Kunjungan Lapangan ke PLTP Patuha Tingkatkan Pemahaman Dosen Undana soal Operasi Geothermal

BeritaNasional.ID, KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) bersama Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) resmi melaksanakan program Training for Lecturers (TfL) pada 1–6 Desember 2025.
Pelatihan berskala nasional ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas para dosen Undana di bidang panas bumi, sejalan dengan agenda besar Indonesia menuju transisi energi dan pemenuhan target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025.
Kegiatan TfL merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama antara Kementerian ESDM dan Undana yang ditandatangani pada 17 September 2025.
Melalui kerja sama tersebut, kedua institusi berkomitmen memperkuat pendidikan, riset, serta pengembangan sumber daya manusia energi di kawasan timur Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki potensi panas bumi besar namun belum tergarap optimal.
Indonesia sendiri memiliki potensi geothermal lebih dari 24 gigawatt, menjadikannya salah satu negara dengan cadangan panas bumi terbesar di dunia.
Selama enam hari, para peserta mengikuti rangkaian pelatihan yang diselenggarakan di tiga lokasi, yakni Jakarta, Bandung–Soreang, dan kawasan PLTP Patuha, Ciwidey.
Pembukaan kegiatan dilakukan di Hotel Manhattan, Jakarta, dengan penyampaian kebijakan dan arah pengembangan energi nasional.
Peserta kemudian melanjutkan pendalaman materi di Grand Sunshine Resort & Convention, Soreang, Bandung, dengan menghadirkan narasumber ahli dari Badan Geologi, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia, serta praktisi industri dari PLTP Geo Dipa Energi (Persero) Unit Patuha.
Materi yang diberikan mencakup konsep dasar hingga aplikasi lanjutan geothermal, manajemen proyek, eksplorasi dan eksploitasi panas bumi, hingga pemetaan peluang tenaga kerja di sektor ini.
Salah satu sesi paling penting adalah kunjungan lapangan ke PLTP Patuha di Ciwidey, Kabupaten Bandung.
Pada kunjungan ini, para dosen Undana berkesempatan melihat langsung sistem operasi pembangkit listrik tenaga panas bumi yang berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut.
Suhu dingin kawasan Patuha yang berkisar antara 12 hingga 18 derajat Celcius memberikan pengalaman lapangan yang realistis tentang kondisi kerja di sektor geothermal.
Peserta juga mendapat penjelasan teknis mengenai sumur produksi, proses konversi energi panas bumi menjadi listrik, serta manajemen operasi pembangkit.
Tak hanya itu, rombongan juga melakukan kunjungan ke Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi, serta fasilitas pembelajaran di ITB.
Para dosen berdiskusi mengenai peluang pengembangan kurikulum, kerja sama riset, serta rencana pembentukan program studi atau konsentrasi panas bumi di Universitas Nusa Cendana, terutama di Program Studi Geologi.
Sebanyak 20 dosen Undana dari berbagai fakultas, koordinator program studi, hingga unsur pimpinan fakultas mengikuti kegiatan ini.
Mereka berasal dari beragam latar belakang ilmu, mulai dari teknik, fisika, kimia, lingkungan, hingga kehutanan.
Kehadiran peserta lintas keilmuan ini menunjukkan keseriusan Undana menjadikan panas bumi sebagai salah satu bidang unggulan akademik yang dapat memberi manfaat luas bagi pembangunan NTT.
Panitia juga memastikan kenyamanan peserta dengan menyediakan informasi cuaca, kebutuhan perlengkapan, serta nomor kontak darurat.
Untuk kegiatan lapangan di Patuha, peserta diwajibkan menggunakan jaket tebal dan sepatu tertutup karena kondisi lapangan yang lembap, berangin, dan licin.
Sedangkan untuk ekskursi budaya di Jakarta, panitia menyarankan pakaian kasual ringan mengingat kondisi cuaca yang cenderung panas.
Kepala PPSDM KEBTKE dalam sambutannya menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan investasi jangka panjang bagi pengembangan SDM energi di NTT.
Ia menyampaikan bahwa sinergi antara pemerintah, kampus, dan industri sangat penting dalam mempercepat pemanfaatan potensi energi panas bumi, serta membuka peluang kerja baru bagi generasi muda di daerah.
Hal senada juga disampaikan oleh para narasumber dari Badan Geologi dan ITB yang menilai Undana memiliki posisi strategis untuk mengembangkan pusat keilmuan geothermal di kawasan timur Indonesia.
Di akhir kegiatan, para peserta menyusun rancangan awal modul dan silabus mata kuliah panas bumi yang akan menjadi keluaran akademik dari pelatihan ini.
Training for Lecturers PPSDM KEBTKE–Undana 2025 menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan tinggi di NTT untuk semakin terlibat dalam transisi energi nasional.
Dekan Fakultas Sains dan Teknik (FST) Undana, Prof. Philiphi de Rozari, dalam keterangannya kepada media ini menegaskan besarnya potensi geothermal di Pulau Flores yang menurutnya dapat mencapai suplai listrik hingga 700,5 megawatt.
Saat ini, eksploitasi geothermal di Flores baru menghasilkan sekitar 96 hingga 104 megawatt, sehingga potensi yang belum dimanfaatkan masih sangat besar.
Menurut Dekan, salah satu kendala utama dalam pengembangan ini adalah ketersediaan sumber daya manusia yang mumpuni.
Karena itu, FST Undana bersama Satgas Prodi Teknik Geothermal tengah mempersiapkan pembukaan Program Studi Teknik Geologi.
Prof. Philiphi berharap prodi tersebut dapat dibuka tahun depan sebagai langkah memperkuat kemandirian energi dan memastikan pemanfaatan geothermal berjalan sejalan dengan pelestarian lingkungan.*
Alberto/Bernas



