Nasional

Menjadi Muhammadiyah di Era ber “Kemajuan”

KH Toha Muntoha, pengasuh Ponpes Minhajut Thullab, Krikilan Glenmore Banyuwangi

Muhammadiyah adalah tafsir berjalan yang berikhtiar memandu ummat untuk senantiasa cerdas mengelola problem zaman sehingga semangat Al Ma’un tidak berhenti hanya di amal usaha, tapi mengejawantah dalam semangat improvitatif dan inovatif.

Al Ma’un adalah legenda hidup pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan yang saat di tanya oleh murid-murid nya, “mengapa tidak beranjak mengajarkan surat yang lain”.

Dahlan kemudian bertanya, “apakah mereka sudah mengamalkan surat Al ma’un atau belum”.

Para murid menjawab, “mereka sudah mengamalkan bahkan sudah menjadikan Al Ma’un sebagai bacaan pada setiap salat”.

“Kalian sudah hafal surat Al Ma’un, tapi bukan itu yang saya maksud amalkan.
Di amalkan artinya di praktekkan dikerjakan.
Rupanya saudara saudara belum mengamalkannya”, ucap Dahlan seperti dikutip Junus Salam dalam KH Ahmad Dahlan Amal dan Perjuangannya.

Hari ini Al Ma’un dan sistem pendidikan berbasis sekolah serta ijtihad Muhammadiyah sudah menjadi mainstream.

Karenanya, di era jargon ber “kemajuan” Muhammadiyah perlu lebih gahar menyuarakan semangat “fa Idza faroghta fanshob wa ila Robbika farghob”.

Dalam dunia IT sejenak terlena oleh buaian mainstream hingga lalai berimprovisasi akan bernasib sama dengan Nokia yang terlempar dari pasar tergerus oleh pendatang baru yang anti mainstream.

Menjadi Muhammadiyah di era ber kemajuan adalah kemampuan melengkapi dan menyempurnakan mainstream Al Ma’un dengan mainstream baru yang selama ini dikuasai oleh mata sipit dan hidung mancung berupa bisnis dan ekonomi.

Dalam ijtihad kami penguasaan bisnis dan ekonomi bukan lagi fardhu kifayah, tapi sudah fardhu ain. Karena jika wajibnya wudlu mengikuti wajibnya salat, demikian pula wajibnya menguasai bisnis dan ekonomi mengikuti pula wajibnya zakat dan haji.

Dalam Al-Qur’an, semangat demikian tertuang di surat Quraisy yang memberi petunjuk mulai dari hulu hingga hilir, tata kelola bisnis dan ekonomi.

Jaringan amal usaha Muhammadiyah yang menggurita dari Sabang sampai Merauke adalah modal awal yang sangat luar biasa dahsyat jika disentuh dengan kultur ikhlas sekaligus cerdas seperti yang selama ini menjadi stimulus Al Ma’un.

Akhir kata kombinasi Al Ma’un dan Quraisy akan menjadikan Muhammadiyah membumikan semangat risalah Muhammadiyah ke seluruh alam.

Selamat bermuktamar…!

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
Close