Siasati Musim Kemarau dan Efisiensi, DPKP Terapkan PMAAS untuk Tingkatkan Produksi Pertanian

BeritaNasional.ID, BONDOWOSO JATIM – Banyak jalan menuju Roma. Kalimat itu sesuai dengan upaya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) untuk meningkatkan produktivitas pertanian di tengah tantangan musim kemarau dan efisiensi anggaran.
Bekerjasama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Mas Kuning melakukan demonstrasi plot (damplot) metode pertanian PMAAS (Pertanian Modern – Advance Agriculture System). Yaitu sistem budidaya padi intensif berbasis teknologi modern untuk meningkatkan hasil panen dan efisiensi kerja.
Damplot yang dilaksanakan di lahan seluas 0,5 hektare tersebut menjadi percontohan penerapan metode PMAS yang saat ini tengah didorong pemerintah pusat. Melalui kegiatan itu, para petani diajak melihat langsung proses budidaya, kelebihan metode, hingga potensi peningkatan hasil panen dibanding pola tanam yang selama ini digunakan.
Kepala DPKP Bondowoso, Mulyadi, mengatakan antusiasme petani terhadap metode PMAS cukup tinggi. Menurutnya, inovasi tersebut dinilai mampu menjawab berbagai tantangan pertanian saat ini, mulai dari keterbatasan tenaga kerja hingga upaya peningkatan produksi pangan.
“Kami bersama BPP Mas Kuning melaksanakan damplot PMAS sebagai bentuk sosialisasi langsung kepada petani. Alhamdulillah respons petani sangat baik karena metode ini juga menjadi program prioritas pemerintah pusat yang ditargetkan untuk diterapkan di Bondowoso,” ujarnya.
Bondowoso sendiri mendapat target penerapan PMAS seluas sekitar 5.700 hektare pada musim tanam kedua tahun ini. Untuk mencapai target tersebut, DPKP terus menggencarkan sosialisasi melalui penyuluh pertanian di seluruh kecamatan agar petani memahami manfaat dan teknik penerapannya.
Tidak hanya memperkenalkan teknologi budidaya baru, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan sebagai forum dialog dengan kelompok tani. DPKP menyerap berbagai aspirasi petani, terutama terkait kondisi musim kemarau yang mulai berdampak pada ketersediaan air di sejumlah wilayah.
Mulyadi menegaskan petani perlu lebih adaptif dalam menentukan komoditas yang ditanam. Ia mengingatkan agar tidak memaksakan budidaya padi pada lahan yang mengalami keterbatasan air karena berpotensi menimbulkan kerugian.
“Kami mengajak petani menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim. Jika sumber air terbatas, lebih baik memilih komoditas yang lebih tahan seperti jagung atau sayuran. Yang terpenting adalah produktivitas lahan tetap terjaga dan petani tidak mengalami kerugian,” katanya. (Syamsul Arifin/Bernas)



