Daerah

331 Warga TTS Diduga Keracunan MBG, Polres TTS Dirikan Posko Darurat

 

BeritaNasional.ID, SO’E – Kepedulian dan respons cepat Kepolisian Republik Indonesia kembali tampak di tengah masyarakat. Menyusul meningkatnya jumlah korban dugaan keracunan massal pada program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), jajaran Polres TTS bergerak cepat dengan mendirikan Posko Kesehatan Darurat Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk membantu penanganan para korban.

Hingga 3 Oktober 2025, tercatat sebanyak 331 warga mengalami gejala keracunan, sebagian besar di antaranya merupakan anak-anak sekolah penerima program MBG. Situasi ini sontak menimbulkan kepanikan di berbagai titik di wilayah Kota So’e dan sekitarnya.

Langkah cepat Polres TTS mendapat apresiasi luas dari warga. Banyak masyarakat mengaku lega dengan kehadiran polisi yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga terjun langsung membantu penanganan medis di lapangan.

Kapolres TTS, Hendra Dorizen, membenarkan langkah cepat pembukaan posko kesehatan darurat tersebut. Menurutnya, posko didirikan sebagai bentuk kepedulian Polri terhadap kondisi masyarakat dan untuk mempercepat proses penanganan korban.

“Iya, Polres TTS membuka posko layanan medis untuk membantu penanganan korban keracunan. Langkah ini kami ambil karena jumlah korban sudah sangat banyak,” ujar Kapolres.

Posko yang mulai beroperasi sejak Jumat sore itu kini menangani 15 korban yang masih dirawat, dengan dukungan tenaga medis dari Klinik Polres TTS dan Dinas Kesehatan Kabupaten TTS.

“Semua korban yang dirawat di Posko Polres dalam kondisi stabil. Kami juga menugaskan anggota untuk membantu penanganan di posko-posko lainnya,” jelas Kapolres.

Data yang dihimpun menunjukkan, hingga malam hari, total 331 korban telah ditangani di empat posko KLB, masing-masing berlokasi di RSUD SoE, Polres TTS, SD GMIT SoE 2, dan Puskesmas Kota SoE.

Dari jumlah tersebut, 273 orang telah pulang usai mendapat perawatan, sedangkan 58 orang lainnya masih menjalani perawatan intensif di berbagai fasilitas kesehatan.

Kapolres menjelaskan, para korban berasal dari 12 lokasi penerima program MBG di wilayah Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) Kota SoE 1, yang dikelola oleh Yayasan Peduli Timorana Mandiri.

“Total penerima manfaat program MBG ada sebanyak 3.026 orang. Dari jumlah itu, 331 mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan yang dibagikan di 12 lokasi berbeda,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra, mengatakan bahwa Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko, telah memberikan instruksi langsung kepada jajarannya agar segera turun tangan membantu masyarakat terdampak.

“Bapak Kapolda NTT menekankan pentingnya kehadiran Polri di tengah masyarakat, tidak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam situasi kemanusiaan. Polres TTS langsung membuka posko dan membantu tenaga kesehatan menangani korban,” ujar Henry.

Selain membuka posko dan membantu pelayanan medis, tim gabungan dari Polres TTS dan Ditreskrimsus Polda NTT kini tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan penyebab pasti kejadian dugaan keracunan massal tersebut.

“Langkah penyelidikan tetap berjalan, namun yang utama adalah keselamatan masyarakat. Polri memastikan semua korban mendapat penanganan maksimal,” tegas Henry.

Respons cepat kepolisian di tengah situasi krisis ini disambut positif oleh masyarakat. Warga Kota SoE menyampaikan apresiasi atas kehadiran Polri yang tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga menunjukkan kepedulian nyata.

“Kami sangat berterima kasih kepada pihak kepolisian. Begitu banyak anak-anak yang panik dan butuh pertolongan cepat. Polisi datang membantu tanpa menunggu lama,” ujar Maria Natonis, warga Kelurahan Karang Sirih.*

Alberto

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button