Wamendiktisaintek Lepas 2.319 Mahasiswa KKNT GENTASKIN, Kampus Diminta Jadi Motor Pembangunan NTT

BeritaNasional.ID, OELAMASI – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., secara resmi melepas 2.319 mahasiswa peserta Program Mahasiswa Berdampak Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) GENTASKIN Batch II Tahun 2026 di Aula Kantor Bupati Kupang, Oelamasi, Kamis (9/7/2026).
Pelepasan ribuan mahasiswa dari 41 perguruan tinggi yang tergabung dalam Konsorsium Perguruan Tinggi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menjadi momentum penting memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan di NTT.
Sebanyak 2.319 mahasiswa akan melaksanakan pengabdian selama dua bulan di 100 desa yang tersebar di 13 kabupaten di Provinsi NTT. Program ini merupakan kelanjutan GENTASKIN yang pertama kali dilaksanakan pada 2025.
Dalam sambutannya, Prof. Fauzan menegaskan bahwa sudah saatnya perguruan tinggi meninggalkan paradigma lama yang menjadikan kampus seolah berada di “menara gading”. Menurutnya, kampus harus hadir di tengah masyarakat sebagai bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan pembangunan.
Ia mengatakan, selama ini kegiatan pendidikan tinggi, mulai dari KKN, penelitian hingga pengabdian masyarakat, lebih banyak berorientasi pada pemenuhan kewajiban akademik. Padahal, keberadaan perguruan tinggi semestinya memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.
“Perguruan tinggi adalah entitas sosial. Yang membedakan hanyalah perannya. Karena itu kampus harus ikut berjuang menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat. KKN tidak lagi sekadar memenuhi SKS, tetapi harus menghadirkan dampak nyata,” tegasnya.
Menurut Prof. Fauzan, Indonesia memiliki ribuan perguruan tinggi, namun jumlah tersebut belum berbanding lurus dengan terselesaikannya berbagai persoalan sosial di masyarakat. Karena itu, Kementerian mendorong transformasi melalui konsep Kampus Berdampak, yakni menjadikan seluruh aktivitas perguruan tinggi berorientasi pada penyelesaian masalah pembangunan.
Ia mengapresiasi NTT yang dinilai menjadi salah satu daerah dengan pelaksanaan program Kampus Berdampak paling cepat melalui pembentukan konsorsium 41 perguruan tinggi.
Prof. Fauzan menilai selama ini banyak perguruan tinggi masih berjalan sendiri-sendiri sehingga kontribusinya belum maksimal. Padahal, Presiden telah mengarahkan agar perguruan tinggi menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan.
“Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi bekerja secara parsial. Kampus, pemerintah daerah, DPRD, TNI, Polri, dan seluruh pemangku kepentingan harus berkolaborasi. Perguruan tinggi harus menjadi asisten pembangunan daerah,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa potensi perguruan tinggi bukan hanya berasal dari mahasiswa yang melaksanakan KKN, tetapi juga dari ribuan dosen dan hasil penelitian yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan pemerintah daerah.
Karena itu, ia mendorong agar riset-riset perguruan tinggi diarahkan sesuai kebutuhan daerah sehingga menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan berbasis data.
Menurutnya, berbagai persoalan seperti stunting, kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan hingga persoalan lingkungan membutuhkan pendekatan ilmiah yang melibatkan perguruan tinggi.
“Kalau pemerintah membutuhkan data dan solusi berbasis riset, kampus harus menjadi eksekutornya. Di situlah makna sebenarnya dari kampus berdampak,” katanya.
Prof. Fauzan menjelaskan bahwa ukuran keberhasilan perguruan tinggi ke depan bukan hanya jumlah lulusan maupun publikasi ilmiah, melainkan sejauh mana program-programnya benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ia mencontohkan penanganan stunting yang tidak cukup hanya melalui pemberian makanan bergizi, tetapi juga harus melihat faktor sanitasi, lingkungan, pola asuh, serta kondisi sosial masyarakat yang memerlukan kajian ilmiah lintas disiplin.
Usai acara pelepasan, Fauzan menjelaskan bahwa kunjungannya ke Kupang bertujuan memastikan pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak GENTASKIN berjalan optimal. Program ini merupakan tahun kedua pelaksanaan setelah sukses digelar pada 2025 dan kini menjadi salah satu program unggulan kolaborasi perguruan tinggi di NTT.
Ia menyebutkan, ribuan mahasiswa yang diterjunkan ke desa-desa bukan sekadar menjalankan kegiatan akademik, tetapi menjadi agen perubahan yang membantu menyelesaikan persoalan riil di masyarakat.
