Nusa Tenggara Timur

Sosok Prof. Taneo di Bursa Rektor Undana, Pemimpin Visioner dengan Jejak Prestasi Gemilang

BeritaNasional.ID, KUPANG — Suasana kampus Universitas Nusa Cendana (Undana) tampak berbeda dari biasanya. Jumat siang itu, ratusan pasang mata tertuju pada satu pemandangan yang tak biasa. Seorang guru besar, calon pemimpin universitas, melangkah dengan penuh keyakinan. Bukan dari kursi mobil mewah, melainkan dengan berjalan kaki sejauh 700 meter menuju Gedung ICT Center, tempat sekretariat senat berada.

Sosok itu adalah Prof. Malkisedek Taneo, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Undana, yang resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon Rektor Undana periode 2025–2029. Namun, bukan hanya keputusannya maju yang menarik perhatian, melainkan cara ia datang: sederhana, merakyat, dan sarat simbol kebersamaan.

Langit Kupang siang itu cerah. Di jalanan dalam kampus, pemandangan unik mengiringi langkah Prof. Taneo. Ia berjalan tegap, mengenakan kemeja putih bersih dengan selendang khas Nusa Tenggara Timur (NTT) di bahunya. Di kanan-kiri, barisan civitas akademika mengikuti dengan kompak: para senator, guru besar, dosen, mahasiswa, bahkan petugas kebersihan yang sehari-hari menjaga lingkungan kampus tetap asri.

Semua mengenakan busana putih dengan sentuhan kain adat. Warna putih mencerminkan kesucian niat, sementara selendang tenun lokal menjadi identitas budaya yang mengakar. Rombongan ini bukan sekadar formalitas, melainkan pernyataan: pemimpin lahir dari rakyat, bukan dari menara gading.

“Ini bukan sekadar perjalanan, tapi simbol kebersamaan,” ucap Prof. Taneo sembari berjalan.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor Undana, Prof. Simon Sabon Ola, mengkonfirmasi bahwa hingga saat ini sudah ada tiga guru besar yang mendaftar. Mereka adalah Wakil Rektor IV Prof. Jefri Bale, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Prof. Apris Adu, dan Prof. Malkisedek Taneo. “Per hari ini sudah tiga orang yang datang daftar dan mereka semua guru besar. Untuk Pak Melki, setelah dicek, seluruh dokumennya dinyatakan lengkap,” jelas Prof. Simon.

Meski begitu, pendaftaran belum bisa ditutup karena syarat minimal bakal calon adalah empat orang. Panitia masih menunggu satu nama lagi untuk melengkapi persyaratan. “Mudah-mudahan tambah satu lagi supaya memenuhi syarat minimal bakal calon rektor empat orang dan kami bisa menutup pendaftarannya,” ujarnya.

Hingga kini, belum ada satupun pendaftar dari luar Undana, meskipun pengumuman resmi telah disebar ke 80 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta melalui 16 LLDIKTI di seluruh Indonesia, termasuk diunggah di situs resmi Undana. “Kami sudah sebarkan surat melalui website Undana, tapi sampai hari ini dari luar belum ada yang datang. Untuk satu orang yang belum mendaftar juga kami belum tahu bocorannya itu siapa,” pungkas Simon.

Dengan masuknya nama Prof. Taneo, persaingan menuju kursi Rektor Undana kian menarik. Ketiga bakal calon yang sudah terdaftar merupakan sosok berpengaruh di lingkungan kampus dengan pengalaman panjang dalam memimpin.

Dalam pernyataannya usai mendaftar, Prof. Taneo mengaku, keputusannya maju bukanlah hal yang datang tiba-tiba. “Saya merefleksi panjang, melalui banyak pergumulan. Saya berdiskusi dengan para senior dan purnabakti Undana, sampai akhirnya saya simpulkan untuk maju sebagai calon rektor,” tuturnya.

Keputusan itu diambil Minggu lalu, setelah perjalanan panjang kariernya yang dimulai pada 1994. “Saya memulai sebagai dosen sukarelawan, kemudian sekretaris jurusan, ketua jurusan, Wakil Dekan III selama dua periode, sempat merangkap Wakil Dekan I dua tahun, hingga kini menjabat Dekan FKIP sejak 2019,” jelasnya.

Menariknya, sebelum mendaftar, Prof. Taneo juga terlebih dahulu meminta izin kepada dua bakal calon rektor yang sudah mendaftar sebelumnya, yakni Prof. Jefri Bale dan Prof. Apris Adu. “Saya datang dengan etika, meminta restu dan izin. Karena ini bukan sekadar kompetisi, tapi pengabdian,” ujarnya.

Prof. Taneo menegaskan, langkahnya maju didorong oleh semangat keberlanjutan dan keinginan kuat membawa Undana ke arah yang lebih global. “Sejak Undana berdiri pada 1962, FKIP belum pernah memegang jabatan pimpinan universitas. Ini momentum. Kami memegang visi Undana sebagai universitas berorientasi global,” tegasnya.

Guru besar Prodi Sejarah ini menyoroti pentingnya adaptasi terhadap dinamika perguruan tinggi, isu strategis internasional, nasional, hingga kebijakan pemerintah. “Kami berupaya menerjemahkan program strategis seperti ASTA CITA dan kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi ke dalam langkah konkret di Undana,” jelasnya.

Dengan dukungan kuat seluruh civitas akademika, Prof. Taneo percaya diri melangkah. “Saya memberanikan diri maju karena saya percaya kekuatan saya ada pada dukungan seluruh civitas akademika. Ini panggilan untuk mengabdi,” tuturnya.

Sementara itu, Prof. Petrus Ly menegaskan, keberhasilan Prof. Taneo selama menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) adalah bukti nyata kepemimpinannya. Menurutnya, perubahan besar yang terjadi di FKIP bahkan ikut mengubah wajah Undana secara keseluruhan.

“Kalau kita melihat dari kepemimpinan beliau sebagai Dekan FKIP, sudah banyak hal yang dihasilkan. Prof. Taneo telah mengubah wajah FKIP, bahkan ikut mengubah wajah Undana. Kalau Undana unggul, itu juga karena kontribusi signifikan dari FKIP di bawah kepemimpinannya,” ungkap guru besar Prodi PPKn Undana.

Salah satu capaian monumental Prof. Taneo adalah lonjakan akreditasi program studi di FKIP. Dari total 18 program studi, 7 berhasil meraih predikat unggul, sementara 3 di antaranya sudah terakreditasi internasional.

“Tahun ini atau tahun depan, kita akan mengikis jumlah prodi yang belum unggul. Dalam 2–3 tahun ke depan, kami optimis FKIP akan unggul semua. Ini keberlanjutan yang harus kita dorong,” tambahnya.

Menurut Prof. Ly, akan menjadi kerugian besar jika figur dengan kinerja nyata seperti Prof. Taneo tidak diberi ruang untuk membawa perubahan lebih besar di tingkat universitas.

“Kalau ada pemimpin yang sudah terbukti, kenapa kita tidak dorong? Memang masih ada dosen-dosen lain, tapi yang sudah memenuhi syarat dan punya prestasi harus kita dukung. Ini saatnya,” tegasnya.*

(Alberto)

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button