Dari Kampus ke Desa, 485 Mahasiswa Undana Ditantang Buktikan Manfaat Ilmu

BeritaNasional.ID, KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi melepas 485 mahasiswa untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 di 8 wilayah.
Mahasiswa didorong menghadirkan program pengabdian yang inovatif, sesuai kebutuhan masyarakat, serta mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan.
Pelepasan berlangsung di halaman Rektorat Undana, Jumat (16/10/2026), oleh Wakil Rektor I Undana, Prof. Dr. drh. Annytha I. R. Detha, M.Si., yang mewakili Rektor Undana.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undana, Prof. Ir. Yosep Seran Mau, M.Sc., Ph.D.; Sekretaris LPPM, Prof. Dr. Febri Odel Nitbani, S.Si., M.Si.; Koordinator KKN, Ir. Markus Sinlae, M.Sc.Ag.; serta Ketua Tim Kerja KKN Berdampak Undana, Ir. Dominggus B. Osa, M.P.
Dalam arahannya, Prof. Annytha Detha menegaskan bahwa KKN merupakan momentum bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan, teori, dan hasil penelitian yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam kehidupan nyata masyarakat.
Menurutnya, pengabdian kepada masyarakat tidak boleh hanya menjadi rutinitas akademik, tetapi harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membuktikan bahwa ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi mampu menjawab berbagai persoalan di lapangan.
“Substansi kegiatan KKN bukan hanya kegiatan fisik yang terlihat, tetapi bagaimana mahasiswa membantu mengembangkan sumber daya yang ada di desa,” tegas Prof. Annytha.
Ia menjelaskan, paradigma pelaksanaan KKN perlu terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Jika sebelumnya kegiatan mahasiswa kerap berfokus pada pekerjaan fisik seperti pembangunan gapura atau papan desa, kini mahasiswa dituntut lebih peka dalam melihat persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat.
Persoalan tersebut, antara lain, masih adanya anak-anak yang membutuhkan pendampingan belajar dan peningkatan kemampuan membaca, pengelolaan sampah, serta pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
Karena itu, mahasiswa diminta terlebih dahulu memahami kondisi sosial, potensi, dan kebutuhan masyarakat sebelum menentukan program kerja. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan KKN diharapkan tidak sekadar menunjukkan kehadiran mahasiswa di desa, tetapi benar-benar menghasilkan perubahan positif.
Prof. Annytha menambahkan, pendekatan ini sejalan dengan transformasi Undana dalam memperkuat pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada hasil dan manfaat nyata.
Pada periode ini, Undana menerapkan tiga skema KKN, yakni KKN reguler, KKN tematik bidang ekonomi, dan KKN tematik bidang kesehatan.
Annytha menjelaskan, skema reguler memberikan ruang bagi mahasiswa dari berbagai program studi untuk berkolaborasi menyusun dan melaksanakan program kerja. Dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan solusi yang lebih komprehensif terhadap persoalan masyarakat.
Sementara itu, KKN tematik bidang ekonomi difokuskan pada pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan potensi ekonomi lokal. Program ini diharapkan dapat membantu masyarakat mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan.
Adapun KKN tematik bidang kesehatan diarahkan untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat di wilayah pengabdian, dengan memanfaatkan kompetensi mahasiswa sesuai bidang keilmuannya.
Dari total 485 mahasiswa yang dilepas, kelompok KKN tematik bidang ekonomi menjadi kelompok dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 212 mahasiswa.
Pembagian skema ini diharapkan membuat pelaksanaan KKN semakin terarah, tanpa mengabaikan pentingnya kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah setempat.
Kepala LPPM Undana, Prof. Ir. Yosep Seran Mau, M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa 485 mahasiswa tersebut akan mengikuti KKN di sejumlah kabupaten dan kota melalui skema reguler maupun tematik.
Untuk KKN reguler, mahasiswa ditempatkan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Sementara itu, KKN tematik dilaksanakan di Kota Kupang, khusus bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter, serta di Kabupaten Manggarai, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Sikka, dan Kabupaten Sumba Timur.
Prof. Yosep berharap mahasiswa mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di seluruh lokasi mitra melalui program yang dirancang secara kolaboratif dan partisipatif.
Menurutnya, masyarakat harus dilibatkan dalam proses penyusunan hingga pelaksanaan program kerja agar kegiatan yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan setempat.
“Mahasiswa yang akan KKN di desa diharapkan memberi dampak positif bagi masyarakat di lokasi mitra melalui penyusunan program dan pelaksanaan program secara kolaboratif dan partisipatif untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat,” demikian penekanan Prof. Yosep dalam arahannya.
Ia juga meminta mahasiswa memanfaatkan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan untuk merancang program yang tepat sasaran, dapat dilaksanakan dengan baik, serta memiliki manfaat jangka panjang.
Selain menekankan kualitas program, Prof. Yosep mengingatkan mahasiswa agar menjaga etika, sikap, dan perilaku selama menjalankan pengabdian di tengah masyarakat.
Mahasiswa diminta membangun komunikasi yang baik dengan perangkat desa, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat lainnya. Kemampuan beradaptasi, menghormati kebiasaan setempat, dan bekerja sama dengan masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam keberhasilan KKN.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa bukan hanya membawa identitas pribadi, tetapi juga mewakili nama baik Universitas Nusa Cendana.
“Mahasiswa KKN adalah duta Undana di masyarakat sehingga mereka dituntut untuk membawa nama baik Undana selama berkegiatan KKN,” tegas Prof. Yosep.
Pelaksanaan KKN selama dua bulan ini diharapkan mampu membantu mahasiswa mencapai kompetensi pembelajaran yang ditetapkan dalam mata kuliah KKN. Pada saat yang sama, masyarakat di lokasi pengabdian juga diharapkan memperoleh manfaat nyata dari program yang dilaksanakan.
Melalui KKN yang berbasis kebutuhan masyarakat, Undana ingin memastikan bahwa pengabdian mahasiswa tidak berhenti pada penyelesaian program kerja semata, melainkan mampu mendorong pemberdayaan masyarakat, pengembangan potensi lokal, dan penyelesaian persoalan secara berkelanjutan.*
Alberto



