Malang

Museum Keliling Kota Malang: Mengenalkan Peradaban, Menanamkan Toleransi Kepada Pelajar

BeritaNasional,ID. Kota Malang – Museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Lebih dari itu, koleksi di dalamnya dapat menjadi media pembelajaran untuk mengenalkan perjalanan peradaban, menumbuhkan toleransi, sekaligus membangun kepercayaan diri generasi muda.

Semangat tersebut terlihat dalam program Museum Keliling yang digagas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang. Kamis (27/8/2026), program ini menyambangi SPNF Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Malang di Jalan Laksamana Adi Sucipto Gang Makam No. 30, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing.

Kehadiran Museum Keliling membuat pelajar dapat berinteraksi lebih dekat dengan sejumlah artefak yang selama ini mungkin hanya mereka kenal melalui buku pelajaran. Di antaranya Arca Ganesha Musika, Arca Durga, dan arca tokoh dewa.

Penanggung jawab program Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi atau Sam Raka, mengatakan pendekatan tersebut sengaja dilakukan agar pembelajaran sejarah tidak berhenti pada teori.

“Program ini kami rancang agar siswa tidak hanya belajar sejarah dari buku, tetapi bisa menyentuh dan menyaksikan langsung artefak-artefak budaya,” ujarnya.

Menurut Sam Raka, pertemuan langsung dengan artefak juga menjadi pintu masuk untuk mengenalkan konsep cagar budaya. Pelajar diajak terlebih dahulu mengenali benda peninggalan sebagai bagian dari perjalanan peradaban manusia sebelum masuk pada pembahasan yang lebih luas.

Namun, pembelajaran tersebut tidak berhenti pada sejarah. Artefak masa klasik juga digunakan untuk mengenalkan pentingnya melihat peninggalan masa lalu secara objektif dan sesuai konteks zamannya.

Sam Raka mengatakan pemahaman semacam itu penting untuk menanamkan toleransi beragama. Peninggalan dari masa lalu, termasuk arca, tidak semestinya langsung dinilai menggunakan perspektif keyakinan masyarakat masa kini.

“Kita tanamkan secara eksplisit terkait toleransi beragama. Ketika kita melihat peninggalan atau bukti peninggalan dari sebuah peradaban, jangan tiba-tiba dianggap tidak sesuai dengan keyakinan atau tidak sesuai dengan kekinian,” jelasnya.

Bagi Sam Raka, artefak merupakan bukti bahwa masyarakat Nusantara pada masa lalu telah memiliki kemampuan membangun peradaban. Karena itu, keberadaan benda-benda tersebut juga dapat menjadi sumber motivasi bagi generasi muda.

Ia berharap pelajar tidak hanya mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau, tetapi mampu mengambil nilai dan falsafah dari sejarah untuk membangun masa depan.

“Kita ambil nilai dan falsafahnya. Kita kembalikan kejayaan masa lampau dengan dibuktikan oleh benda-benda ini, bahwa kita mampu bersaing dengan wilayah lain atau negara lain,” pungkasnya.

Melalui Museum Keliling, pembelajaran sejarah diharapkan menjadi lebih dekat dan kontekstual bagi pelajar. Artefak tidak lagi sekadar benda lama, tetapi menjadi medium untuk memahami identitas budaya, menghargai keberagaman, serta menumbuhkan keyakinan bahwa generasi muda memiliki kemampuan untuk melanjutkan perjalanan peradaban. (den/ady)

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button