Launching “Probolinggo Kota Bersolek”, Wali Kota Paparkan Kilas Prestasi 1 Tahun Kepemimpinan

BeritaNasional.ID, PROBOLINGGO JATIM– Pemerintah Kota Probolinggo resmi meluncurkan city branding baru bertajuk “Probolinggo Kota Bersolek” yang dirangkaikan dengan pemaparan kilas prestasi satu tahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Probolinggo. Kegiatan tersebut digelar di Paseban Sena, Selasa (31/3/2026).
Wali Kota Probolinggo, Dr. H. Aminuddin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pembangunan Kota Probolinggo diarahkan pada satu tujuan besar, yakni meningkatkan kualitas hidup masyarakat sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Menurutnya, upaya tersebut dilakukan melalui penguatan daya saing daerah, pembangunan berkelanjutan, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta pengembangan ekonomi yang inklusif berbasis potensi lokal. Namun demikian, pembangunan tidak hanya bergantung pada program dan anggaran, tetapi juga memerlukan identitas kuat yang mampu menyatukan visi seluruh elemen masyarakat.
“City branding bukan sekadar tampilan luar sebuah kota, tetapi merupakan jiwa yang menentukan arah pembangunan bersama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perubahan dari Impressive Probolinggo City menjadi Probolinggo Kota Bersolek bukan hanya pergantian nama, tetapi sebuah perubahan paradigma pembangunan. Dari orientasi global menuju penguatan potensi lokal, serta dari pembangunan fisik semata menuju pembangunan yang berkelanjutan.
Konsep “Kota Bersolek” sendiri tidak hanya dimaknai sebagai mempercantik kota secara fisik, tetapi juga menghadirkan kota yang lebih tertata, bersih, nyaman, manusiawi, dan berdaya saing. Branding ini juga mencerminkan semangat masyarakat dalam membangun kota modern di kawasan teras Gunung Bromo dengan tetap mengangkat potensi alam dan identitas budaya lokal.
Istilah BERSOLEK juga memiliki makna filosofis sebagai gerakan bersama yang mencerminkan nilai Bersih, Elok, Ramah, Sejahtera, Original, Lestari, Edukatif, dan Kreatif.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga memaparkan berbagai capaian selama satu tahun masa kepemimpinannya. Ia menyebut tahun pertama pemerintahan merupakan fase penting dalam membangun fondasi pembangunan kota.
Di bidang pelayanan publik, pemerintah terus mempercepat dan mempermudah layanan kepada masyarakat. Sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, dan Forkopimda juga menjadi kunci dalam menjaga stabilitas serta mempercepat pembangunan.
Ia juga mengingatkan bahwa pada awal masa jabatannya, pemerintah melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat dengan berkantor di kelurahan, guna melihat dan merasakan langsung kondisi di lapangan.
Di sektor lingkungan, Kota Probolinggo berhasil meraih Penghargaan Adipura berkat pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program 1 RW 1 Tossa, penguatan bank sampah, serta penghijauan kota.

Sementara di bidang ekonomi, pemerintah menghadirkan Klinik UMKM serta memperkuat Koperasi Merah Putih di 29 kelurahan. Potensi wisata lokal juga terus dikembangkan sebagai penggerak ekonomi sekaligus kebanggaan daerah.
Program unggulan Kartu Amanah juga telah disalurkan kepada para ketua RT dan RW sebagai bagian dari integrasi bantuan sosial bagi masyarakat, baik kategori kemiskinan maupun nonkemiskinan. Program tersebut turut berkontribusi dalam menekan angka kemiskinan hingga 0,69 persen sekaligus mengurangi ketimpangan ekonomi.
Pada sektor infrastruktur, pemerintah menata ruang publik dan kawasan strategis kota agar lebih inklusif dan nyaman. Salah satunya dengan menata kawasan Alun-alun dengan mensterilkan pedagang kaki lima serta menyediakan pusat kuliner baru di kawasan GOR A. Yani dan pedestrian trotoar.
Akses transportasi juga semakin diperkuat dengan hadirnya layanan kereta komuter yang menghubungkan Kota Probolinggo dengan Pasuruan, Sidoarjo hingga Surabaya.
Di bidang pendidikan, Pemkot menargetkan penghapusan buta huruf melalui program Paket A, B, dan C, serta menyiapkan beasiswa bagi masyarakat kurang mampu. Pemerintah juga mendukung program strategis nasional Sekolah Rakyat dengan menyiapkan lahan seluas 5,2 hektare di Kedungasem serta tiga lokasi dapur SPGG.
Sementara di sektor kesehatan, seluruh warga Kota Probolinggo kini telah tercakup dalam program Universal Health Coverage (UHC). Pemerintah juga menghadirkan layanan Klinik Lansia yang tetap buka di akhir pekan di Museum dr. Saleh.
Selain itu, Pemkot Probolinggo menjadi pelopor digitalisasi layanan kesehatan dengan mengintegrasikan seluruh Posyandu dan menghadirkan sistem pemantauan kesehatan ibu hamil secara real time guna mencegah risiko kematian ibu sejak dini.
Berbagai upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Pertumbuhan ekonomi Kota Probolinggo tercatat mencapai 5,85 persen, sementara realisasi pendapatan daerah mencapai 101,98 persen dari target 2025, dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai 102,1 persen.
Meski demikian, Wali Kota menegaskan masih banyak pekerjaan besar yang harus diselesaikan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan dalam membangun kota.
“Pembangunan Kota Probolinggo harus cepat, adil, dan berkelanjutan. Bukan hanya terlihat, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat,” katanya.
Melalui momentum launching tersebut, ia mengajak seluruh unsur pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat untuk menjadikan Probolinggo Kota Bersolek bukan sekadar slogan, melainkan gerakan bersama dalam menjaga kebersihan kota, merawat budaya lokal, serta memperkuat ekonomi rakyat.
“Kota yang hebat tidak hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi oleh seluruh warganya,” pungkasnya.
(Yuli/ADV)