Selain kegiatan mahasiswa, pemerintah juga akan mengintegrasikan program penelitian dan pengabdian dosen agar seluruh potensi perguruan tinggi benar-benar mendukung pembangunan daerah.
Dalam waktu dekat, para rektor yang tergabung dalam Konsorsium Perguruan Tinggi NTT juga dijadwalkan mengikuti rapat koordinasi bersama Pemerintah Provinsi NTT guna menyelaraskan program pembangunan daerah dengan agenda pendidikan tinggi.
Melalui langkah tersebut, seluruh kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di kampus diharapkan memiliki arah yang sama, yakni mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Program Mahasiswa Berdampak KKNT GENTASKIN Batch II diharapkan menjadi model kolaborasi nasional antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mempercepat penurunan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, serta mendorong pembangunan desa yang berkelanjutan di NTT.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu, Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, mengajak ribuan mahasiswa peserta Program Mahasiswa Berdampak KKNT GENTASKIN Batch II Tahun 2026 untuk menjadi agen perubahan dalam membantu pemerintah menanggulangi kemiskinan dan stunting di Provinsi NTT.
Prof. Abdul Haris menyampaikan apresiasi kepada seluruh perguruan tinggi di NTT yang dinilai mampu menghadirkan terobosan melalui kolaborasi lintas kampus untuk memberdayakan masyarakat desa.
Ia menyebut gerakan tersebut menjadi langkah nyata dalam mendukung pembangunan daerah sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, NTT masih menghadapi tantangan besar, terutama tingginya angka stunting dan kemiskinan. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia, prevalensi stunting di NTT masih mencapai 37,9 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi di Indonesia setelah wilayah Papua. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2025 menunjukkan tingkat kemiskinan di NTT masih berada pada angka 17,5 persen.
“Kemiskinan bukan sekadar angka statistik. Di balik angka itu ada keluarga yang membutuhkan perhatian dan solusi nyata. Karena itu mahasiswa harus hadir mendengarkan masyarakat sebelum menawarkan solusi,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah pusat melalui Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem menempatkan NTT sebagai salah satu daerah prioritas.
Karena itu, pemerintah pusat terus membangun koordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTT agar berbagai program penanggulangan kemiskinan berjalan tepat sasaran.
Prof. Abdul Haris menegaskan, persoalan utama bangsa saat ini adalah kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan pembangunan. Ketiga persoalan tersebut, katanya, saling berkaitan sehingga membutuhkan kerja sama seluruh pihak, termasuk perguruan tinggi.
Ia juga menyinggung berbagai program pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, termasuk penguatan pendidikan vokasi dan penyiapan lulusan yang siap memasuki dunia kerja, bahkan memiliki peluang bekerja di luar negeri.
Kepada para mahasiswa KKNT GENTASKIN, Prof. Abdul Haris menyampaikan tiga pesan penting. Pertama, mahasiswa diminta menjadi pendengar yang baik dan memahami kebutuhan masyarakat sebelum memberikan solusi. Kedua, menjaga integritas selama menjalankan pengabdian di desa. Ketiga, menjadikan pengalaman selama KKN sebagai bekal membangun jiwa kepemimpinan sosial.
“Pengalaman selama KKN harus menjadi modal untuk membangun kepemimpinan sosial dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga berharap pelaksanaan KKNT tidak hanya berlangsung selama dua bulan, tetapi ke depan dapat diperpanjang hingga enam bulan agar mahasiswa memiliki waktu yang lebih cukup dalam memahami persoalan masyarakat sekaligus menghasilkan dampak yang lebih nyata.
Di akhir sambutannya, Prof. Abdul Haris menyampaikan selamat kepada seluruh mahasiswa yang akan menjalankan pengabdian di desa-desa di NTT. Ia berharap keberadaan mahasiswa mampu menjadi bagian dari solusi dalam mempercepat penurunan angka kemiskinan, stunting, serta mendorong pembangunan desa yang lebih berkelanjutan.
“Semoga apa yang akan dilakukan mahasiswa di desa-desa selama pengabdian benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi kontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera,” tuturnya.
Dalam sambutannya, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt., menegaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak merupakan bentuk nyata sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi atas berbagai tantangan pembangunan di Nusa Tenggara Timur.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang sejak awal menunjukkan komitmen kuat membangun kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi NTT, bahkan sebelum dirinya resmi dilantik sebagai gubernur.
Menurut Melki Laka Lena, karakteristik geografis NTT yang terdiri atas wilayah kepulauan, pegunungan, lembah, dan pesisir membuat tantangan pembangunan di provinsi ini jauh lebih kompleks dibandingkan daerah lain di Indonesia. Kondisi tersebut berdampak pada berbagai persoalan seperti kemiskinan ekstrem, stunting, pengangguran, putus sekolah, hingga kesenjangan pelayanan dasar.
