Petani Malang Hadapi Kekeringan dengan Pompa Air dan Ubah Pola Tanam

BeritaNasional,ID. Malang – Petani di Kabupaten Malang memilih beradaptasi menghadapi potensi kekeringan. Mulai dari mengatur ulang waktu tanam, menggunakan pompa air, hingga mengganti komoditas dilakukan agar lahan tetap bisa digarap, Rabu (19/8/2026).
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Avicenna M. Saniputera, mengatakan sejauh ini belum ada lahan pertanian yang terdampak serius akibat kondisi cuaca.
“Untuk sementara tidak ada yang terdampak secara serius karena petani masih bisa mengatur pola tanam,” kata Avicenna saat ditemui di lahan penanaman bawang putih di Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir.
Menurutnya, perubahan cuaca lebih banyak berpengaruh terhadap waktu tanam. Sejumlah petani harus menunda penanaman, tetapi sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap produksi.
Kondisi itu terlihat di Desa Sumbersuko. Lahan yang minim sumber air tetap bisa ditanami setelah petani menggunakan pompa untuk mendapatkan pasokan air. “Contohnya lahan yang ada di Sumbersuko Wagir ini sebenarnya tidak ada airnya, tetapi masyarakat menggunakan pompa sehingga tetap bisa digunakan,” ujarnya.
Untuk membantu petani menghadapi keterbatasan air, sekitar 85 unit pompa telah tersedia di sejumlah Kodim. Pompa tersebut dapat dipinjam petani ketika lahan membutuhkan tambahan pasokan air. “Di semua Kodim sudah ada stok pompa yang bisa digunakan kalau terjadi rawan kekeringan. Jumlahnya sekitar 85 pompa,” kata Avicenna.
Bagi petani, pompa menjadi salah satu pilihan ketika pasokan air irigasi tidak mencukupi. Namun, strategi menghadapi musim kering tidak hanya mengandalkan sarana pengairan.
Pola tanam juga disesuaikan dengan kondisi lahan. Di wilayah yang memiliki cukup air, petani dapat menanam padi hingga tiga kali dalam setahun. Sedangkan lahan dengan pasokan air terbatas biasanya digunakan untuk dua kali tanam padi sebelum beralih ke palawija atau sayuran.
Pilihan komoditas menjadi penting ketika musim kemarau datang. Sejumlah wilayah di Kabupaten Malang memiliki produksi hortikultura yang cukup kuat, salah satunya Poncokusumo yang dikenal sebagai kawasan penghasil sayuran.
Avicenna mengatakan produksi sayuran Kabupaten Malang pada 2025 termasuk yang terbesar di Jawa Timur. Pemasarannya tidak hanya menyasar wilayah sekitar Malang, tetapi juga sejumlah daerah di Indonesia. “Kalau se-Jawa Timur berarti di sini penghasil sayur se-Indonesia. Malang ini sudah level nasional,” ujarnya.
Komoditas dari Kabupaten Malang juga dikirim ke luar Pulau Jawa. Tomat produksi petani Kecamatan Ampelgading, misalnya, disebut telah dikirim hingga Balikpapan. Sementara kopi Robusta Wonosari telah masuk pasar luar negeri. Avicenna menyebut kopi tersebut dipasarkan hingga Belanda dan Singapura melalui PTPN. “Kopi Wonosari lewat PTPN sampai ke Belanda, Singapura. Kopi asli Wonosari jenis Robusta,” katanya.
Sejauh ini, kekeringan belum menjadi persoalan serius bagi petani Kabupaten Malang. Namun, jika kondisi kering berlangsung lebih lama, keterbatasan air tetap berpotensi mengganggu produksi.
Karena itu, petani memilih tidak bergantung pada satu cara. Pengaturan waktu tanam, penggunaan pompa, dan pergantian komoditas menjadi pilihan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing lahan. (den/ady)



