Lansia Lumpuh Hidup Sendirian di Tanah Desa, Camat Kapongan Turun Tangan Bawa Solusi

BeritaNasional.id, SITUBONDO – Kisah hidup pilu yang dialami seorang lansia lumpuh bernama Pak Surais di Kecamatan Kapongan akhirnya sampai ke telinga pemerintah setempat. Camat Kapongan, Roi Hidayat, turun langsung mengunjungi kediaman Pak Surais sekaligus membawa bantuan sembako. Selasa (12/5/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan bersama jajaran Kecamatan Kapongan, termasuk Kasi Trantib, Kepala Desa Peleyan, serta perangkat desa lainnya. Mereka mendatangi lokasi tempat tinggal Pak Surais yang telah ia tempati selama sekitar tiga tahun terakhir.
“Siang tadi kami bersama perangkat desa mengunjungi Pak Surais dengan membawa sedikit bantuan. Sekaligus kami ingin mengetahui langsung kondisi dan latar belakang beliau,” ujar Roi di sela kunjungan.
Dari hasil penelusuran, diketahui Pak Surais pernah mengalami stroke saat merantau di Kalimantan. Sejak itu, kondisi kesehatannya menurun hingga akhirnya hidup sendiri tanpa keluarga yang merawat.
Selama tiga tahun terakhir, Pak Surais tinggal di lahan tanah kas desa (TKD) yang berada di kawasan wisata rintisan milik BUMDes Peleyan. Di lokasi tersebut terdapat beberapa fasilitas sederhana seperti gubuk dan kandang kambing milik desa, yang membuat kawasan itu cukup ramai pada malam hari.
Kondisi itu justru menjadi berkah tersendiri bagi Pak Surais. Warga sekitar dan para pengunjung kerap memberikan bantuan makanan maupun kebutuhan sehari-hari.
“Untuk makan dan kebutuhan harian sebenarnya terbantu oleh warga dan pengunjung yang iba melihat kondisinya,” kata Roi.
Namun, persoalan utama yang dihadapi Pak Surais bukan hanya soal ekonomi, melainkan kondisi keluarga yang tidak harmonis. Ia diketahui masih memiliki saudara kandung, namun hingga kini belum bisa tinggal bersama akibat konflik masa lalu.
Upaya mediasi yang difasilitasi pemerintah kecamatan dan desa pun telah beberapa kali dilakukan. Bahkan dalam kunjungan terbaru, pihak kecamatan kembali mencoba mempertemukan Pak Surais dengan adiknya. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
“Adiknya masih trauma atas perlakuan Pak Surais di masa lalu, sehingga belum bersedia menerima kembali. Mediasi ini sudah beberapa kali dilakukan, tetapi belum menemukan titik terang,” jelas Roi.
Sebagai alternatif, pemerintah desa sebenarnya telah menawarkan tempat tinggal yang lebih layak milik pribadi kepala desa. Namun, lokasi tersebut cukup jauh dari permukiman warga, sehingga menimbulkan kekhawatiran jika sewaktu-waktu Pak Surais sakit tanpa ada yang membantu.
“Kebutuhan sehari-hari sebenarnya terpenuhi, tapi kalau sakit itu yang jadi kekhawatiran karena beliau hidup sebatang kara,” ujarnya.
Pemerintah kecamatan memastikan akan terus melakukan berbagai upaya, termasuk melibatkan tokoh masyarakat dan keluarga besar lainnya, guna mencari solusi terbaik bagi kehidupan Pak Surais ke depan.
“Kami akan terus berupaya, termasuk pendekatan melalui keluarga yang lain, agar ada jalan keluar yang lebih baik bagi beliau,” pungkas Roi.



