SumateraSumatera Utara

Hasil Rapat Koordinasi dan Cek Lapangan Kadis Perindag ESDM Provsu dengan Bulog Sumut Terkait Isu Kelangkaan Minyakita

BeritaNasional.ID MEDAN, SUMUT -‎Di tengah isu kelangkaan Minyakita di pasaran, hasil monitoring yang dilakukan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan ESDM Sumatera Utara justru menemukan fakta berbeda. Ribuan ton minyak goreng itu ternyata masih menumpuk di gudang milik Bulog Senin, (13/4/2026).

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan ESDM Sumut, Dedi Jaminsyah Putra Harahap, mengungkapkan bahwa dari hasil pemantauan di empat gudang Bulog di wilayah Kota Medan dan sekitarnya, total stok Minyakita mencapai sekitar 2.415 ton.

“Dari jumlah tersebut, sekitar 2.388 ton dialokasikan untuk program Bantuan Pangan (Bapang), sementara hanya 27 ton yang tersedia untuk distribusi non bapang,” kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan ESDM Sumut, Dedi Jaminsyah Putra Harahap,  Rabu (15/4/2026).

Stok Besar di Gudang

Monitoring dilakukan di beberapa titik, di antaranya Gudang Mustafa, Jemadi, Mabar, dan Labuhan Deli. Gudang Mustafa saja menyimpan sekitar 648 ton Minyakita, sementara Gudang Jemadi mencapai 939,6 ton. Gudang Mabar juga mencatat stok signifikan, yakni sekitar 800 ton untuk program bantuan pangan.

Namun, Gudang Labuhan Deli hanya difokuskan untuk penyimpanan beras.
Selain minyak goreng, gudang-gudang tersebut juga menyimpan ribuan ton beras, baik dalam kemasan maupun non-kemasan, sebagai bagian dari program stabilisasi pangan.

Distribusi Tersendat

Meski stok melimpah, distribusi Minyakita ke masyarakat ternyata belum optimal. Berdasarkan data sistem Simirah periode Januari hingga Maret 2026, penyaluran ke pengecer masih jauh dari jumlah pasokan yang masuk ke Bulog.

Januari: hanya 33% tersalurkan
Februari: 47%
Maret: kembali turun menjadi 33%
Sisanya masih menjadi stok yang belum terdistribusi atau belum terinput dalam sistem.

Penyebab Utama: Program Bapang Tersendat

Dedi menjelaskan, salah satu penyebab utama tersendatnya distribusi adalah mekanisme Program Bantuan Pangan (Bapang) yang mensyaratkan penyaluran dalam bentuk paket, yakni beras dan Minyakita secara bersamaan.

Masalah muncul karena keterbatasan bahan baku kemasan beras (biji plastik) yang masih bergantung pada impor. Kondisi global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak mentah, ikut memicu kenaikan harga bahan baku plastik tersebut.
Akibatnya, distribusi beras terhambat, dan secara otomatis penyaluran Minyakita juga ikut tertahan di gudang.

Solusi: Distribusi Parsial

Untuk mengatasi kondisi ini, Dinas Perindag ESDM Sumut mendorong adanya kebijakan dari pemerintah pusat agar Bulog dapat menyalurkan bantuan secara parsial.
“Kami mengusulkan agar Minyakita bisa didistribusikan terlebih dahulu ke masyarakat, tanpa harus menunggu beras. Setelah itu, baru beras disalurkan jika kendala kemasan sudah teratasi,” jelas Dedi.

Selain itu, koordinasi antara Bulog Kanwil Sumut dan Pemerintah Provinsi juga dinilai perlu diperkuat guna memastikan distribusi berjalan lebih optimal.

Ketersediaan Aman, Akses Terbatas

Secara umum, pemerintah memastikan ketersediaan bahan pokok di Sumatera Utara dalam kondisi aman. Namun, terbatasnya distribusi Minyakita ke pasar menjadi faktor utama yang memicu kelangkaan di tingkat masyarakat.

Dengan stok yang sebenarnya cukup besar, kebijakan distribusi dinilai menjadi kunci utama untuk menstabilkan harga dan memastikan Minyakita kembali mudah diperoleh masyarakat. (Kiel/Bernas)

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button