Korem 142/TatagSulawesi BaratTMMDTNI Dan Polri

Membuka Akses, Mengalirkan Harapan: Kisah TMMD di Pegunungan Polewali Mandar

BeritaNasional.ID POLMAN SULBAR–Pagi itu suara mesin molen bercampur dengan bunyi cangkul yang menghantam tanah di lereng perbukitan Desa Bulo, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Di bawah terik matahari, puluhan prajurit TNI bersama warga bekerja tanpa sekat. Ada yang mengangkut pasir, mencampur semen, hingga meratakan cor beton di badan jalan.

Bagi masyarakat Desa Lenggo, jalan sepanjang 500 meter yang sedang dicor itu bukan sekadar proyek pembangunan. Jalan tersebut adalah harapan baru bagi sekitar dua ribu jiwa warga yang selama ini hidup dalam keterisolasian akibat keterbatasan infrastruktur.

Selama bertahun-tahun warga Lenggo harus melewati jalan tanah terjal untuk menuju Desa Bulo yang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur licin yang hampir tidak bisa dilalui kendaraan.

Tak jarang kisah perjuangan warga menuju fasilitas kesehatan viral di media sosial. Pasien yang sakit harus ditandu melewati jalan berbatu dan tanah licin demi mencapai puskesmas terdekat.

Kondisi itu mendorong masyarakat Lenggo menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dan jajaran TNI agar akses jalan mereka diperbaiki. Harapan tersebut akhirnya terjawab ketika program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Kodim 1402/Polman digelar di Desa Bulo.

Program yang berlangsung sejak 10 Februari hingga 11 Maret 2026 tersebut menjadi titik awal perubahan bagi wilayah pegunungan di Kecamatan Bulo.

Salah satu sasaran utamanya adalah pembangunan rabat beton sepanjang 500 meter dengan lebar 4 meter pada jalan poros yang menghubungkan Desa Bulo dengan Desa Lenggo.

Selain pembangunan jalan, Satgas TMMD juga membangun talud sepanjang 50 meter, plat duiker sepanjang 6 meter, serta melakukan penimbunan badan jalan pada sejumlah titik rawan.

Namun TMMD tidak hanya menghadirkan pembangunan infrastruktur. Berbagai kegiatan sosial juga dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mulai dari pengobatan gratis, pembagian sembako, bazar murah, pelayanan posyandu, pemeriksaan ibu hamil, hingga berbagai pelatihan keterampilan masyarakat seperti las besi, pembibitan kakao, tata rias kecantikan, serta pelatihan koperasi dan usaha kecil menengah.

Program unggulan TNI Angkatan Darat juga hadir melalui kegiatan ketahanan pangan jagung seluas satu hektare, pembangunan lima unit fasilitas TNI Manunggal Air, renovasi lima unit rumah tidak layak huni, pembangunan lima unit MCK, penanaman 1.000 pohon, serta pemberian makanan tambahan bagi anak stunting.
Pelaksanaan TMMD melibatkan sekitar 150 personel yang terdiri dari unsur TNI AD, TNI AL, TNI AU, Polri, pemerintah daerah, hingga masyarakat setempat.

Program ini secara resmi dibuka melalui upacara di Lapangan Sepak Bola Desa Bulo pada 10 Februari 2026. Bupati Polewali Mandar Samsul Mahmud yang bertindak sebagai inspektur upacara menyampaikan bahwa TMMD merupakan wujud nyata sinergi antara TNI, pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendorong percepatan pembangunan desa.

“TMMD bukan hanya membangun sarana fisik, tetapi juga menjadi wujud kebersamaan dan gotong royong antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun desa,” ujarnya.

Selama satu bulan pelaksanaan TMMD, kebersamaan antara prajurit dan masyarakat terlihat nyata di lapangan.

Di tengah semangat gotong royong tersebut, para prajurit dan masyarakat tetap bekerja meski pelaksanaan TMMD berlangsung bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Waktu kerja di lapangan disesuaikan agar prajurit dan warga tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik.

Meski demikian, semangat mereka tidak surut.

Komandan Satuan Tugas TMMD Ke 127 Kodim 1402/Polman, Letkol Inf Ikhwan Arifin mengatakan bahwa kondisi berpuasa tidak mengurangi semangat para prajurit dalam menyelesaikan pekerjaan.

