Polewali MandarSulawesi BaratSulbar

Abrasi Sungai ,130 Ha Persawahan Jadi Lahan Tidur , Petani Masyarakat Tapango Meradang

BeritaNasional.ID.POLMAN SULBAR — – Jalan penghubung lima desa di Kecamatan Tapango kini terputus akibat abrasi sungai yang semakin parah. Kondisi ini tak hanya mengisolasi akses warga, tetapi juga mengancam persawahan milik ratusan Kepala Keluarga (175 KK) yang bergantung pada lahan tersebut untuk kelangsungan hidup mereka.

Seiring dengan terkikisnya tepian sungai, sawah-sawah yang berada di dekat aliran air terancam longsor dan rusak. Warga menyuarakan keprihatinan dan mendesak pemerintah segera melakukan upaya pencegahan agar abrasi tidak semakin meluas.

“Kami khawatir, kalau ini dibiarkan, lahan yang menjadi sumber penghidupan kami akan hilang,” ujar salah seorang warga.

Dengan akses jalan yang kini terputus, aktivitas perekonomian warga terhambat. Masyarakat berharap adanya tindakan cepat dari pemerintah daerah untuk membangun tanggul atau jalan alternatif demi menjaga keamanan lahan pertanian dan mobilitas warga.

Kepala Desa Tapango mengatakan Sejak bencana banjir 3 tahun lalu, kerusakan akibat abrasi sungai semakin parah di Desa Tapango. Jalan penghubung utama yang biasa digunakan lima desa yakni Tapango Barat, Jambu Malea, Rappang, Bussu, dan Tuttula kini terputus, memaksa ratusan warga menempuh jalur lebih jauh untuk mengakses lahan pertanian dan pusat pemerintahan.

Kondisi ini juga mengakibatkan sawah seluas 130 hektare di Desa Tapango tidak lagi produktif selama hampir tiga tahun terakhir, berdampak pada mata pencaharian sekitar 200 KK yang menggantungkan hidup dari pertanian.

“Sudah tiga tahun lebih kami tidak bisa menanam padi. Kehilangan akses ke sawah membuat warga semakin kesulitan, bahkan terpaksa mengandalkan bantuan beras dari pemerintah agar tidak kelaparan,” ujar Kepala Desa Tapango

” Untung ada bantuan beras dari pemerintah , jika tidak maka masyarakat Tapango akan kelaparan , karena penopang hidup lahan persawahan yang produktif tidak lagi bisa digarap ” Jelas Kades Tapango  Sahibo g Tarmizidalam dialeg khasnya.

Lanjutnya, Akses yang terputus juga berdampak pada kegiatan ekonomi dan mobilitas warga, karena mereka harus berputar melalui jalur alternatif yang jauh lebih panjang.

Pemerintah desa dan warga telah mengajukan permohonan bantuan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Balai Penanggulangan Bencana Alam, namun hingga kini belum ada realisasi. Pemerintah Kabupaten Polman sempat merencanakan pembangunan tanggul untuk menahan abrasi, namun rencana tersebut tertunda akibat defisit anggaran.

Meski demikian, warga tetap berharap pemerintah segera bertindak untuk memperbaiki jalan penghubung dan memulihkan irigasi, demi kelangsungan hidup masyarakat yang sudah lama terisolasi.

Sebagai upaya swadaya, warga bersama anggota DPRD setempat Hj. Lisda telah melakukan pemasangan beronjong di beberapa titik kritis, namun ini belum cukup untuk mengatasi masalah abrasi yang meluas.

Pemerintah desa berharap adanya dukungan penuh dari pemerintah daerah agar jalan utama dan lahan pertanian bisa kembali berfungsi, memberikan harapan baru bagi ratusan keluarga yang terdampak.

130 Ha lahan perswahan menjadi lahan tidur , dari produktif menjadi tidak berguna karena dampak dari abrasi Sungai Riso yang mengakibatkan rusaknya irigasi tekhnisi dan akses ke 5 desa terputus ,  hal ini akan dapat berakibat fatal jika pemerintah tidak mengambil langkah karena menyangkut kemaslahatan kelangsungan hidup masyarakat petani di desa Tapango .

Diakhir  wawancara , Kades Tapango juga mengatakan , persoalan ini kami dari 5 desa yang terdampak diminta oleh pemerintahan kabupaten menandatangani penyerahan aset ,  sehingga persoalan ini bukan lagi maslaah desa melainkan Pemerintah Kabupaten yang harus bertindak cepat. Tegas Sahibong.

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button