Cornelius Nubatonis, Sang Visioner dari Pedalaman Timor yang Membangun Tanpa Sorotan

BeritaNasional.ID KUPANG — Dalam sunyi bukit-bukit kapur dan lembah hijau Niki-Niki, nama Cornelius Nubatonis masih disebut dengan hormat oleh para tetua dan generasi muda Timor Tengah Selatan (TTS).
Ia bukan pejabat tinggi, bukan pula tokoh nasional yang menghiasi halaman sejarah negeri. Namun, jejak pengabdiannya telah mengubah wajah pendidikan, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat di pedalaman TTS selama masa-masa genting pembangunan Indonesia pasca-kemerdekaan.
Lahir pada 6 Juni 1930 di Niki-Niki, Kecamatan Amanuban Tengah, Cornelius Nubatonis tumbuh dalam lingkungan sederhana, di tengah masyarakat agraris yang hidup dari ladang dan ternak.
Dari tanah yang keras dan tangan yang terampil, ia belajar arti ketekunan. Dan dari iman serta pendidikan, ia membangun keyakinan bahwa perubahan sejati dimulai dari hati dan pikiran yang tercerahkan.
Cornelius memulai kariernya sebagai guru sekolah rakyat—di masa ketika pendidikan di Timor Tengah Selatan masih sangat terbatas.
Ia mengajar di sekolah yang berdinding bambu, beratap ilalang, dan tanpa meja kursi layak. Dengan celana pendek dan batu tulis sebagai perlengkapan utama, ia menanamkan semangat belajar di hati anak-anak kampung.
Kisah ini menjadi legenda lokal: seorang guru yang tidak menuntut kenyamanan, tetapi menuntut dirinya untuk memberi makna. Ia mengajarkan membaca dan menulis, tetapi juga menanamkan harga diri dan kecintaan pada tanah kelahiran.
“Bapak Nubatonis bukan hanya guru, tapi cahaya yang menyalakan api semangat di dada anak-anak,” ujar Alexander S. Nubatonis, Putra Sulung Cornelius Nubatonis kepada Bernas, Selasa 11 November 2025.
Ketekunan dan integritas Cornelius tidak luput dari perhatian pemerintah. Pada masa kepemimpinan Bupati Kusa Nope (1966–1973), ia diangkat sebagai Ketua merangkap anggota Badan Pemerintahan Harian Kabupaten Timor Tengah Selatan, bersama tiga rekannya: J. Tutfaot, Y. Christian, dan P. Fallo.
Tugas itu bukan sekadar jabatan administratif, tetapi tanggung jawab untuk menata sistem pemerintahan lokal di tengah masa transisi menuju Orde Baru.
Cornelius membawa nilai-nilai pendidikan ke dunia birokrasi: disiplin, transparansi, dan pelayanan. Ia memandang jabatan bukan sebagai alat kekuasaan, tetapi sebagai ruang pengabdian untuk menata kehidupan rakyat.
Lambang Garuda di dadanya menjadi simbol kepercayaan negara, namun baginya, Garuda itu hidup dalam kerja nyata—bukan dalam tanda pangkat.
Salah satu karya penting Cornelius Nubatonis adalah keterlibatannya dalam pembentukan desa-desa gaya baru serta pemetaan batas wilayah administratif di TTS.
Program ini merupakan bagian dari upaya nasional membangun pemerintahan desa modern melalui Program Pembangunan Masyarakat Desa (PMD) yang dimulai sejak 1956.
Dengan ketekunan luar biasa, Cornelius menempuh perjalanan jauh—menunggang kuda, berjalan kaki, bahkan bermalam di kampung-kampung terpencil—demi memastikan batas wilayah antar desa di Kecamatan Amanatun, Mollo, dan Amanuban.
Ia percaya, garis batas yang jelas akan menciptakan pemerintahan yang tertib dan masyarakat yang adil.
Sebuah kisah yang masih sering diceritakan turun-temurun terjadi saat Cornelius berkunjung ke kerajaan adat Boti.
Rombongan disambut dengan derap pasukan berkuda. Namun, ketika bertemu sang raja, konon pasukan itu tiba-tiba lenyap tanpa suara, tanpa jejak kaki kuda—seolah memberi penghormatan mistis kepada sosok yang datang dengan niat tulus.
m
Dalam hal perpajakan, Cornelius Nubatonis menciptakan terobosan yang kini dianggap revolusioner untuk zamannya. Ia memperkenalkan sistem “Fiso Poni”, istilah dari bahasa Dawan yang berarti menabung untuk membayar pajak.