“Walaupun sedang menjalankan ibadah puasa, semangat anggota satgas bersama masyarakat tetap luar biasa. Ini menjadi ladang pengabdian bagi kami untuk membantu membuka akses bagi masyarakat Lenggo,” ujarnya.

Kebersamaan tersebut turut disaksikan langsung oleh Danrem 142/Tatag Brigjen TNI Hartono saat meninjau lokasi TMMD pada 28 Februari 2026.

Di tengah lokasi pengecoran jalan, Brigjen Hartono melihat langsung prajurit dan warga bekerja bahu-membahu.

“Saya lihat di sini bukan hanya pembangunan jalan, tetapi kebersamaan dan kemanunggalan TNI dengan rakyat yang benar-benar nyata,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan TMMD tidak hanya diukur dari capaian pembangunan fisik semata, tetapi juga dari kedekatan emosional antara prajurit dan masyarakat.

Bagi warga Desa Bulo, kehadiran TMMD juga membawa perubahan besar melalui program TNI Manunggal Air.

Selama ini sebagian warga harus berjalan cukup jauh untuk mencari air bersih, terutama ketika musim kemarau tiba.

Melalui program TMMD, Satgas TNI bersama masyarakat membangun lima sumber air bersih melalui sumur bor dan sumur gali yang kini mulai dimanfaatkan oleh warga.

Subaeda (52), seorang ibu rumah tangga di Desa Bulo, mengaku sangat terbantu dengan hadirnya fasilitas tersebut.

“Kalau musim kemarau, untuk minum dan memasak saja kami harus mencari air ke tempat yang jauh,” katanya.

Kini kehidupan mereka jauh lebih mudah.

“Alhamdulillah sekarang sudah ada sumber air bersih di dekat rumah. Ini sangat membantu kami,” ujarnya.

Pelaksanaan TMMD juga mendapat perhatian dari berbagai pihak. Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) Mabes TNI AD yang dipimpin Kolonel Inf Jeffry Antonius Bojoh turut melakukan kunjungan kerja untuk memastikan program berjalan sesuai rencana.

Setelah satu bulan pelaksanaan, program TMMD ke-127 Kodim 1402/Polman akhirnya resmi ditutup pada 11 Maret 2026 oleh Pangdam XXIII/Palaka Wira Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar.

Dalam amanatnya, Pangdam menegaskan bahwa penetapan sasaran TMMD dilakukan dengan pendekatan bottom-up, yaitu berdasarkan kebutuhan masyarakat yang dipadukan dengan rencana pembangunan pemerintah daerah.

“TMMD diharapkan membawa dampak perubahan besar dengan menghadirkan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan wilayah,” ujarnya.

Namun kisah TMMD di Desa Bulo tidak berhenti pada upacara penutupan.

Saat para prajurit bersiap kembali ke kesatuan masing-masing, warga Desa Bulo dan Lenggo memberikan kejutan sederhana namun penuh makna.

Mereka memasakkan makanan khas daerah yang disebut doda, lemang ketan yang dimasak di dalam bambu.

Potongan bambu berisi doda itu kemudian dibawa para prajurit sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah.

Bagi warga, doda bukan sekadar makanan.

Itu adalah simbol rasa syukur dan terima kasih kepada para prajurit yang telah membuka jalan harapan bagi desa mereka.

Nurmala, salah satu warga yang rumahnya direnovasi melalui program TMMD, mengaku sangat bersyukur.

“Ini bentuk rasa terima kasih kami. Rumah kami sekarang sudah layak untuk ditempati,” ujarnya.

Kini jalan baru dari Bulo menuju Lenggo telah terbentang.

Jalan itu bukan sekadar beton yang menghubungkan dua desa di pegunungan Polewali Mandar.

Bagi masyarakat Lenggo, jalan tersebut adalah simbol harapan—bahwa keterisolasian yang selama ini mereka rasakan perlahan mulai terbuka.

Dan di balik setiap meter jalan itu, tersimpan cerita tentang gotong royong, kebersamaan, serta kemanunggalan TNI dan rakyat yang terus terjaga.

Oleh: Pelda Zaenal
(Anggota Satgas TMMD Ke 127 Kodim 1402/Polman)

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button