Prof. Yantus Neolaka Tegaskan Rektor Baru Undana Harus Berpikir Global, Bertindak Lokal

BeritaNasional.ID, KUPANG — Menjelang pemilihan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang periode 2025-2029, Sekretaris Senat Undana, Prof. Yantus Neolaka., menyampaikan pesan penting bagi calon pemimpin kampus negeri tertua di Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut.
Dalam keterangannya kepada Bernas Network di lantai III Gedung ICT Center Undana, Jumat (8/8/2025), akademisi yang masuk dalam jajaran 2% ilmuwan paling berpengaruh di dunia itu menekankan bahwa pemimpin Undana ke depan harus memiliki visi besar, orientasi global, serta komitmen kuat terhadap pengembangan pendidikan berbasis nilai-nilai lokal.
“Siapapun yang terpilih menjadi Rektor Undana harus mampu membawa kampus ini ke arah yang jauh lebih baik. Akreditasi Unggul yang sudah kita raih harus menjadi pijakan untuk melangkah ke level internasional,” ujar Prof. Yantus.
Menurutnya, capaian akreditasi Unggul bukanlah puncak dari prestasi Undana, melainkan awal dari tantangan baru. Prof. Yantus mengingatkan bahwa mempertahankan status tersebut membutuhkan kerja keras, inovasi, dan konsistensi dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi.
“Akreditasi Unggul itu seperti medali emas—berat untuk diraih, lebih berat lagi untuk dipertahankan. Maka dari itu, rektor baru harus siap menjawab tantangan ini dengan langkah-langkah strategis,” tambahnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya Undana membuka diri terhadap kerja sama dan pengakuan di tingkat global, namun tetap tidak melupakan jati diri sebagai perguruan tinggi di NTT yang sarat akan nilai-nilai budaya.
“Undana harus diperkenalkan ke dunia internasional. Tetapi dalam setiap langkahnya, kita tidak boleh lepas dari akar budaya lokal. Kearifan lokal adalah kekuatan kita, bukan beban,” tegasnya.
Dalam konteks pembangunan, Prof. Yantus menilai bahwa Undana memiliki tanggung jawab strategis untuk menjadi bagian dari solusi pembangunan daerah dan nasional. Oleh sebab itu, sinergi antara rektor dan pemangku kebijakan menjadi sangat penting.
“Rektor baru harus membangun hubungan yang harmonis dengan pemerintah pusat dan daerah. Kita tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada kolaborasi untuk menyukseskan program-program strategis demi kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.
Dalam pesannya, Prof. Yantus juga menyoroti posisi geografis Undana yang sangat strategis—terletak di wilayah selatan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Timor Leste dan Australia. Ia menyebut hal ini sebagai peluang emas yang belum dimaksimalkan sepenuhnya.
“Letak Undana sangat unik dan menguntungkan. Ini harus dimanfaatkan untuk membangun kolaborasi lintas negara, baik dalam bidang pendidikan, riset, maupun pengabdian kepada masyarakat,” ungkapnya.
Sebagai penutup, Prof. Yantus berharap bahwa Rektor Undana yang akan terpilih nanti bukan hanya sekadar manajer akademik, tetapi pemimpin transformasional yang mampu membawa Undana menjadi kampus unggul yang berdaya saing global namun tetap berakar kuat pada identitas lokal.
“Undana harus menjadi contoh kampus di Indonesia Timur yang mampu bersaing secara global namun tetap membumi. Itulah pemimpin yang kita butuhkan ke depan,” pungkasnya.*
(Alberto)



