Nusa Tenggara Timur

Profesor Maxs Sanam Tinggalkan Warisan Besar untuk Undana dan NTT

BeritaNasional.ID, KUPANG — Tiga bulan lagi, masa kepemimpinan Profesor Maxs Urias Ebenhaezar Sanam, sebagai Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) akan berakhir. Tetapi yang tertinggal bukan sekadar nama dalam daftar rektor. Yang tertinggal adalah sebuah cerita, sebuah bukti, bahwa pemimpin sejati tidak hanya lahir dari fasilitas dan privilege, melainkan dari kerja keras, integritas, dan keberanian untuk bermimpi besar.

Akreditasi “Unggul” yang disematkan BAN-PT kepada Undana pada 11 Februari 2025 adalah tonggak sejarah. Ini bukan sekadar penghargaan administratif, tetapi sebuah pernyataan keras bahwa Undana, kampus yang berdiri di tanah lahan kering Nusa Tenggara Timur, mampu berdiri sejajar dengan perguruan tinggi besar di Indonesia. Ini bukan prestasi yang lahir dalam semalam. Ia lahir dari visi yang jauh, strategi yang rapi, dan eksekusi yang konsisten.

Di bawah kepemimpinan Profesor Maxs, Undana menorehkan capaian yang sulit diabaikan: 12 program studi berakreditasi unggul, empat prodi dengan akreditasi internasional ASIIN (Jerman), 36 guru besar baru, fasilitas riset yang diperkuat, hingga sertifikasi ISO untuk mayoritas fakultas dan biro. Semua ini adalah bukti bahwa transformasi itu mungkin—asal ada kepemimpinan yang jelas arah dan langkahnya.

Namun, di balik prestasi akademik itu, ada hal yang lebih menginspirasi: kisah hidup Profesor Maxs sendiri. Lahir di Kupang, 8 Maret 1965, dari keluarga sederhana, ia memulai hidup dari titik yang jauh dari gemerlap. Siapa sangka, anak yang dulu memerah susu sapi di Camplong, Kabupaten Kupang dan menjual pisang goreng di sudut jalan Kupang ini kelak berdiri di podium sebagai Rektor Undana, membawa universitas ini menuju pengakuan nasional bahkan internasional.

Ini bukan sekadar tentang satu orang. Ini tentang sebuah pesan: bahwa kesederhanaan bukan penghalang untuk unggul. Bahwa anak-anak NTT yang hari ini bangun pagi untuk membantu orang tuanya di kebun, punya peluang yang sama untuk memimpin perubahan—jika diberi ruang, kesempatan, dan pendidikan yang layak.

Apa yang membuat Profesor Maxs berbeda? Mungkin karena ia bukan hanya seorang akademisi di menara gading. Ia tetap turun ke lapangan, beternak rusa di Lahan Konservasi Undana, menanam pohon, memungut sampah plastik, dan tak sungkan bermain bulutangkis atau tenis meja bersama stafnya. Ia pemimpin yang paham bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di jurnal, tetapi harus menyentuh tanah, mengakar di masyarakat, dan memberi dampak nyata.

Menjelang akhir masa jabatannya, warisan terbesar Profesor Maxs bukan sekadar akreditasi unggul, tetapi inspirasi. Inspirasi bahwa anak Timor, anak daerah, bahkan anak siapa pun di negeri ini, bisa menembus batas asalkan punya integritas dan kerja keras. Dalam narasi pembangunan, kita sering mendengar kata “tertinggal.” Tapi sosok seperti Profesor Maxs mengajarkan kita satu hal: dari daerah yang disebut tertinggal, justru lahir pemimpin dengan visi global.*

(Alberto)

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button