Nusa Tenggara Timur

Profesor FB Diduga Sebar Provokasi Negatif di Undana

BeritaNasional.ID, KUPANG – Dunia akademik Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali jadi sorotan publik setelah salah satu guru besarnya, Profesor FB, diduga melakukan provokasi negatif yang menyudutkan Undana melalui sebuah media online.

Dugaan ini menguat setelah diketahui bahwa Profesor FB menjadi Dewan Pakar Bahasa di media itu serta akun TikTok @mantan123_, yang diketahui berafiliasi dengan media tersebut, mengunggah beberapa konten yang menimbulkan polemik di kalangan warganet Nusa Tenggara Timur.

Dalam unggahan tersebut, Undana dituding melakukan kebijakan yang merugikan, termasuk terkait sistem informasi terbaru yang digunakan kampus, serta isu ijazah bagi ratusan mahasiswa yang akan diwisuda.

Salah satu narasi yang viral adalah perbandingan antara SIAKAD, sistem informasi akademik lama, dan Siadiknona, sistem akademik dan non-akademik yang kini diterapkan Undana. Dalam konten itu disebutkan bahwa SIAKAD bersifat gratis, sementara Siadiknona disewa dengan biaya mencapai Rp68 juta per bulan.

Menanggapi isu ini, Sub Koordinator UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Undana, Yosua Albert Sir, menegaskan bahwa klaim tersebut tidak akurat.

Ia menjelaskan bahwa SIAKAD hanya memiliki satu fitur utama, sementara Siadiknona jauh lebih modern dengan 14 modul terintegrasi yang melayani berbagai aspek akademik dan administratif.

“Siakad dulu hanya punya satu fitur, sementara Siadiknona memiliki 14 modul lengkap. Jadi jauh lebih canggih dan responsif,” ujar Yosua.

Yosua juga mengungkap alasan Undana memilih menyewa sistem ketimbang membeli putus.

Menurutnya, pembelian justru berisiko menimbulkan masalah baru karena keterbatasan sumber daya manusia untuk pemeliharaan.

“Kalau beli putus, kita harus bongkar sistem, pelajari, dan ketika ada perubahan, siapa yang urus? Dengan sewa, kalau ada error, tinggal hubungi vendor. Mereka punya tim yang siap 24 jam membantu,” paparnya.

Ia menambahkan, dengan biaya sekitar Rp61 juta per bulan, Undana tidak hanya mendapatkan sistem yang lebih canggih, tetapi juga dukungan pemeliharaan penuh dari vendor.

“Saya anggap beli satu dapat dua: sistem plus dukungan teknis 24 jam. Ini pilihan terbaik,” tegasnya.

Tidak hanya soal Siadiknona, akun TikTok yang sama juga mengunggah klaim bahwa 603 mahasiswa Undana akan diwisuda tanpa menerima ijazah. Unggahan ini kembali memicu spekulasi di kalangan publik.

Menanggapi kabar tersebut, pihak rektorat Undana memastikan bahwa semua peserta wisuda tetap akan menerima ijazah.

Hanya saja, ada keterlambatan proses pencetakan karena aplikasi PDDikti tengah dalam masa maintenance, sehingga PIN (Penomoran Ijazah Nasional) belum bisa ditarik.

“Semua peserta sudah dinyatakan eligible, jadi ijazah pasti dicetak setelah PIN bisa ditarik pasca maintenance,” jelas salah satu pejabat rektorat saat dikonfirmasi pada Sabtu (30/08/2025).

Profesor FB yang dikonfirmasi media ini. Ia membantah keras tuduhan bahwa dirinya melakukan provokasi negatif terkait SIAKAD dan Siadiknona.

“Dugaan itu tidak benar. Saya tidak pernah melakukan provokasi negatif yang menyudutkan Undana tentang SIAKAD dan Siadiknona. Saya menulis opini di media hanya berkenaan dengan linguistik atau ilmu bahasa sesuai bidang keahlian saya,” tegasnya, Minggu (31/08/2025).

Profesor FB menegaskan bahwa opininya murni terkait edukasi linguistik dan tidak ada kaitannya dengan kebijakan teknologi informasi kampus.

“Isu itu menyesatkan karena saya tidak tahu tentang mekanisme pengelolaan SIAKAD dan Siadiknona. Sebagai dosen, saya hanya menjadi pengguna sistem untuk kepentingan administrasi perkuliahan,” jelasnya.*

(Alberto)

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button