Karena itu, kata dia, penyelesaian berbagai persoalan di NTT tidak lagi dapat dilakukan dengan pendekatan konvensional atau berdasarkan asumsi semata. Pemerintah membutuhkan dukungan dunia akademik agar setiap kebijakan lahir dari kajian ilmiah dan data yang akurat.
“Kita tidak boleh lagi menyelesaikan persoalan berdasarkan perasaan. Semua masalah harus didekati secara ilmiah, berbasis riset dan data sehingga solusi yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran,” tegas Gubernur.
Melki menaruh harapan besar kepada ribuan mahasiswa yang akan mengabdi di desa-desa. Menurutnya, mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu memiliki kapasitas untuk ikut terlibat menyelesaikan persoalan masyarakat sekaligus mengembangkan potensi daerah.
Ia berharap mahasiswa mampu menjadi mitra pemerintah desa dan pemerintah daerah dalam mengidentifikasi persoalan, memberikan rekomendasi berbasis penelitian, hingga mendampingi masyarakat dalam pelaksanaan berbagai program pembangunan.
Selain fokus pada penyelesaian persoalan sosial, Gubernur juga mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan potensi ekonomi daerah melalui inovasi dan kewirausahaan. Ia mencontohkan pentingnya membangun ekosistem ekonomi kampus dengan melibatkan sektor perbankan, sehingga mahasiswa memiliki kesempatan mengembangkan usaha dan menciptakan lapangan kerja baru.
“Mahasiswa tidak hanya belajar di masyarakat, tetapi juga harus mampu menghadirkan inovasi dan mendorong tumbuhnya ekonomi lokal,” ujarnya.
Gubernur juga menekankan pentingnya membangun ekosistem kolaborasi yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Menurutnya, pembangunan tidak akan berhasil jika setiap pihak bekerja sendiri-sendiri.
“Kita harus membangun sinergi yang kuat. Semua pihak harus berada dalam satu ekosistem yang saling mendukung sehingga penyelesaian masalah di NTT dapat dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Melki juga mengajak para mahasiswa menjadi pelopor transformasi digital di desa. Ia menilai digitalisasi akan mempermudah pelayanan publik, mempercepat akses informasi, meningkatkan kualitas pendidikan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Kehadiran mahasiswa harus mampu mempercepat digitalisasi hingga ke desa-desa. Pendekatan digital akan membantu menyelesaikan berbagai persoalan sekaligus mendekatkan masyarakat dengan berbagai layanan pemerintah,” jelasnya.
Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Adrianus Amheka, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa program tersebut merupakan implementasi arahan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui kebijakan Mahasiswa Berdampak.
Menurutnya, program ini merupakan kelanjutan dari Program Mahasiswa Berdampak tahun 2025 sekaligus transformasi dari Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang telah dilaksanakan pada tahun 2024. Melalui transformasi tersebut, mahasiswa tidak hanya menjalankan kegiatan akademik, tetapi juga hadir sebagai agen perubahan yang mampu memberikan solusi nyata bagi berbagai persoalan masyarakat.
“Program ini dirancang untuk mengintegrasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pemberdayaan masyarakat berbasis penyelesaian berbagai persoalan prioritas pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Timur,” ujar Prof. Amheka.
Ia menjelaskan bahwa fokus utama program meliputi percepatan penurunan stunting, pengurangan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan tata kelola desa, hingga pengembangan potensi desa secara berkelanjutan.
Pelaksanaan KKNT GENTASKIN Batch II berlangsung selama dua bulan. Meskipun pelepasan dilakukan secara seremonial, sebagian mahasiswa telah lebih dahulu berada di lokasi penugasan untuk menjalankan berbagai tahapan persiapan bersama pemerintah desa dan masyarakat.
Program ini melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, pertanian, teknik, ekonomi, teknologi informasi, hukum, pemerintahan, komunikasi, hingga bidang ilmu lainnya. Seluruh mahasiswa didampingi oleh 100 dosen pembimbing lapangan yang berasal dari perguruan tinggi peserta.
Keberhasilan pelaksanaan program juga didukung penuh oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, dunia usaha, dunia industri, lembaga swadaya masyarakat, serta berbagai mitra pembangunan lainnya.
Prof. Amheka menyampaikan apresiasi kepada seluruh perguruan tinggi yang terlibat dalam program tersebut. Salah satu kontributor terbesar adalah Universitas Nusa Cendana (Undana), bersama sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta lainnya dari dalam maupun luar NTT.
