LKBH MP Kritik Dapur MBG

BeritaNasional.ID, BONDOWOSO JATIM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diprioritaskan oleh Presiden Prabowo Subianto terciderai oleh pengelola dapur. Karena faktanya dilapangan tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Merah Putih (LKBH MP), Ahroji pada BeritaNasional.ID di Kantornya, Jl. KH. Ali No. 6 RT23 RW06 Kelurahan Sekar Putih Kecamatan Tegal Ampel.
“Saya mendapat laporan dari Tim Investigasi LKBH MP MBG di SDN Pecalongan 1, kemudian di salah satu Lembaga Pendidikan yang menggunakan Dapur Darut Thalabah, dan Posyandu Bumil, Busui, dan Balita Kademangan Kecamatan Bondowoso,” kata Roji, sapaannya.
Bahwa, lanjutnya, sungguh sangat mengecewakan, baik lauk-pauk maupun buahnya tidak memenuhi syarat sebagai makanan bergizi. Sangat kontradiktif dengan tujuan dijalankan program MBG, yaitu pemenuhan gizi tunas bangsa.
Ditambahkan, di Kelurahan Kademangan, Bumil, Busui, dan Balita menerima MBG seminggu dua kali, bahkan pernah hanya dapat mi ayam saja. Sungguh sangat keterlaluan, orientasinya bukan menyehatkan generasi penerus bangsa, tapi profit oriented.
Ada lagi dapur MBG di Kecamatan Wonosari yang bersembunyi di balik oknom TNI. Agar mendapat perlindungan, MBG yang seharusnya untuk murid, Bumil, Busui, dan Balita, juga diberikan pada oknom TNI.
Aktivis yang juga sebagai advokat ini mengaku pernah mempertanyakan jeleknya kualitas MBG, hususnya buah pada Satgas MBG, As’ad Syafi’I Yahya. Jawabhannya, agar masyarakat juga bisa berkontribusi pada suksesnya MBG.
“Siapapun boleh menjadi supplier buah pada dapur MBG, tapi harus memenuhi standar gizi. Jangan hanya agar masyarakat juga bisa menikmati ‘kue’ MBG, lalu tidak dilakukan sortir,” keluhnya.
Dikatakan, gajinya Kepala Dapur dan Ahli Gizi, besar lho. Mereka yang bertanggungjawab atas kualitas MBG. Rugi Pemerintah menggaji besar mereka, tapi tidak bekerja maksimal. Ini juga merupakan tugas Satgas MBG untuk membenahi kebobrokan, jangan hanya duduk manis di balik meja kerjanya. (Syamsul Arifin/Bernas)



