Cabdisdik Jember-Lumajang Diduga Lakukan Pembiaran, Instruksi Khofifah Soal Seragam Diabaikan

BeritaNasional.ID, LUMAJANG JATIM — Moratorium Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa soal larangan penjualan seragam di sekolah negeri diduga hanya jadi angin lalu. Di Lumajang, praktik penjualan seragam dengan harga fantastis masih berlangsung dan Cabang Dinas Pendidikan / Cabdisdik Wilayah Jember-Lumajang dituding melakukan pembiaran.
Temuan ini diungkap Komunitas Jurnalis Jawa Timur / KJJT Wilayah Lumajang setelah melakukan penelusuran ke sejumlah SMA/SMK Negeri. Harga Tembus Rp2 Jutaan
“Data temuan kami tidak sama ada yang 2 juta lebih dan ada yang 1. Juta 5 ratus ribu lebih,” ungkapnya
Padahal di toko konveksi umum, harga 1 stel seragam hanya Rp180.000 – Rp220.000. Artinya harga di sekolah bisa 8 – 10 kali lipat lebih mahal.
“Dari harga tersebut kenapa tidak sama satu sekolah dengan sekolah yang lain? Kenapa dan kok bisa?” tegas Ketua KJJT Lumajang, Septa Ari Dona.
Gubernur Khofifah sudah berulang kali menegaskan: tidak boleh ada koperasi sekolah yang menjual seragam. Sanksinya tegas.
“Hari ini seluruh Kacabdin se Jawa Timur adalah batas akhir menertibkan bahwa tidak boleh ada koperasi sekolah yang menjual seragam. Kalau ada Kacabdin yang belum menyelesaikan tugasnya maka sanksinya nonjob. Kalau ada kepala sekolah SMA/SMK Negeri yang tidak menertibkan sampai dengan hari ini, maka sanksinya juga nonjob,” tegas Khofifah.
KJJT telah melayangkan surat klarifikasi resmi ke Cabdisdik Wilayah Jember-Lumajang. Alih-alih menjawab, surat balasan justru melempar ke PPID Pembantu Dinas Pendidikan Provinsi Jatim.
Septa menilai itu bentuk penghindaran dan pembiaran.
“Kalau memang bersih kenapa takut mengevaluasi kepala sekolah yang telah melanggar moratorium Gubernur Jawa Timur,” ujarnya.
Ia mendesak Cabdisdik berhenti sembunyi di balik administrasi. Lakukan pengawasan dan penindakan nyata di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Cabdisdik Wilayah Jember-Lumajang belum memberikan jawaban terkait pembiaran ini. Redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi.
(red)