Yang membedakan program ini dari pelaksanaan KKN pada umumnya adalah pola penempatan mahasiswa yang menggunakan pendekatan multidisiplin. Setiap kelompok terdiri atas mahasiswa dari berbagai program studi dan perguruan tinggi berbeda sehingga mampu menghadirkan solusi yang lebih komprehensif terhadap persoalan di desa.
Selain memperhatikan keberagaman disiplin ilmu, penyusunan kelompok juga mempertimbangkan keseimbangan gender, asal perguruan tinggi, serta kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing desa.
“Dari 100 desa lokasi pengabdian, tidak ada satu desa pun yang hanya ditempati mahasiswa dari satu perguruan tinggi. Setiap desa diisi oleh mahasiswa dari tiga hingga empat perguruan tinggi berbeda sehingga kolaborasi lintas kampus dan lintas disiplin ilmu benar-benar terwujud,” jelasnya.
Wakil Bupati Kupang, Aurum Titu Eki, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Kupang sebagai lokasi penyelenggaraan pelepasan ribuan mahasiswa yang akan melaksanakan KKN Tematik di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur.
“Merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi kami, Pemerintah Kabupaten Kupang, dapat menjadi tuan rumah Seremonial Pelepasan Program Mahasiswa Berdampak KKN Tematik Batch II Tahun 2026. Atas nama Pemerintah Kabupaten Kupang dan seluruh masyarakat, kami menyampaikan selamat datang serta penghormatan kepada seluruh tamu kehormatan yang telah berkenan hadir,” ujar Aurum.
Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi bukti kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun sumber daya manusia dan mempercepat pembangunan daerah melalui keterlibatan perguruan tinggi.
Dalam kesempatan itu, Aurum memperkenalkan Kabupaten Kupang sebagai salah satu daerah strategis di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Kupang merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di NTT, sekaligus wilayah terluas kedua dengan luas sekitar 5.300 kilometer persegi atau hampir delapan kali lipat luas Provinsi DKI Jakarta.
Besarnya wilayah tersebut, kata dia, menghadirkan tantangan tersendiri dalam pemerataan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.
“Kabupaten Kupang memiliki karakter wilayah yang sangat beragam. Kami memiliki kawasan pegunungan, lembah, pesisir, berbatasan langsung dengan Kota Kupang, bahkan berbatasan dengan negara Timor Leste. Dari 177 desa dan kelurahan yang ada, masing-masing memiliki potensi sekaligus tantangan yang berbeda-beda,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa setiap jengkal wilayah Kabupaten Kupang merupakan tanggung jawab pemerintah untuk memastikan seluruh masyarakat memperoleh pelayanan dan pembangunan yang merata.
“Setiap kilometer bukan sekadar jarak, tetapi merupakan tanggung jawab untuk memastikan pelayanan dan pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat,” katanya.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Kupang menyambut baik pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak melalui KKN Tematik GENTASKIN. Program tersebut dinilai menjadi ruang belajar yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk memahami kehidupan masyarakat secara langsung, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa.
Aurum berharap para mahasiswa tidak hanya datang membawa ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi, tetapi juga memiliki kerendahan hati untuk mendengar, belajar, dan tumbuh bersama masyarakat.
Menurutnya, pengabdian yang sesungguhnya lahir dari kolaborasi antara ilmu pengetahuan yang dimiliki mahasiswa dengan pengalaman hidup serta kearifan lokal masyarakat desa.
“Mahasiswa hadir membawa ilmu dan gagasan, sementara masyarakat menghadirkan pengalaman, nilai-nilai kehidupan, semangat gotong royong, dan kearifan lokal yang tidak selalu ditemukan di ruang kuliah. Di situlah kolaborasi yang sesungguhnya akan tercipta,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, LLDIKTI Wilayah XV, serta seluruh perguruan tinggi yang telah menggagas dan mendukung pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak KKN Tematik sebagai bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Menutup sambutannya, Wakil Bupati Kupang mengucapkan selamat kepada seluruh peserta Program Mahasiswa Berdampak KKN Tematik GENTASKIN Batch II Tahun 2026. Ia berharap seluruh mahasiswa dapat menjalankan tugas pengabdian dengan penuh semangat, menjaga nama baik almamater, serta mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa.
“Semoga selama berada di tengah masyarakat, adik-adik mahasiswa mampu menjadi agen perubahan, membangun kolaborasi, menghadirkan solusi, sekaligus belajar dari kehidupan masyarakat. Kami percaya kehadiran mahasiswa akan memberikan manfaat bagi desa, sekaligus menjadi pengalaman berharga dalam membentuk karakter kepemimpinan di masa depan,” pungkas Aurum.*
Alberto/Bernas



