
BeritaNasional.ID, Kabupaten Malang – Rangkaian Perkemahan Pramuka Santri Nasional (PPSN) VI Tahun 2026 tidak hanya fokus pada pembentukan karakter dan kedisiplinan kepanduan. Di bawah naungan semangat pelestarian lingkungan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M. memimpin langsung gerakan aksi penanaman 1.000 pohon. Aksi hijau yang dikemas secara kolaboratif ini dipusatkan di kawasan Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sabtu (03/10/2026)
Gerakan penanaman pohon ini menjadi salah satu agenda prioritas dalam event nasional yang mempertemukan 4.524 pramuka santri dari seluruh penjuru Indonesia. Aksi nyata ini merupakan wujud konkret dari keterlibatan generasi muda berbasis pesantren dalam menjaga keberlanjutan ekosistem darat dan memitigasi dampak buruk perubahan iklim global.
Menjaga Kelestarian Melalui Pendekatan Ekoteologi
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan komitmen kuatnya dalam mendukung program penghijauan lingkungan di area lembaga pendidikan keagamaan. Dalam aksi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyediakan 1.000 bibit tanaman berkayu dan produktif. Jenis pohon yang ditanam meliputi Pohon Maja, Pohon Tabebuya yang dikenal estetis saat berbunga, serta Pohon Mangga yang memiliki nilai kemanfaatan konsumsi.
“Kami menyiapkan bibit 1.000 pohon untuk ditanam bersama-sama di berbagai titik strategis kawasan pesantren dan wilayah penyangga sekitarnya di Kabupaten Malang. Ini merupakan ikhtiar kolektif kita bersama dalam menjaga bumi,” ujar Khofifah di hadapan awak media.
Lebih detail, Khofifah memaparkan bahwa gerakan bertajuk “Santri Menjaga Alam” ini merupakan kristalisasi dari semangat ekoteologi. Konsep ini memadukan nilai-nilai teologis keagamaan dengan tanggung jawab ekologis, yang memandang tugas merawat dan melestarikan alam sebagai bagian integral dari ibadah serta bentuk manifestasi rasa syukur makhluk kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Melalui pendekatan ini, PPSN VI 2026 berupaya membentuk santri yang tidak hanya unggul dari sisi spiritualitas dan ilmu agama, tetapi juga peka terhadap isu-isu krusial seputar lingkungan hidup.
Investasi Masa Depan Lewat “Sedekah Oksigen”
Dalam pandangan Khofifah, menanam pohon bukan sekadar aktivitas seremonial menimbun akar di dalam tanah, melainkan investasi amal yang berkelanjutan. Ia menyamakan aksi penghijauan ini dengan konsep filantropi spiritual terhadap lingkungan.
“Menanam pohon adalah sedekah oksigen jangka panjang. Apa yang kita tanam dengan ikhlas hari ini, akan memberikan pasokan oksigen, keteduhan, serta menopang kehidupan bagi generasi-generasi mendatang. Ini adalah amal jariyah lingkungan yang pahalanya terus mengalir,” tambahnya.
Gerakan ini juga mendapatkan apresiasi luas karena dinilai sejalan dengan pemenuhan target Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya pada poin penanganan perubahan iklim (SDG 13) dan pelestarian ekosistem daratan (SDG 15).
Selama prosesi berlangsung, Bupati Malang Sanusi yang mendampingi Gubernur tampak aktif mengoordinasikan titik-titik penanaman agar penyebaran seribu pohon ini dapat memberikan dampak ekologis yang optimal bagi wilayah Kabupaten Malang. Sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah daerah, pengasuh pesantren, dan ribuan pramuka santri ini diharapkan meninggalkan legacy (warisan) hijau yang terus hidup dan bertumbuh meski tenda perkemahan PPSN VI telah dibongkar. (den)



