Nusa Tenggara Timur

PKM Undana Hadir di Rote Ndao, Edukasi Remaja Putri tentang Pentingnya Tablet Tambah Darah

BeritaNasional.ID, ROTE NDAO – Upaya mencegah anemia pada remaja putri tidak cukup hanya dengan membagikan Tablet Tambah Darah (TTD). Pengetahuan tentang anemia, pemahaman manfaat TTD, serta kepatuhan mengonsumsinya secara rutin menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan remaja putri sejak usia sekolah.

Berangkat dari persoalan tersebut, Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH), melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa edukasi anemia dan pentingnya konsumsi TTD bagi 75 siswi SMAN 1 Rote Barat Daya, Desa Oetefu, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao.

Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. apt. Magdarita Riwu, S.Farm., M.Farm., bersama anggota tim dr. Efrisca Meliyuita Br. Damanik, M.Biomed., Sp.PA., M.M., serta melibatkan mahasiswa Program Studi Farmasi FKKH Undana.

Melalui kegiatan tersebut, tim PKM Undana berupaya meningkatkan pengetahuan para siswi mengenai anemia, mengenali gejalanya, memahami manfaat TTD, serta membangun kebiasaan mengonsumsi tablet tersebut sesuai anjuran.

Sejak awal kegiatan, para siswi terlihat antusias mengikuti edukasi yang disampaikan. Materi tidak hanya membahas pengertian anemia, tetapi juga penyebab, gejala, dampak terhadap kesehatan, hingga cara mengonsumsi TTD agar penyerapan zat besi berlangsung lebih optimal.

Ketua tim PKM Undana, Dr. apt. Magdarita Riwu, menjelaskan bahwa anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah nilai normal. Salah satu penyebab yang umum ditemukan adalah kekurangan zat besi atau Anemia Gizi Besi (AGB).

Menurutnya, remaja putri menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena sedang berada dalam masa pertumbuhan dan mengalami menstruasi. Kedua kondisi tersebut membuat kebutuhan zat besi menjadi lebih tinggi.

“Remaja putri perlu mendapat perhatian khusus karena mereka sedang berada dalam masa pertumbuhan dan mengalami menstruasi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan zat besi menjadi lebih tinggi,” jelas Magdarita.

Dalam edukasi tersebut, para siswi juga diperkenalkan dengan gejala anemia yang sering dikenal melalui istilah 5L, yakni lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai.

Gejala-gejala tersebut tidak boleh dianggap sepele karena dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, konsentrasi belajar, serta produktivitas remaja.

Karena itu, pencegahan anemia perlu dilakukan sejak usia sekolah melalui pemenuhan kebutuhan gizi, penerapan pola hidup sehat, serta kepatuhan terhadap anjuran konsumsi TTD.

Lebih jauh, anemia pada remaja putri juga berkaitan dengan kesehatan reproduksi pada masa mendatang. Apabila anemia berlanjut hingga masa kehamilan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi ibu dan anak.

Kondisi kekurangan zat besi dan anemia juga perlu mendapat perhatian dalam upaya mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk perkembangan otak dan fungsi tubuh lainnya.

Atas dasar itu, edukasi sejak remaja menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran kesehatan sekaligus mempersiapkan generasi muda yang lebih sehat pada masa depan.

Selain membahas penyebab dan dampak anemia, tim PKM Undana memberikan penjelasan mengenai kandungan dan manfaat Tablet Tambah Darah.

TTD yang digunakan dalam program suplementasi mengandung 60 miligram besi elemental dan 400 mikrogram asam folat. Suplemen ini ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi dan folat, terutama pada kelompok yang membutuhkan asupan tambahan.

Kebutuhan zat besi remaja putri meningkat selama masa pertumbuhan dan menstruasi. Sementara itu, asupan makanan sehari-hari belum tentu dapat memenuhi seluruh kebutuhan tersebut. Oleh sebab itu, konsumsi TTD sesuai anjuran menjadi salah satu upaya pencegahan anemia.

