
BeritaNasional.ID, Langkat – Puluhan petani yang berada di 4 desa di 2 kecamatan di Langkat, Sumut, menggelar aksi demo di DPRD Langkat, terkait tanaman petani yang mati dan terendan air. Aksi demo di DPRD Langkat dimulai pada Selasa dan Rabu (15-16/2/2022).
Puluhan warga (petani) dan pihak perwakilan PT TLE akhirnya dipertemukan anggota DPRD Langkat dari Komisi A,C dan Komisi D, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di ruang banggar DPRD Langkat pada Selasa sore (15/2/2022). Dari RDP tersebut, kedua belah pihak belum menemukan titik temu kesepakatan terkait besaran biaya ganti rugi.
Meidi Kembaren selaku pendampi warga petani menegaskan, sebelum adanya penyelesaian antara PT TLE dengan warga, maka bendungan harus dibuka. Hal itu bertujuan agar genangan air bisa segera surut. Wargapun bisa kembali memanfaatkan lahannya
“PT TLE sudah membuat kesalahan dan merugikan masyarakat. Jadi kita harus segerah mengambil langkah konkrit. Jangan biarkan masyarakat menderita berlarut-larut. Kalau belum ada penyelesaian, maka harus di-standpass. Buka bendungan PT TLE, biar air bisa segera surut,” ucap Meidi.
Tokoh pemuda Langkat itu menambahkan, selama dua bulan lebih, sekitar 30-an hektar kebun sawit warga terendam banjir. Sebahagian sawit disana tidak bisa dipanen, bahkan sudah banyak tanaman yang mati. Dia dan warga berharap, agar wakil rakyat dan Pemkab Langkat segera memberikan jalan keluar untuk persoalan tersebut.
“Warga bukan berniat menghambat pembangunan. Kami hanya menuntut biaya pembebasan lahan yang sudah tergenang, akibat dari bendungan PT TLE. Kami minta ganti untung Rp16 juta/rante (400 meter persegi) untuk lahan yang tergenang, agar kami bisa membeli lahan di tempat lain,” tegasnya.
Menyikapi hal itu, General Manager PT TLE, B Pasribu menegaskan, pihaknya hanya mampu memberikan Rp8 juta/rante untuk biaya pembebasan lahan tersebut. Terkait pembukaan pintu air bendungan, B Pasaribu tak bisa memenuhi permintaan warga tersebut.
“Kesanggupan kita hanya Rp8 juta/rante. Kalau warga setuju, itulah yang akan kita bayar. Terkait masalah bendungan, itu gak bisa kita buka. Kerena, butuh penyesuaian trafo, kalau debit air diturunkan. Nanti, petugas PLN yang repot kalau debit air kita turunkan,” kilah B Pasaribu.

Karena tidak ada kesepakatan dalam RDP tersebut, Dedek Pradesa akhirnya memutuskan untuk menundanya. “Terimakasih atas semua masukannya. Ini semua kan jadi bahan bagi kita nantinya, untuk didiskusikan kembali dan mengambil jalan terbaik,” tandas Dedek.
Dipagi harinya, awak media beritanasional.id, Rabu (16/2/2022) yang mencoba menggali keluhan terkait dampak banjir yang menggenai areal petanian milik petani, di depan gedung DPRD Langkat, menyebutkan, aksi yang kami lakukan ini untuk mengadukan keluhan petani langsung ke DPRD Langkat.
“Areal lahan saya ada 1 hektar Bang ditanami sawit dan tanaman lainnya. Kalau tidak terendam air dan mati, biasanya per 2 minggu paling sedikit dapat juga kami Rp3 juta,.memanen sawit” sebut Robet Ginting, yang memiliki lahan di Dusun 10 Mbacang, Desa Kuta Gajah dan di Desa Ujung Bandar.
Dikatakannya, air yang menggenangi tanaman kami itu sudah berlangsung selama 2,5 bulan sampai saat ini. Tidak hanya pada tanaman kami yang terdampak, akan tetapi sumber air bersih kami juga sudah tidak ada lagi akibat banjir, dan itu dampak dari lembangunan bendungan PT Thong Langkat Energi (PT TLE).
Dua Wakil DPRD Langkat, yakni, Ralin Sinulingga dan Antoni Gunting, yang sedang berada bersama petani, saat dikonfirmasi mengatakan, persoalan petani ini akan kita tampung, aspirasi petani tadi akan kita usahan agar mendapat titik temu kesepakat dengan pihak PT TLE.
“Soal ganti rugi tanaman ini, akan kita fasilitasi agar mendapat titik temu. Namun yang terpenting lagi, pihak perusahaan harus membantu sumber air bersih kewarga yang terdampak dan tidak mendapatkan sumber air bersih.
“Tadi kami rapat pimpinan, paling utama saat ini perusahaan harus membantu air bersih ke warga, untuk kebuhan mereka sehari-hari. Dan terkait uang ganti rugi tanaman milik petani ini, akan kita upayakan selesai secara kesepakatan bersama,” harapnya Antoni Ginting dan Ralin Sinulingga. (Reza)



