Petani Probolinggo Bersama UPM dan Kemdiktisaintek Beralih ke Pupuk Organik: Solusi Hemat dan Ramah Lingkungan untuk Budidaya Bawang Merah

BeritaNasional.ID, PROBOLINGGO JATIM-Petani bawang merah di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, tengah menghadapi tantangan besar terkait penurunan luas panen yang diperkirakan terus menurun akibat degradasi tanah dan tingginya biaya input pertanian. Namun, upaya perbaikan telah dilakukan melalui kolaborasi dengan Universitas Panca Marga (UPM) dan didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia. Salah satu solusi yang diusung adalah pemanfaatan pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas tanaman dengan cara yang lebih ramah lingkungan dan hemat biaya.
Program yang diberi nama “Teknologi Bio-Pulverizer dengan Solid-State Fermentation untuk Meningkatkan Efisiensi Biaya dan Pencegahan Degradasi Tanah dalam Produksi Pupuk Organik Bawang Merah Probolinggo” ini, didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di bawah naungan Kemdiktisaintek, dengan sumber dana hibah Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun 2025 melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) dan Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). Fokus utama program ini adalah penerapan Bidang Fokus Pangan dengan Prioritas Riset Ekonomi Hijau.
Tim yang mengerjakan program ini berasal dari berbagai disiplin ilmu di Universitas Panca Marga (UPM), dengan Alief Muhammad yang memimpin sebagai Ketua Tim, seorang dosen Teknik Mesin. Selain itu, ada juga Sulis Dyah Chandra Indayani dari jurusan Agroteknologi, Indah Noor Dwi Kusuma Dewi dengan bidang keahlian Teknik Lingkungan, serta dua mahasiswa yang turut serta, yaitu Mava Nurhaliza Helsinky dan Wulan Aprillia.
Mereka bekerja sama untuk membantu petani Probolinggo mengatasi masalah produksi pupuk organik dan manajemen usaha mereka.
Petani di Probolinggo selama ini terhambat oleh proses konvensional dalam pembuatan pupuk organik dari kotoran ternak (KOHE) yang membutuhkan waktu lama hingga 30 hari.
Selain itu, keterbatasan tenaga kerja dan ketidakpastian harga pasar bawang merah semakin memperburuk kondisi. Namun, berkat penerapan Mesin Bio-Pulverizer yang dapat menghancurkan KOHE menjadi partikel halus dan penggunaan teknologi Solid-State Fermentation (SSF), waktu fermentasi dapat dipersingkat menjadi kurang dari sembilan hari. Dengan cara ini, proses produksi pupuk organik menjadi lebih efisien, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, dan mendukung keberlanjutan tanah.
Diharapkan dengan adanya program ini, petani di Probolinggo dapat meningkatkan kapasitas teknis mereka dalam produksi pupuk organik, meminimalkan kerugian akibat fluktuasi harga pasar, dan memperbaiki kondisi tanah untuk mendukung budidaya bawang merah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Keberhasilan program ini dapat menjadi model yang diharapkan dapat direplikasi oleh kelompok tani lainnya di seluruh Indonesia.
Program ini juga mendapatkan pengakuan dari akademisi dan masyarakat, dengan mahasiswa yang terlibat memperoleh rekognisi SKS. Dengan berbagai pencapaian ini, program pengabdian ini tidak hanya mendukung ekonomi petani, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan riset dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
(Yul/Bernas)