Para siswi juga mendapatkan penjelasan mengenai cara mengonsumsi TTD dengan benar. Tablet dapat diminum pada malam hari menjelang tidur untuk membantu mengurangi rasa mual. TTD dianjurkan diminum dengan air putih dan dapat dikonsumsi bersama buah yang mengandung vitamin C, seperti jeruk, pepaya, mangga, dan jambu biji.

Vitamin C membantu meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Sebaliknya, konsumsi TTD sebaiknya tidak dilakukan bersamaan dengan teh, kopi, susu, suplemen kalsium, maupun obat maag atau antasida tertentu karena dapat menghambat penyerapan zat besi.

Tim juga menjelaskan bahwa sebagian orang dapat mengalami efek samping setelah mengonsumsi TTD, seperti mual, nyeri lambung, muntah, diare, atau kesulitan buang air besar. Keluhan tersebut terkadang menjadi alasan remaja enggan mengonsumsi tablet secara rutin.

Magdarita mengungkapkan, tantangan di lapangan bukan hanya memastikan tablet tersedia dan dibagikan kepada siswi, tetapi juga memastikan tablet tersebut benar-benar diminum sesuai anjuran.

“Memang ada anak-anak yang merasa mual dan muntah setelah minum TTD. Karena itu, ada yang memilih membawa pulang tabletnya untuk diminum. Tetapi kemudian persoalannya, apakah benar-benar diminum atau tidak, tentu perlu kita pantau,” ungkapnya.

Ia menilai, pemahaman mengenai manfaat TTD dan cara mengonsumsinya secara tepat perlu terus diperkuat agar para siswi tidak mudah menghentikan konsumsi hanya karena menghadapi kendala tertentu.

Apabila keluhan berlanjut atau terasa berat, remaja dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan arahan yang sesuai.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kegiatan PKM ini adalah keberlanjutan pendampingan setelah penyuluhan selesai dilaksanakan.

Tim PKM Undana membangun komunikasi lanjutan dengan para remaja putri melalui sebuah grup komunikasi. Grup tersebut dimanfaatkan sebagai sarana berbagi informasi, pengingat konsumsi TTD, serta pemantauan kendala yang dihadapi para siswi.

Melalui komunikasi tersebut, tim dapat menanyakan secara berkala apakah para siswi sudah mengonsumsi TTD atau belum. Informasi yang disampaikan para siswi juga membantu tim mengetahui kendala di lapangan, termasuk ketika tablet belum dibagikan oleh pihak terkait.

“Kita tetap melakukan komunikasi dengan siswa remaja putri. Kita tanyakan apakah minggu ini sudah minum atau belum. Ada yang menyampaikan belum karena memang belum dibagikan. Jadi komunikasi ini penting supaya kita bisa mengetahui kondisi mereka,” kata Magdarita.

Menurutnya, komunikasi berkelanjutan menjadi bagian penting dalam membangun kepatuhan. Edukasi tidak boleh berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi perlu diarahkan pada perubahan perilaku dan pembentukan kebiasaan sehat.

“Harapannya dengan edukasi kemarin, kepatuhan mereka bisa berubah menjadi lebih baik,” ujarnya.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pencegahan anemia membutuhkan pendampingan yang konsisten. Ketersediaan TTD perlu disertai pemahaman, dukungan lingkungan sekolah, serta komunikasi yang memungkinkan berbagai kendala segera diketahui dan ditangani.

Kepala SMAN 1 Rote Barat Daya, Adikasper Adu, S.Pd., menyampaikan apresiasi kepada Undana atas pelaksanaan kegiatan edukasi kesehatan tersebut.

Ia menilai kegiatan ini merupakan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peserta didik, khususnya remaja putri, mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan mencegah anemia.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peserta didik, khususnya remaja putri, mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan mencegah anemia,” ujar Adikasper.

Pihak sekolah berharap pengetahuan yang diperoleh para siswi tidak berhenti pada diri mereka sendiri, tetapi juga dapat dibagikan kepada teman, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Sekolah juga menyambut baik peluang keberlanjutan kerja sama dengan Undana melalui berbagai program edukasi kesehatan yang bermanfaat bagi peserta didik.

