Rahmat Karno Sayangkan Mutasi Kader Buteng, Parahnya Yang Masuk Malah Dari Luar

BERITANASIONAL.ID, BUTON TENGAH – Beberapa Kader potensial Buteng di Mutasi oleh Bupati Buton Tengah (Buteng) Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Selasa (14/09/2021) lalu. Mutasi tersebut tertuang dalam surat keputusan Bupati Nomor : 531 tahun 2021 tentang pengangkatan esselon II, pegawai administrator dan pengawas lingkup pemerintah Buton Tengah.
Tindakan tersebut amat disayangkan oleh putra daerah yang lagi melanjutkan studi di kota Lulo tersebut.
Menurutnya, alasan pemindahan kader tersebut sangat tidak rasional. Padahal selama menduduki posisi tertentu mereka selalu bekerja profesional.
Sebut saja Firman Kasim. Sosok ini merupakan kader yang memiliki sejumlah talenta untuk daerah.
Tak mau melihat karirnya bagus, sejumlah orang kemudian melakukan provokasi kepada Bupati Samahuddin untuk menjatuhkan dirinya.
Parahnya, informasi yang disampaikan oknum kepada orang nomor satu Buteng tanpa melalui filter dan tanpa melakukan konfirmasi kepada mereka.
Kemudian kader yang juga menjadi korban dari provokasi oknum kebupati Buteng adalah Hermasyah.
Hermansyah adalah merupakan korban kedua dari oknum yang mengompori pimpinan yang diduga mengatakan bahwa posisinya dapat mengancam periode kedua bupati Buteng.
Pasalnya, mantan Camat Mawasangka timur itu dikenal dekat dengan tokoh pendidikan Sulawesi Tenggara yang juga putra daerah Buton Tengah yaitu Azhari.
“Saya bingung dengan beliau (Bupati) ini, kenapa mereka dipindahkan. Parahnyanya salah satu dari mereka diturunkan jabatannya menjadi kepala bidang,” ucap Rahmat Karno, saat dikonfirmasi melalui sambungan telponnya, Jumat (17/09/2021).
Apalagi, kata Rahmat Karno, mereka berdua merupakan sosok yang banyak berjasa dalam pemekaran Buton Tengah.
Bahkan lebih parahnya lagi, sambung Rahmat, sosok mereka merupakan garda terdepan dalam memenangkan orang nomor satu Buteng tersebut.
“Saya memang kaget. Padahal mereka ini orang yang ‘berkeringat’ pada pilkada lalu. Selain itu juga mereka profesional dan memiliki prestasi,” sambungnya.
Dalam kebingungannya, Rahmat Karno kemudian mengulik sedikit masalah yang ada di Buton Tengah tekait dugaan pungli yang dilakukan di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (BKPSDM) beberapa waktu lalu oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.
Disitu dia coba membandingkan dengan masalah mutasi yang dilakukan orang nomor satu Buteng itu.
“Saya tidak tau persis masalahnya apa. Tapi kalau persoalan diskusi politik saya kira itu wajar saja. Daerah ini (Buteng) pun berdiri karena berawal dari diskusi politik,” katanya.
“Lantas saya mau tanya sebenarnya, mana yang lebih parah diskusi politik atau dugaan pungli yang dilakukan oleh BKD beberapa waktu lalu. Kenapa bukan disana yang dirotasi atau bahkan diturunkan jabatannya,” bingungnya.
Tak sampai disitu, orang yang dipilih untuk untuk menggeser posisi kader tersebut (salah satu diantara mereka) adalah yang berdomisili diluar Buton Tengah.
Diujung kalimatnya, Rahmat Karno yang juga putra daerah Buton Tengah itu berpesan kepada Bupati Samahuddin agar dalam setiap mengambil keputusan jangan pada saat lagi emosi.
“Apalagi mendengarkan informasi sepihak, yang mana sebentar lagi akan meninggalkan jabatannya. Masyarakat mengenang beliau dengan kesan positif, bukan kesan negatif,” tutup Rahmat Karno (Win).



