Nusa Tenggara Timur

Tiga Calon Rektor Undana Jalani Wawancara di Kemendiktisaintek, Prof. Jefri Bale Ungkap Fokus Pembahasan

BeritaNasional.ID, KUPANG — Proses pemilihan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) memasuki tahapan krusial.

Tiga calon rektor resmi menjalani wawancara dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) pada Kamis, 13 November 2025.

Mereka adalah Prof. Malkisedek Taneo, Prof. Jefri Bale, dan Prof. Apris Adu.

Salah satu calon rektor, Prof. Jefri Bale, membeberkan sejumlah poin penting yang dibahas dalam sesi wawancara yang berlangsung sekitar 15 menit secara tatap muka melalui media daring.

Menurutnya, Mendiktisaintek, Prof. Brian Yuliarto, memberikan perhatian besar pada arah visi-misi calon pemimpin kampus, termasuk strategi pengembangan Undana dalam lima tahun ke depan.

“Wawancara ini merupakan bagian penting menuju pemilihan terakhir dengan Menteri. Kami diminta menjelaskan bagaimana membawa Undana ke level berikutnya melalui visi, misi, program kerja, hingga strategi implementasi,” ungkap Prof. Jefri kepada Bernas.

Dalam wawancara tersebut, Menteri menyoroti secara khusus pengelolaan riset dan pengabdian kepada masyarakat.

Hal ini selaras dengan filosofi Kampus Berdampak atau Kemendiktisaintek Berdampak yang menekankan kontribusi nyata perguruan tinggi bagi pembangunan sosial dan ekonomi.

Prof. Jefri menjelaskan komitmennya untuk memperkuat hilirisasi riset. Ia menilai, riset yang menghasilkan produk terapan, paten, atau inovasi yang digunakan masyarakat akan memberikan dampak sosial sekaligus meningkatkan pendapatan institusi.

“Kami ingin mendorong riset yang tidak hanya selesai di laboratorium. Produk yang dihilirisasi dapat memberi kontribusi signifikan bagi pendapatan Undana,” jelasnya.

Menteri Prof. Brian juga menanyakan strategi para calon rektor dalam memperbaiki postur anggaran kampus.

Saat ini, pendapatan Undana masih didominasi oleh sumber akademik seperti Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Porsi pendapatan non-UKT baru berada di atas 12 persen, jauh dari standar ideal minimal 20 persen.

“Beliau bertanya bagaimana strategi kami meningkatkan pendapatan non-akademik agar proporsinya berimbang dengan UKT,” ujar Prof. Jefri.

Sebagai jawaban, Prof. Jefri menekankan pentingnya pengembangan unit-unit layanan kampus, termasuk rumah sakit pendidikan yang saat ini tengah diperbaiki kualitasnya.

Ia berharap, dalam waktu dekat, rumah sakit tersebut mampu memberikan layanan unggul sekaligus menjadi salah satu penopang pendapatan non-akademik.

Selain itu, optimalisasi berbagai aset kampus juga menjadi sorotan untuk meningkatkan kemandirian finansial Undana.

Dengan selesainya proses wawancara ini, Undana kini menunggu tahapan final yakni pemilihan langsung dengan Mendiktisaintek yang memiliki bobot suara sekitar 35 persen.*

Alberto/Bernas

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button