Nusa Tenggara Timur

FKIP Undana, Mercusuar Pendidikan dari Timur yang Bersuara hingga Eropa

BeritaNasional.ID, KUPANG — Di jantung Universitas Nusa Cendana (Undana), terdapat sebuah fakultas yang tak henti-hentinya menorehkan jejak emas dalam dunia pendidikan: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Di bawah kepemimpinan Malkisedek Taneo, FKIP tak hanya berdiri sebagai institusi pencetak guru, tetapi telah menjelma menjadi mercusuar pendidikan yang bersinar, menjangkau hingga panggung internasional.

Menjabat sejak September 2019, Prof. Taneo memimpin fakultas ini dengan semangat reformasi dan inovasi. Didampingi oleh para pemimpin visioner seperti Jakobis J. Messakh, sebagai Wakil Dekan II dan Damianus D. Samo, yang menggantikan Moses Kopong Tokan, pada 2023 sebagai Wakil Dekan I, FKIP tampil sebagai institusi yang tanggap zaman, dinamis, dan terus bergerak maju.

FKIP Undana saat ini menaungi 18 program studi sarjana (S1) yang tersebar dalam berbagai rumpun ilmu—mulai dari pendidikan dasar, sains, sosial humaniora, hingga pendidikan teknik kejuruan. Diversifikasi ini tak sekadar strategi akademik, melainkan bentuk nyata dari misi FKIP untuk mencetak tenaga pendidik yang unggul secara akademik dan relevan secara kontekstual, terutama dalam menghadapi tantangan pendidikan era digital dan global.

_Menembus Batas: Dari Timor ke Eropa_

Tonggak sejarah penting ditorehkan pada 6 Juni 2025, ketika tiga program studi FKIP resmi meraih akreditasi internasional dari FIBAA (Foundation for International Business Administration Accreditation)—lembaga akreditasi bergengsi berbasis di Bonn, Jerman, yang dikenal luas di kancah pendidikan tinggi Eropa dan telah diakui oleh European Quality Assurance Register (EQAR).

Tiga program studi tersebut adalah:
1. Pendidikan Bahasa Inggris.
2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
3. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Pencapaian ini menjadi bukti bahwa FKIP tidak hanya mampu bersaing di tingkat nasional, tetapi juga telah diakui di panggung internasional, membuka peluang lebih luas bagi kolaborasi lintas negara dan pengembangan mutu pendidikan berstandar global.

Tak berhenti di sana, enam program studi FKIP juga telah mengantongi akreditasi “Unggul” dari Lembaga Akreditasi Mandiri kependidikan (Lamdik). Program studi tersebut adalah:
1. Bimbingan dan Konseling
2. Pendidikan Kimia
3. Pendidikan Matematika
4. Pendidikan Sejarah
5. Pendidikan Teknik Bangunan
6. Pendidikan Geografi
7. Pendidikan Ekonomi

Pencapaian ini bukan sekadar status administratif. Ini adalah simbol pengakuan atas mutu total—mulai dari kurikulum yang relevan, kompetensi dosen, fasilitas yang mendukung, hingga lulusan yang siap menjawab tantangan nyata di lapangan.

Dengan capaian tersebut, FKIP menjadi salah satu kontributor utama dalam mendorong Undana meraih akreditasi institusi “Unggul” dari BAN-PT berdasarkan SK No. 2288/SK/BAN‑PT/AK/PT/II/2025 yang berlaku sejak 11 Februari 2025. Sebelumnya, Undana menyandang status “Baik Sekali” sejak 2023.

Di tengah transformasi pendidikan tinggi yang begitu cepat, FKIP Undana tampil sebagai fakultas yang berorientasi pada masa depan. Kurikulum dikembangkan untuk merespons perubahan zaman, termasuk tantangan Revolusi Industri 4.0 dan digitalisasi pendidikan.

FKIP juga membangun jaringan kemitraan strategis dengan lembaga pendidikan, industri, dan pemerintahan, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Melalui kemitraan ini, mahasiswa FKIP mendapat akses pada: Program pertukaran pelajar, Magang profesional, Penelitian kolaboratif, dan Pelatihan kewirausahaan. Semua itu dirancang untuk memperkaya pengalaman belajar yang kontekstual dan aplikatif. Dosen pun tak luput dari dorongan untuk aktif dalam riset, publikasi ilmiah, dan pengabdian masyarakat sebagai bagian dari penguatan kapasitas akademik dan reputasi fakultas.

