RIPP 2026–2030 Dirumuskan, Undana Siap Jadi Pusat Inovasi Kawasan Timur Indonesia

BeritaNasional.ID, KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) mengambil langkah strategis dengan menggelar Workshop Penyusunan Rencana Induk Penelitian dan Pengabdian (RIPP) 2026–2030 di Aula Hotel Sasando pada Jumat, 12 Desember 2025.
Kegiatan ini menjadi platform kolaborasi antar-guru besar, dosen, ketua program studi, dan mitra strategis, dalam rangka mengintegrasikan arah Tri Dharma perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Pemerintah Daerah (DUDI & Pemda) di Nusa Tenggara Timur.
Penyusunan RIPP ini merupakan amanat undang-undang dan berfungsi sebagai pedoman strategis untuk memastikan arah riset dan pengabdian Undana selaras dengan visi-misi universitas serta kebutuhan mendesak masyarakat lokal.
Ketua Panitia, Prof. I Gusti Made Ngurah Budiana, menjelaskan bahwa proses penyusunan dilakukan melalui tiga tahap, menekankan perlunya dokumen RIPP terkoneksi dengan visi Rektor baru dan kebutuhan mitra.
Dalam sambutannya, Rektor Undana, Prof. Jefri S. Bale, menegaskan komitmennya untuk memperkuat tata kelola riset yang terukur, terarah, dan berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa riset yang dilakukan oleh Undana tidak boleh hanya berhenti pada menghasilkan pengetahuan baru, tetapi harus mampu memberikan solusi berbasis data yang relevan dan berdampak nyata bagi masyarakat NTT.
Rektor menambahkan bahwa RIPP 2026–2030 wajib diselaraskan dengan program strategis nasional, khususnya yang berkaitan dengan ketahanan energi, ketahanan pangan, pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan mitigasi perubahan iklim.
Bagi Prof. Jefri, perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi pusat inovasi yang memberikan manfaat langsung, bukan sekadar institusi yang memproduksi lulusan.
Setelah pembukaan, Herry Zadrak Kotta, selaku Ketua Tim Penyusun RIPP, memaparkan Draf Payung dan Roadmap RIPP Undana.
Pemaparan ini mencakup struktur payung riset, tema-tema penelitian prioritas lima tahun ke depan, dan strategi penguatan pengabdian masyarakat yang berbasis kolaborasi.
Herry menekankan bahwa RIPP harus menjadi pedoman operasional yang digunakan secara aktif oleh dosen dan peneliti, bukan sekadar dokumen administratif.
Workshop ini secara substantif menjadi ruang diskusi lintas fakultas untuk mengidentifikasi dan memfinalisasi tema-tema riset unggulan yang berpotensi memperkuat inovasi lokal dan mempercepat pembangunan daerah.
Diskusi menekankan pentingnya riset memiliki manfaat yang jelas dan terukur, serta mampu menjawab tantangan-tantangan unik yang dihadapi oleh NTT.
Kolaborasi dengan DUDI dan Pemda menjadi kunci utama dalam RIPP baru ini. Integrasi kebutuhan industri dan pemerintah daerah ke dalam agenda riset memastikan bahwa output penelitian Undana dapat langsung diimplementasikan sebagai kebijakan atau produk inovasi yang meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Workshop ini dijadwalkan berlangsung hingga Sabtu, 13 Desember 2025, untuk memfinalisasi dokumen.
Melalui RIPP 2026–2030 yang kolaboratif dan fokus pada dampak, Undana berharap dapat memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi yang unggul, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan global melalui riset dan inovasi yang berakar pada kearifan dan kebutuhan lokal.*
Alberto/Bernas