“Sinergi antara sekolah dan perguruan tinggi sangat penting dalam mendukung peningkatan kesehatan dan kualitas generasi muda,” katanya.

Dukungan sekolah menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang mendorong remaja putri untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri, memahami kebutuhan gizi, dan mengikuti anjuran pencegahan anemia.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Puskesmas Batutua. Kepala Puskesmas Batutua, Welhelmina D. Leoanak, S.Tr.Keb., menjelaskan bahwa pemberian TTD bagi remaja putri di SMAN 1 Oetefu merupakan program yang dilaksanakan setiap tahun.

Menurutnya, program tersebut penting untuk menjaga kesehatan generasi muda sekaligus mempersiapkan kesehatan reproduksi mereka pada masa mendatang.

“Jadi terkait program Tablet Tambah Darah bagi remaja putri di SMAN 1 Oetefu, Rote Barat Daya, kami dari Puskesmas Batutua melaksanakan kegiatan ini setiap tahun karena penting untuk generasi muda penerus bangsa,” ujar Welhelmina.

Ia menambahkan, pemberian TTD tidak hanya berkaitan dengan pencegahan anemia, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempersiapkan kesehatan reproduksi remaja dan mendukung pencegahan stunting pada masa depan.

“Ini dapat mencegah anemia dan juga mempersiapkan kesehatan reproduksi untuk mencegah stunting di masa depan,” katanya.

Welhelmina menyambut baik edukasi yang dilaksanakan Program Studi Farmasi Undana karena dinilai membantu memperkuat pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Untuk Prodi Farmasi Undana, Puskesmas Batutua mendukung penuh karena sangat membantu dan bermanfaat bagi pelayanan kami,” ungkapnya.

Kolaborasi antara Undana, sekolah, dan Puskesmas Batutua memperlihatkan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam pencegahan anemia pada remaja putri. Puskesmas berperan dalam pelayanan kesehatan dan pelaksanaan program TTD, sekolah menjadi lingkungan strategis untuk edukasi dan pembentukan kebiasaan sehat, sedangkan perguruan tinggi berkontribusi melalui penguatan pengetahuan, pendampingan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan PKM ini turut melibatkan mahasiswa Program Studi Farmasi FKKH Undana. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari pembelajaran lapangan sekaligus kesempatan untuk memahami secara langsung tantangan pelaksanaan edukasi kesehatan di masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat melihat bagaimana penyampaian informasi kesehatan dilakukan kepada kelompok sasaran, sekaligus mempelajari pentingnya komunikasi, pendampingan, dan kerja sama lintas sektor dalam mendukung keberhasilan program kesehatan.

Bagi Undana, kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga perlu menghadirkan pengetahuan dan keahlian akademik untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Pelaksanaan edukasi anemia ini mengacu pada pedoman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengenai pemberian Tablet Tambah Darah serta pencegahan dan penanggulangan anemia pada remaja putri dan wanita usia subur.

Tim berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan pemahaman para siswi mengenai pentingnya konsumsi TTD sesuai anjuran, pemenuhan gizi seimbang, dan upaya menjaga kesehatan sejak usia remaja.

Pada akhirnya, keberhasilan pencegahan anemia tidak hanya ditentukan oleh jumlah tablet yang dibagikan, tetapi juga oleh pemahaman dan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsinya secara tepat.

Melalui edukasi, komunikasi berkelanjutan, serta dukungan sekolah dan tenaga kesehatan, Undana berupaya mendorong 75 siswi SMAN 1 Rote Barat Daya menjadi generasi muda yang lebih sadar kesehatan.

Sebab, memahami anemia bukan sekadar mengetahui gejala kekurangan darah, melainkan juga membangun kebiasaan sehat sejak dini untuk mendukung kualitas hidup, kesehatan reproduksi, dan masa depan generasi muda yang lebih baik.*

Alberto

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button