Nusa Tenggara Timur

Undana Dorong Kemandirian Petani Lahan Kering Lewat Pelatihan Komposter Cepat di TTS

 

BeritaNasional.ID, SO’E – Universitas Nusa Cendana (Undana) terus memperkuat komitmennya dalam memberdayakan masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat langsung bagi kebutuhan warga.

Kali ini, Undana membekali petani lahan kering di Desa Kuatae, Kecamatan Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan keterampilan mengolah limbah pertanian menjadi pupuk organik yang berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Diversifikasi Keterampilan Petani Lahan Kering Melalui Pelatihan Komposter Cepat Sebagai Strategi Peningkatan Pendapatan di Desa Kuatae” tersebut dilaksanakan pada 7 Oktober 2026 di Desa Kuatae.

Program ini bertujuan memperkenalkan teknik pemanfaatan bahan organik lokal menjadi pupuk organik cair (POC) dan kompos padat. Selain membantu memenuhi kebutuhan pupuk untuk kegiatan pertanian, keterampilan tersebut diharapkan membuka peluang usaha baru yang dapat dikembangkan masyarakat secara mandiri.

Ketua tim pengabdian kepada masyarakat, Noni Banunaek, ST., MT., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya mendorong petani agar lebih terampil memanfaatkan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar.

Melalui pelatihan tersebut, limbah pertanian yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal diharapkan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna, sekaligus berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi.

Program ini juga sejalan dengan semangat Undana Berdampak, yakni menghadirkan pengetahuan, keterampilan, dan inovasi perguruan tinggi untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai bahan organik yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti daun gamal, lamtoro, kelor, batang pisang, sabut kelapa, daun bambu kering, dan batang jagung.

Bahan-bahan tersebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik. Dengan pengolahan yang tepat, limbah pertanian dapat menjadi sumber daya produktif yang mendukung kegiatan usaha tani sekaligus membantu mengurangi penumpukan limbah.

Materi pelatihan meliputi teknik pembuatan pupuk organik cair menggunakan sistem aerob untuk tanaman sayuran daun dan tanaman buah. Peserta juga dibekali pengetahuan tentang pembuatan kompos padat dengan memanfaatkan batang jagung kering, ampas sisa pembuatan POC, serta kotoran ternak.

Tidak hanya mempelajari bahan baku, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga sirkulasi udara, melakukan pengadukan secara berkala, dan mengatur kelembapan bahan selama proses penguraian.

Aspek-aspek tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengomposan agar bahan organik dapat terurai dengan baik dan menghasilkan produk yang dapat dievaluasi kualitasnya sebelum digunakan.

Pemanfaatan bahan organik lokal diharapkan membantu petani mengurangi biaya produksi, menekan ketergantungan pada pupuk yang dibeli dari luar, serta mendukung perbaikan struktur dan kesuburan tanah di wilayah lahan kering.

Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh tidak hanya bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan pertanian sehari-hari, tetapi juga menjadi modal awal bagi petani untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim pengabdian kepada masyarakat dari Program Studi Pertambangan, Fakultas Sains dan Teknik (FST) Undana, turut menyerahkan peralatan pengolahan bahan organik kepada masyarakat Desa Kuatae.

Peralatan yang diserahkan terdiri atas lima drum komposter dan satu unit alat pencacah sayur (chopper).

Drum komposter dapat digunakan sebagai wadah pengolahan bahan organik, sedangkan alat pencacah membantu memperkecil ukuran bahan sehingga lebih mudah diproses dalam pembuatan pupuk organik.

Ketersediaan peralatan tersebut diharapkan dapat membuat proses pengolahan limbah pertanian menjadi lebih praktis dan efisien. Masyarakat juga diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas itu untuk melanjutkan praktik pembuatan POC dan kompos padat secara mandiri setelah pelatihan selesai.

Penyerahan peralatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong penerapan pengetahuan yang telah diberikan agar tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berlanjut menjadi praktik produktif di tingkat masyarakat.

Dengan dukungan keterampilan dan sarana pengolahan, petani diharapkan semakin percaya diri mengembangkan pemanfaatan limbah pertanian sebagai bagian dari kegiatan usaha tani yang lebih efisien.

Selain memberikan keterampilan produksi, tim pengabdian juga memperkenalkan aspek pengemasan, pelabelan, dan strategi pemasaran pupuk organik.

Pembekalan ini bertujuan membuka wawasan masyarakat mengenai peluang pengembangan POC dan kompos padat sebagai produk bernilai ekonomi. Produk yang dihasilkan tidak hanya dapat digunakan untuk kebutuhan kebun sendiri, tetapi juga berpotensi dipasarkan apabila kualitas dan kelayakannya telah memenuhi persyaratan yang diperlukan.

Meski demikian, pengembangan usaha pupuk organik memerlukan persiapan yang matang, mulai dari menjaga konsistensi proses produksi, mengevaluasi kualitas pupuk, menghitung biaya produksi, hingga mengidentifikasi kebutuhan dan peluang pasar.

Karena itu, tim pengabdian mendorong adanya kolaborasi berkelanjutan antara masyarakat Desa Kuatae dan Universitas Nusa Cendana untuk mendukung pengembangan produk yang dihasilkan.

Salah satu langkah tindak lanjut yang direncanakan adalah pengujian kadar Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) pada pupuk organik cair hasil produksi masyarakat di Laboratorium Undana.

Pengujian tersebut diharapkan memberikan informasi mengenai kandungan unsur hara dalam POC yang dihasilkan. Informasi ini dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi kualitas produk sekaligus mempertimbangkan pengembangan dan peluang pemasarannya.

Melalui langkah tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan membuat pupuk organik, tetapi juga memperoleh pendampingan dalam memahami kualitas produk sebagai salah satu aspek penting untuk membangun usaha yang berkelanjutan.

Bagi petani lahan kering, keterbatasan sumber daya dan biaya produksi menjadi tantangan yang perlu dihadapi melalui pemanfaatan potensi lokal secara optimal. Pelatihan komposter cepat ini menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan alternatif pengelolaan limbah pertanian yang lebih produktif.

Melalui diversifikasi keterampilan, masyarakat Desa Kuatae diharapkan mampu mengubah bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk yang bermanfaat, mengurangi pengeluaran usaha tani, serta membuka peluang pendapatan tambahan bagi keluarga.

Keberhasilan pengembangan usaha tersebut tentunya memerlukan praktik produksi secara berkelanjutan, pengujian kualitas pupuk, perhitungan biaya dan potensi keuntungan, serta penjajakan pasar yang sesuai.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi daerah.

Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Nusa Cendana yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas:

1. Noni Banunaek, ST., MT.
2. Irene A. Boymau, ST., MT.
3. M. Iqbal Reza Arifin, ST., MT.
4. Chindy M.S. Funay, ST., MT.

Melalui pelatihan, dukungan peralatan, dan rencana pendampingan lanjutan, Undana berharap masyarakat Desa Kuatae dapat mengembangkan pengolahan limbah pertanian menjadi kegiatan produktif yang mendukung efisiensi usaha tani dan kemandirian ekonomi.*

Alberto

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button