
BeritaNasional.id, SITUBONDO – Siapa bilang budidaya kepiting bakau hanya bisa dilakukan di kawasan pesisir? Seorang pemuda asal Situbondo, Jaka Apriyantoro, berhasil mematahkan anggapan tersebut. Berbekal kolam bekas budidaya lele di tengah kota, ia sukses mengembangkan usaha kepiting soka dengan hasil yang menjanjikan.
Berlokasi di Jalan Merak, hanya beberapa ratus meter dari Pendopo Bupati Situbondo, Jaka bersama sang istri menekuni usaha ini dengan modal sederhana. Dari tempat yang terbatas, keduanya mampu membuktikan bahwa budidaya kepiting bakau tetap bisa dilakukan di lingkungan perkotaan.
“Kita tidak punya lahan di pinggir laut, tapi kita ingin membuktikan bahwa di kota juga bisa memelihara kepiting. Saya memilih kepiting karena hasilnya lebih menjanjikan, tingkat kematiannya rendah, dan pakannya bisa alternatif dari yang ada di sekitar,” ujar Jaka, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, fokus usahanya saat ini adalah pada jenis kepiting bakau dengan sistem penggemukan dan produksi kepiting soka. Untuk menghasilkan kepiting soka, waktu yang dibutuhkan relatif singkat, yakni sekitar tiga minggu.
Melihat peluang yang terbuka lebar, Jaka juga mengajak generasi muda untuk memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah sebagai media budidaya. Menurutnya, pasar kepiting soka masih sangat potensial dan belum mampu terpenuhi sepenuhnya.
“Permintaan dari pengepul setiap hari bisa mencapai 20 sampai 30 kilogram. Tapi kemampuan produksi kami baru sekitar 5 sampai 10 kilogram per hari,” ungkapnya.
Dari sisi modal, Jaka menyebut usaha ini bisa dimulai dengan biaya yang fleksibel. Untuk pemula, total kebutuhan modal bisa mencapai sekitar Rp10 juta. Namun, jika sudah memiliki fasilitas seperti atap atau tempat yang memadai, modal awal bisa ditekan hingga sekitar Rp5 juta.
Salah satu pelanggan, Hamimullah, yang datang bersama anaknya Moh Alim Birullah, mengaku sudah menjadi langganan kepiting soka milik Jaka. Ia menilai cita rasa kepiting tersebut gurih dan memiliki keunikan tersendiri.
“Rasanya enak, gurih, dan beda. Makanya kami sering beli langsung ke sini,” ujarnya.
Jaka mengungkapkan, pembeli kepiting soka miliknya tidak hanya berasal dari Situbondo, tetapi juga dari luar daerah seperti Bali dan Banyuwangi. Namun, keterbatasan modal dan lahan membuat kapasitas produksi masih terbatas.
Saat ini, dalam satu siklus produksi selama tiga minggu, Jaka mampu menghasilkan sekitar 260 ekor kepiting soka. Meski demikian, ia optimistis usahanya akan terus berkembang seiring meningkatnya permintaan pasar.
Ke depan, Jaka berharap semakin banyak anak muda yang tertarik menekuni budidaya perikanan, khususnya kepiting soka, sebagai peluang usaha yang menjanjikan di tengah keterbatasan lahan.