Di tengah hiruk-pikuk pencapaian akademik dan pengakuan internasional, FKIP Undana tak melupakan akar misinya: membangun pendidikan dari akar rumput. Program studi seperti PGSD, PAUD, Pendidikan Jasmani, dan Pendidikan Luar Sekolah menjadi ujung tombak dalam melayani kebutuhan pendidikan dasar di wilayah-wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa FKIP bukan hanya lembaga akademik, tetapi juga agen perubahan sosial yang hadir langsung di tengah masyarakat, membentuk pendidik yang tidak hanya profesional, tetapi juga berjiwa humanis dan transformatif.

Dengan visi besar, strategi matang, dan semangat kolaboratif, FKIP Undana telah menjelma menjadi kawah candradimuka bagi generasi pendidik masa depan—pendidik yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan kompetensi global.

FKIP Undana bukan sekadar fakultas penghasil ijazah, melainkan rumah bagi para pejuang pendidikan yang siap menyalakan obor peradaban bangsa. Di tengah arus perubahan global, fakultas ini terus melaju dengan semangat inovasi dan pengabdian demi menciptakan masa depan pendidikan Indonesia yang lebih cerah, setara, dan bermartabat.

Dalam pernyataannya pada 4 Agustus 2025, Dekan FKIP Undana ini mengungkapkan bahwa seluruh capaian luar biasa yang diraih FKIP selama ini bukanlah hasil dari kerja individu semata, melainkan buah dari kebersamaan, keseriusan, dan kerja keras kolektif seluruh elemen fakultas. Beliau menjelaskan bahwa dalam proses penyusunan dokumen akreditasi, ada nilai-nilai mendasar yang selalu dijunjung tinggi dan menjadi prinsip utama dalam setiap tahapannya.

Menurut pria kelahiran 2 April 1967 itu, proses menyiapkan dokumen akreditasi bukan sekadar kegiatan administratif, tetapi sebuah perjalanan yang harus dilandasi oleh kolaborasi yang erat, sinergi yang kuat, serta koordinasi yang berkelanjutan antara pimpinan, para koordinator program studi, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa. Tak kalah penting, pendampingan yang intensif, keterbukaan dalam komunikasi, serta semangat kerja sama menjadi bahan bakar utama yang menggerakkan mesin institusi ini. Semua unsur tersebut berpadu dalam semangat kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang kental, yang selama ini menjadi ciri khas dari dinamika di lingkungan FKIP.

Guru Besar Sejarah ini juga menekankan bahwa seluruh proses dilalui secara sistematis. Sebelum dokumen akreditasi dikirim, fakultas selalu melakukan simulasi sebanyak dua hingga tiga kali, memastikan bahwa semua isian dan bukti pendukung telah sesuai dengan pedoman serta mencerminkan kondisi riil di lapangan. Bagi Taneo, prinsip prioritas dan urgensi akreditasi harus dipegang teguh, karena akreditasi bukan hanya soal peringkat, tetapi tentang jaminan mutu dan kepercayaan publik terhadap kualitas pendidikan yang diberikan.

Taneo menyampaikan bahwa semua prinsip itu bermuara pada sebuah kalimat sederhana namun penuh makna yang selama ini menjadi tagline fakultas: “FKIP, rumah kita bersama.” Baginya, rumah adalah tempat yang dibangun dengan cinta, dijaga dengan komitmen, dan dirawat dengan tanggung jawab bersama. Karena itulah, ia terus mengajak seluruh warga FKIP—baik pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa—untuk menjadikan FKIP sebagai ruang tumbuh yang saling menguatkan.

Beliau menambahkan bahwa dalam setiap kerja dan perjuangan, seluruh tim selalu diarahkan untuk bekerja dengan melibatkan Tuhan sebagai fondasi spiritual, sekaligus mengedepankan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja gotong royong. Mereka diajak untuk fokus, menyusun prioritas, menjaga komitmen, dan senantiasa optimis dalam menghadapi tantangan. Semua itu bukan hanya menjadi etos kerja, tetapi juga cerminan karakter FKIP sebagai institusi yang hidup, berjiwa, dan terus bergerak maju untuk melayani pendidikan Indonesia.

Hari ini, dari tanah Timor yang jauh dari pusat kekuasaan, FKIP Undana mengirim pesan kuat ke dunia: bahwa pendidikan bermutu tidak ditentukan oleh letak geografis, melainkan oleh keberanian bermimpi, ketekunan bekerja, dan semangat untuk membangun masa depan yang lebih adil dan bermartabat.***

(Alberto)

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button