
BeritaNasional.id, SITUBONDO — Bupati Situbondo Yusuf Rio Prayogo mengajak peternak ayam petelur dari kalangan Gen Z dan milenial untuk meningkatkan produksi telur lokal. Langkah ini diambil menyusul masih rendahnya produksi telur di Kabupaten Situbondo dibanding kebutuhan harian masyarakat. Senin (23/2/2026).
“Telur itu paling volatile, paling naik turun. Kebutuhan kita 17 ton per hari, tapi produksi lokal hanya sekitar 3,5 ton. Sisanya ambil dari luar daerah. Kalau pasokan luar habis, harga langsung naik,” ujar Rio saat berdialog dengan para peternak, belum lama ini.
Menurut dia, ketergantungan pada pasokan luar daerah membuat harga telur di Situbondo tidak stabil. Karena itu, ia meminta Dinas terkait segera mengumpulkan seluruh peternak telur dan pedaging untuk disusun strategi pengembangan produksi.
Rio menegaskan, kandang-kandang yang sudah ada harus dimanfaatkan secara optimal. Ia bahkan membuka peluang kerja sama perbankan melalui skema pembiayaan UMKM guna membantu permodalan peternak.
“Masalahnya banyak, terutama modal dan pendampingan. Selama ini fokus dinas lebih banyak ke kambing dan sapi. Peternak ayam kurang didampingi. Sekarang harus ada pendampingan serius supaya mereka bisa naik kelas,” katanya.
Ia juga memastikan, program pemerintah daerah, termasuk pengadaan kebutuhan pangan seperti MBG/MBK, wajib menyerap produksi lokal.
“Saya sudah sampaikan, ini perintah Presiden, harus ambil dari lokal. Itu wajib. Nanti kita tuangkan dalam kebijakan anggaran perubahan,” tegasnya.
Semangat beternak juga datang dari kalangan pelajar. Ahmad Hasan Saifur Ridzal (16), siswa kelas 2 di SMA Negeri 1 Asembagus, mulai menekuni usaha ternak ayam petelur sejak kelas 1 SMA.
Warga Gadingan Timur, Kecamatan Jangkar itu memulai usahanya pada Januari 2025 dengan tiga ekor ayam petelur. Ia mengaku tertarik setelah melihat potensi keuntungan dari usaha telur yang bisa dipanen setiap hari.
“Melihat di media sosial, kayaknya tiap hari bisa ambil hasil. Jadi tertarik,” ujarnya.
Ahmad memanfaatkan kandang milik keluarga dan memulai usaha secara bertahap. Modal awal diperoleh dengan cara mencicil pembelian ayam. Kini, dari hasil penjualan telur, ia bisa meraup keuntungan sekitar Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per hari.
“Telur tiap hari diambil. Kuncinya konsisten saja,” katanya singkat.
Kisah Ahmad menjadi contoh bahwa sektor peternakan tak lagi identik dengan generasi lama. Dengan dukungan kebijakan dan pendampingan yang tepat, Pemkab Situbondo berharap semakin banyak anak muda terjun ke sektor peternakan guna memperkuat ketahanan pangan daerah.



