Sewa Lapak Rp1 Juta di Bazar Ramadan GOR A. Yani Kota Probolinggo Picu Keluhan PKL

BeritaNasional.ID, PROBOLINGGO JATIM – Pelaksanaan Bazar Ramadan di GOR A. Yani, Jalan dr. Soetomo, Kota Probolinggo, menuai polemik. Sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) mengeluhkan tingginya biaya sewa lapak yang dipatok sebesar Rp1 juta untuk masa pelaksanaan selama 22 hari.
Dengan tarif tersebut, pedagang memperoleh fasilitas tenda berukuran 3 x 3 meter lengkap dengan instalasi listrik. Namun, nominal itu dinilai cukup memberatkan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih serta potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan dapat memengaruhi jumlah pengunjung dan omzet penjualan.
Ketua Paguyuban PKL Kota Probolinggo, Munadi, menegaskan bahwa pihaknya tidak terlibat dalam pengelolaan maupun penarikan retribusi pada kegiatan bazar tersebut. Menurutnya, penyelenggaraan acara di GOR A. Yani sepenuhnya dikelola oleh pihak ketiga atau Event Organizer (EO).
“Terkait bazar Ramadan di GOR A. Yani itu, silakan hubungi EO-nya langsung. Bukan melalui paguyuban,” ujar Munadi saat dikonfirmasi, Senin (23/2/2026).
Ia juga menyayangkan adanya skema pendaftaran berbayar yang dianggap membebani pedagang kecil. Munadi membandingkan dengan pelaksanaan bazar Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya yang, menurutnya, difasilitasi pemerintah daerah tanpa pungutan biaya.
“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, bazar Ramadan itu tidak pernah ada pendaftaran berbayar. Semuanya gratis dari DKUPP. Dulu yang lokasinya di alun-alun saja belum tentu sukses atau ramai, apalagi sekarang yang hanya di area GOR,” ungkapnya.
Kekhawatiran para pedagang bukan tanpa alasan. Tingginya biaya operasional, ditambah risiko sepinya pembeli akibat faktor cuaca, menjadi pertimbangan serius bagi mereka yang berharap memperoleh tambahan penghasilan selama bulan Ramadan.
Para PKL pun berharap ada evaluasi dari pihak penyelenggara maupun instansi terkait mengenai standar tarif sewa lapak. Mereka menginginkan kebijakan yang lebih berpihak pada keberlangsungan usaha kecil, sehingga momentum Ramadan benar-benar dapat dimanfaatkan tanpa beban biaya yang dinilai terlalu tinggi.
(Yul/Bernas)



