan tidak ada di AI,” demikian kesan Ardi, yang menilai materi tersebut banyak bersumber dari pengalaman riil Mbah Dragon, bukan sekadar materi umum yang mudah ditemukan melalui Google maupun AI.
Menurutnya, keunikan workshop terletak pada kemampuan Mbah Dragon menghubungkan trik sulap dengan teori berpikir kreatif sehingga peserta tidak hanya mendengar teori, tetapi langsung mendapatkan pengalaman.
Baru Pertama Kali Dibuka untuk Umum
Workshop How to Survive at Crisis Time ini menjadi istimewa karena merupakan kegiatan pertama yang digelar untuk umum.
Sebelumnya, materi-materi Mbah Dragon lebih banyak diberikan melalui in-house training untuk perusahaan atau organisasi tertentu.
Karena itu, 17 orang yang mengikuti workshop pada 26 September 2026 menjadi kelompok yang relatif terbatas untuk mendapatkan materi tersebut secara langsung.
Ke depan, kegiatan serupa belum tentu dapat digelar secara rutin. Mbah Dragon disebut akan lebih banyak mencurahkan waktu untuk riset kelor yang berkaitan dengan anti-kanker, anti-aging dan longevity, serta pelayanan Gospel Magic yang mulai mendapat permintaan dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari mahasiswa teologi dan guru sekolah Minggu.
Workshop sehari itu pun akhirnya bukan hanya berbicara tentang bagaimana bertahan menghadapi krisis.
Lebih jauh, peserta diajak mengubah cara melihat masalah, berani mempertanyakan kebiasaan lama, menemukan kemungkinan baru, serta membangun keberanian untuk melakukan terobosan.
Bagi 17 orang yang hadir, pengalaman tersebut menjadi kesempatan terbatas untuk belajar langsung dari pengalaman profesional Mbah Dragon yang dibungkus dengan permainan sulap, eksperimen, studi kasus, latihan otak, NLP, kreativitas, hingga tantangan berjalan di atas beling. Karena itu 17 orang yang ikut sesi ini termasuk mereka yang beruntung karena workshop seperti ini belum tentu bisa terselenggara lagi mengingat kesibukan Mbah Dragon.
Pesan yang dibawa pun sederhana: Inovasi, Usaha dan Doa.
Menjelajah, Melayani, Menginspirasi.(*)
Alberto



