CFD Jalan Suroyo Jadi Etalase Bonsai, Wali Kota Probolinggo Dorong Sentra dan Wisata Bonsai

BeritaNasional.ID, PROBOLINGGO JATIM – Suasana Car Free Day (CFD) di Jalan Suroyo, Kota Probolinggo, Minggu (1/2) pagi, tampak berbeda dari biasanya. Di tengah aktivitas warga yang berolahraga dan bersantai, perhatian Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin tertuju pada kegiatan “jemur bonsai bareng” yang digelar Komunitas Pecinta Bonsai Konco Bonsai Ngopi Bareng.
Kehadiran komunitas bonsai ini menjadi penanda kembali menggeliatnya aktivitas para penghobi bonsai di Kota Probolinggo. Komunitas yang telah aktif sejak beberapa tahun lalu, khususnya di kawasan Pasar Minggu, kini mulai menunjukkan geliat baru melalui kegiatan rutin di ruang publik.
Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan komunitas bonsai. Ia bahkan mengungkapkan rencana pemindahan lokasi kegiatan ke tempat yang lebih representatif, seperti stadion, agar mampu menampung lebih banyak peserta sekaligus memberi ruang lebih luas untuk pameran dan edukasi bonsai.
“Kami ingin kegiatan ini berkembang. Jika memungkinkan, lokasinya bisa dipindah ke tempat yang lebih luas agar bisa menjadi sarana edukasi, pameran, sekaligus daya tarik wisata,” ujar Dokter Amin, yang juga dikenal sebagai pecinta bonsai.
Menurutnya, bonsai bukan sekadar seni tanaman hias, melainkan sarat dengan filosofi kehidupan. Setiap bentuk bonsai mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Keseimbangan batang, cabang, dan ruang hidup menjadi inti keindahannya.
“Proses pembentukan bonsai membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan kepekaan seni yang tinggi, mulai dari batang utama hingga ranting terkecil. Nilai-nilai itu sejalan dengan kehidupan manusia,” terangnya.
Beragam gaya bonsai seperti cascade, upright, mini hingga ukuran besar menjadi daya tarik tersendiri dalam kegiatan tersebut. Pemerintah Kota Probolinggo pun telah memasukkan kontes bonsai ke dalam kalender event tahunan. Ke depan, Pemkot juga merencanakan pembentukan sentra bonsai yang berfungsi sebagai destinasi wisata sekaligus pusat aktivitas komunitas.
Di sentra tersebut, masyarakat dapat melihat langsung keindahan bonsai, belajar teknik perawatan seperti wiring dan pruning, hingga menyaksikan proses pembentukannya. Kolaborasi lintas sektor juga disiapkan, termasuk dengan pengrajin batik untuk menghadirkan motif batik bertema bonsai, serta pemanfaatan bonsai sebagai elemen visual dalam berbagai event kota.
Bonsai, lanjut wali kota, juga menjadi metafora kehidupan manusia. Pohon yang dirawat dengan baik akan menampilkan potensi terbaiknya, sebagaimana manusia yang diberdayakan secara optimal. Atas dukungan tersebut, komunitas bonsai pun menyatakan kesiapan berkontribusi dalam berbagai kegiatan kota.
Ketua panitia sekaligus perwakilan komunitas, Yugo Sasmita, menyampaikan bahwa aktivitas komunitas bonsai di CFD telah rutin berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Kunjungan Wali Kota Probolinggo ke stan komunitas dinilainya sebagai dukungan moril yang sangat berarti.
“Sekitar 90 persen bonsai yang kami tampilkan adalah jenis santigi, dilengkapi jenis lain seperti kimeng, sakura, sancang, lowa, dan ileng-ileng. Kegiatan jemur bareng berlangsung sejak pukul 06.00 hingga 10.00 pagi, diikuti sekitar 20 orang,” jelasnya.
Yugo yang telah menekuni bonsai selama lima tahun menambahkan, selain sebagai hobi, bonsai juga memiliki nilai investasi jangka panjang dengan harga yang dapat mencapai puluhan juta rupiah. Meski demikian, ia menegaskan bahwa nilai kebersamaan dan silaturahmi tetap menjadi ruh utama komunitas.
Perawatan bonsai, khususnya jenis santigi, membutuhkan ketelatenan ekstra, bahkan menggunakan air laut sesuai habitat aslinya di kawasan pesisir.
Turut mendampingi Wali Kota, Ketua TP PKK Kota Probolinggo dr. Evariani mengungkapkan kecintaannya terhadap bonsai. Ia menyebutkan bahwa di kediamannya terdapat sekitar 500 koleksi bonsai yang telah dirawat selama puluhan tahun.
“Bonsai mengajarkan bahwa keindahan tidak hadir secara instan, melainkan melalui proses dan pembinaan. Filosofinya sangat relevan dengan kehidupan manusia dan keharmonisan dengan alam,” tuturnya.
(Yuli/Bernas)



