Tarling Bertajuk Neuleuman Poekna Peuting: KDM Sentil Budaya “Proposal Lebaran” Tim Sukses di Tasikmalaya

Beritanasional.id – Tasikmalaya, Jawa Barat,- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, menjadikan momentum Tarawih Keliling (Tarling) bertajuk “Neuleuman Poekna Peuting” (Mendalami Gelapnya Malam) yang digelar di Lapangan Desa Tanjungpura, Rajapolah, pada Rabu malam (25/2/2026), untuk melontarkan kritik pedas terhadap tradisi “proposal Lebaran” yang kerap membayangi pejabat daerah menjelang Idul Fitri, Kamis (26/2/2026).
Dari pantauan tim beritanasional.id, ribuan warga, terutama kaum ibu-ibu, telah memadati lokasi sejak sore hari demi bersalaman dan berfoto dengan orang nomor satu di Jawa Barat. Kehadiran penceramah kondang Gus Muwafiq menambah kekhidmatan acara yang sarat nuansa religius sekaligus sosial.
Kritik atas Tradisi Amplop dan Sarung
Dalam sambutannya, KDM menyoroti fenomena sosial yang muncul setiap menjelang Lebaran: tuntutan ekonomi yang memicu ketegangan keluarga hingga potensi kriminalitas. Ia menyinggung kebiasaan kelompok tertentu, termasuk tim sukses, yang mendatangi kepala daerah dengan proposal bantuan Lebaran.
“Menjelang Lebaran, saat kantor-kantor mulai tutup, Bupati justru sering dikejar-kejar tim sukses yang membawa proposal. Ada yang mengeluh, bahkan marah hanya karena merasa tidak diberi sarung atau tidak diingat,” tegasnya di hadapan ribuan warga.
Kontradiksi Ekspektasi Publik
KDM menilai ada ironi dalam ekspektasi masyarakat. Publik menuntut pemerintahan bersih dan bebas korupsi, namun di sisi lain masih berharap pejabat membagikan uang atau barang secara personal menjelang hari raya.
Ia mengajak masyarakat, khususnya pendukung politik, untuk mengubah pola pikir dalam menilai keberhasilan seorang pemimpin. “Kualitas kepemimpinan tidak boleh diukur dari seberapa banyak paket sembako atau sarung yang dibagikan, melainkan dari kualitas layanan publik yang nyata dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Ajakan Mengubah Mindset
KDM menekankan agar tim sukses berhenti membawa proposal menjelang Lebaran. Ia mendorong masyarakat untuk lebih menghargai pencapaian pembangunan ketimbang pemberian barang.
“Nanti kalimatnya harus diubah. Katakan, alhamdulillah Pak Bupati tidak membagi sarung, tapi jalannya mulus. Alhamdulillah sekolah sekarang tidak bayar, dan layanan pemerintah bersih tanpa pungutan. Hal itu jauh lebih berharga bagi masyarakat,” pungkasnya.
Silaturahmi dan Pesan Penyejuk
Acara Tarling ditutup dengan tausiah Gus Muwafiq yang menekankan pentingnya menjaga silaturahmi. Kehadiran KDM di Tasikmalaya bukan hanya memperkuat ikatan antara pemerintah dan masyarakat, tetapi juga membuka ruang refleksi kritis atas budaya politik menjelang Lebaran yang kerap melenceng dari esensi pelayanan publik.
Laporan: Chandra Foetra S.



