Nusa Tenggara Timur

IAKN Kupang dan IFTK Ledalero Teken MoU, Siap Kolaborasi Riset Persoalan Air, Kemiskinan hingga Kekerasan Sosial

 

BeritaNasional.ID, KUPANG – Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang dan Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero resmi menjalin kerja sama strategis melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU), Rabu (14/10/2026).

Penandatanganan yang berlangsung di IAKN Kupang itu dilakukan oleh Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th., bersama Rektor IFTK Ledalero, Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD.

Kerja sama ini menjadi langkah penting untuk memperkuat kolaborasi kedua perguruan tinggi dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan tata kelola kelembagaan. Lebih dari itu, kemitraan ini diarahkan untuk menghasilkan program akademik yang berdampak nyata bagi masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kedua institusi juga berkomitmen mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), memperkuat mutu akademik, memperluas publikasi ilmiah, serta mengembangkan penelitian bersama yang berangkat dari persoalan sosial dan kebutuhan masyarakat.

Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th., menegaskan bahwa penandatanganan MoU bukan sekadar menambah daftar kerja sama antarlembaga, melainkan harus menjadi awal dari pelaksanaan program yang konkret dan berkelanjutan.

Menurutnya, keberhasilan sebuah kerja sama tidak diukur dari banyaknya dokumen yang ditandatangani, tetapi dari sejauh mana kesepakatan tersebut diwujudkan dalam kegiatan yang produktif dan memberikan manfaat bagi pengembangan perguruan tinggi serta masyarakat.

“Ini bukan hanya menambah jumlah kerja sama, tetapi memastikan bahwa kerja sama ini memiliki dampak signifikan untuk penguatan lembaga dan juga peran serta perguruan tinggi dalam pembangunan masyarakat,” ujarnya.

Dr. Suardana menjelaskan, implementasi kemitraan akan berporos pada pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama melalui pertukaran dosen, kolaborasi penelitian, dan publikasi ilmiah bersama.

Setelah penandatanganan MoU, kedua institusi akan menindaklanjutinya dengan penyusunan perjanjian kerja sama yang lebih teknis, termasuk pada tingkat fakultas dan program pascasarjana. Langkah ini diharapkan membuat program kolaborasi dapat dilaksanakan secara terarah sesuai kebutuhan masing-masing institusi.

Ia menekankan bahwa implementasi menjadi kunci utama agar kerja sama tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau hanya untuk memenuhi kebutuhan administrasi dan akreditasi.

“Pada prinsipnya, implementasi ini yang menjadi kunci atau menjadi pertanggungjawaban pelaksanaan. Tanpa adanya implementasi yang aktif dan produktif, tentu MoU hanya sebatas seremonial dan administrasi saja,” tegasnya.

Dr. Suardana juga menyoroti latar belakang kedua institusi yang tumbuh dari tradisi keagamaan berbeda. IFTK Ledalero berakar pada tradisi Gereja Katolik, sedangkan IAKN Kupang berkembang dari tradisi Kristen.

Menurutnya, perbedaan tersebut bukan menjadi penghalang, melainkan peluang untuk membangun sinergi yang kuat melalui pertukaran pengetahuan, dialog akademik, dan pengembangan penelitian lintas perspektif.

Ia berharap kemitraan tersebut dapat memperkuat peran perguruan tinggi keagamaan dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik, meningkatkan kesejahteraan umat, serta berkontribusi terhadap pembangunan bangsa.

Selain penguatan akademik, Suardana berharap kerja sama ini turut mendukung peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di NTT. Dengan memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas lulusan, perguruan tinggi diharapkan mampu mendorong semakin banyak masyarakat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sekaligus meningkatkan peluang lulusan terserap di dunia kerja.

Sementara itu, Rektor IFTK Ledalero, Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, mengatakan bahwa kerja sama dengan IAKN Kupang diharapkan berkembang menjadi kemitraan substantif yang menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ia menjelaskan, ruang lingkup kerja sama mencakup pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kedua institusi juga berpeluang mengembangkan pertukaran mahasiswa dan dosen untuk memperluas pengalaman akademik serta memperkuat hubungan kelembagaan.