Konsep ini diwujudkan dalam celengan bambu, atau Tuke Poni, tempat masyarakat menyisihkan uang sedikit demi sedikit sepanjang tahun untuk pembayaran pajak bumi dan bangunan.
Pada masa itu, Cornelius bahkan mengumpulkan pajak dalam karung terigu—sebuah pemandangan sederhana namun sarat makna: rakyat membayar pajak dengan ikhlas, hasil dari menabung dan bekerja keras.
“Fiso Poni” bukan hanya kebijakan ekonomi, tetapi juga pendidikan moral tentang tanggung jawab dan kemandirian. Ia menyesuaikan sistem fiskal dengan kebiasaan budaya masyarakat Atoin Meto yang hidup dari pertanian dan ternak, menjadikan kewajiban negara terasa ringan dan bermartabat.
Cornelius dikenal dengan pepatah bijaknya:
“Mepu on usif tah on ate, mepu on ate tah on usif.”
(Bekerja seperti raja, makan seperti hamba; bekerja seperti hamba, makan seperti raja.)
Falsafah ini menjadi nasihat turun-temurun bagi masyarakat Timor.
Pesan yang tampak sederhana namun sarat nilai: hanya dengan kerja keras dan kerendahan hati, seseorang akan menikmati kehidupan yang sejahtera.
Bagi Cornelius, kerja adalah ibadah, dan tanah yang digarap dengan tekun adalah tanda cinta pada Tuhan dan negeri.
Menjaga Alam Seperti Menjaga Tubuh
Jauh sebelum dunia bicara tentang “sustainability”, Cornelius telah menanamkan kesadaran ekologis yang mendalam.
Ia berkata,
“Hutan adalah rambut bumi, gunung dan batu adalah tulangnya, air adalah darahnya, dan tanah adalah dagingnya.”
Filosofi itu mengajarkan masyarakat untuk memperlakukan alam seperti tubuh sendiri—tidak merusak, tidak rakus, dan selalu menjaga keseimbangan.
Pemikiran ekologisnya melampaui zamannya, menjadikan Cornelius bukan hanya pemimpin administratif, tetapi juga pemikir lingkungan hidup dari pedalaman Timor.
Jejak Warisan: Murid-Murid Menjadi Pemimpin
Warisan Cornelius Nubatonis hidup dalam diri murid-muridnya yang kemudian menjadi
tokoh besar di TTS.
Beberapa di antaranya adalah Dr. Yohanis Kallau, Drs. Pieter Lobo, Drs. Benny Litelnoni, dan Dr. Gomer Liufeto—para figur yang melanjutkan perjuangannya di bidang pendidikan dan pemerintahan.
Pieter Lobo dan Benny Litelnoni bahkan menjabat sebagai Wakil Bupati Timor Tengah Selatan, masing-masing pada periode 2003–2008 dan 2009–2013.
Mereka adalah bukti nyata bahwa pengaruh seorang guru sejati tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menembus generasi dan kebijakan.
Menjelang masa pensiun, Cornelius menjabat sebagai Kepala Sekolah Dasar Nonohonis di Kota SoE. Di sana, ia menanamkan disiplin, kejujuran, dan kasih sayang sebagai inti pendidikan dasar.
Setelah purna tugas, ia kembali ke kehidupannya yang sederhana—berkebun dan beternak.
Baginya, tanah bukan sekadar sumber hidup, tetapi cermin hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Warisan yang Hidup dalam Keheningan
Kini, puluhan tahun setelah kepergiannya, nilai-nilai yang ditinggalkan Cornelius Nubatonis tetap berakar dalam kehidupan masyarakat Timor Tengah Selatan.
Ia adalah guru, pemimpin, sekaligus filsuf pedesaan—sosok yang mengajarkan bagaimana membangun tanpa meninggalkan akar budaya.
Dalam setiap ladang yang subur, dalam celengan bambu yang masih digunakan sebagian warga, dalam semangat anak-anak TTS yang menempuh pendidikan dengan tekun—roh pengabdian Cornelius Nubatonis masih hidup.
Mengenang Cornelius Nubatonis adalah mengenang arti sejati dari pengabdian: bekerja dalam kesunyian, menanam dalam kesulitan, dan menuai dalam keabadian.*
Alberto/Bernas