Menurut Prof. Otto Gusti, kedua perguruan tinggi memiliki peluang untuk bekerja bersama dalam mengkaji berbagai persoalan publik, mulai dari keterbatasan akses air bersih, korupsi, kemiskinan, persoalan ekologis, hingga berbagai bentuk kekerasan dan masalah sosial lainnya.

“Kami berharap kerja sama ini berdampak pada riset bersama tentang isu-isu publik yang sedang dihadapi oleh masyarakat,” ungkapnya.

Ia mencontohkan penelitian mengenai persoalan air dan dampaknya terhadap perempuan sebagai salah satu bidang yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan akademisi di Kupang.

Persoalan air dinilai penting untuk dikaji secara mendalam karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk dampaknya terhadap perempuan dan keluarga. Melalui penelitian bersama, kedua institusi diharapkan mampu menghasilkan kajian ilmiah yang dapat memperkaya pemahaman sekaligus menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan solusi atas persoalan tersebut.

Selain itu, penelitian tentang musik daerah dan persoalan ekologis juga menjadi peluang kolaborasi. Menurut Prof. Otto Gusti, sejumlah kajian yang telah dilakukan akademisi di Kupang dapat dikembangkan lebih jauh dengan melibatkan dosen IFTK Ledalero.

Kolaborasi tersebut diharapkan mempertemukan keahlian dan perspektif para akademisi sehingga penelitian tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain penelitian bersama, IAKN Kupang dan IFTK Ledalero berpeluang mengembangkan program pertukaran dosen dan mahasiswa, termasuk kegiatan magang antarkampus.

Prof. Otto Gusti berharap tradisi pertukaran akademik yang pernah berlangsung sebelumnya dapat dihidupkan kembali melalui kerja sama kedua institusi. Program tersebut diharapkan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar dalam lingkungan akademik yang berbeda, memperluas wawasan, dan membangun jejaring lintas perguruan tinggi.

Pertukaran dosen juga dinilai penting untuk memperkuat proses pembelajaran, membuka ruang berbagi pengalaman penelitian, serta meningkatkan kualitas pengembangan ilmu pengetahuan.

Ia menegaskan, kerja sama yang dibangun harus menyentuh kebutuhan nyata kedua institusi dan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dengan demikian, hubungan antara IAKN Kupang dan IFTK Ledalero tidak berhenti pada penandatanganan kesepakatan, tetapi berkembang menjadi kegiatan akademik dan sosial yang memberikan manfaat berkelanjutan.

Prof. Otto Gusti turut menyampaikan terima kasih kepada pimpinan IAKN Kupang atas sambutan dan kesempatan untuk membangun kemitraan tersebut.

Delegasi IAKN Kupang dipimpin langsung oleh Rektor Dr. I Made Suardana, M.Th., didampingi Wakil Rektor I Maryon Daniamaputra Pattinaja, Ph.D., Wakil Rektor II Sance Mariana Tameon, M.Pd.K., dan Wakil Rektor III Dr. Kristian E.Y.M. Afi, M.Pd.K.

Turut hadir Direktur Pascasarjana Dr. Ezra Tari, Wakil Direktur Pascasarjana Dr. Oscard Tobing, serta sejumlah staf IAKN Kupang.

Sementara itu, delegasi IFTK Ledalero dipimpin langsung oleh Rektor Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, bersama Kepala Rektorat IFTK Ledalero, Johanes C. Manehitu.

Penandatanganan MoU tersebut menjadi titik awal penguatan hubungan akademik antara dua perguruan tinggi yang memiliki latar belakang tradisi keagamaan berbeda, tetapi memiliki kepedulian yang sama terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.

Melalui implementasi kerja sama yang konkret, kedua institusi diharapkan dapat memperkuat kualitas pendidikan tinggi, meningkatkan produktivitas penelitian, memperluas pertukaran akademik, serta menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap berbagai persoalan sosial di NTT.

Kemitraan ini sekaligus menegaskan bahwa perbedaan tradisi keagamaan dapat menjadi kekuatan untuk membangun dialog, memperluas kolaborasi, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.(*)

Alberto

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button