Belajar Sambil Bermain, FKKH Undana Edukasi Bahaya Rabies untuk Siswa SDN Nunbaun Sabu

BeritaNasional.ID, KUPANG – Rabies masih menjadi momok menakutkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berdasarkan data dari Dinas Peternakan Provinsi NTT, hingga Mei 2025 tercatat 2.149 kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) dengan 10 korban jiwa.
Di Kota Kupang sendiri, hingga Juli 2025 sudah ada 725 kasus gigitan yang dilaporkan.
Meski angka tersebut cukup tinggi, kesadaran masyarakat terhadap bahaya rabies, terutama di kalangan anak-anak, masih rendah.
Melihat kondisi ini, tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar kegiatan edukatif bertajuk “Sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Rabies bagi Siswa/i Sekolah Dasar” di SDN Nunbaun Sabu, Kota Kupang.
Kegiatan ini dipimpin oleh Larry R. W. Toha, selaku Ketua Tim Pengabdian.
Berbeda dari sosialisasi pada umumnya, kegiatan ini dikemas dengan pendekatan yang interaktif dan menyenangkan agar mudah dipahami oleh anak-anak.
Melalui metode belajar sambil bermain, tim FKKH Undana mengajak para siswa mengenal bahaya rabies, cara penularannya, serta langkah-langkah pencegahan yang bisa dilakukan sejak dini.
Dalam sesi edukasi, para siswa diajak berdiskusi mengenai pentingnya menjaga hewan peliharaan agar tetap sehat, serta diajarkan cara aman berinteraksi dengan hewan seperti anjing dan kucing.
Mereka juga diberi pemahaman untuk tidak mendekati atau mengganggu hewan yang tidak dikenal, karena bisa saja hewan tersebut membawa virus rabies.
Tak hanya itu, tim juga mengajarkan pertolongan pertama jika terjadi gigitan hewan, yaitu dengan mencuci luka menggunakan sabun di air mengalir selama 10–15 menit, kemudian segera melapor kepada guru, orang tua, atau tenaga kesehatan agar bisa mendapatkan penanganan medis sesegera mungkin.
Antusiasme Siswa dan Dukungan Sekolah
Suasana kegiatan berlangsung meriah dan penuh antusiasme.
Setelah sesi penjelasan, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai games edukatif seperti lomba menggambar dan mewarnai hewan peliharaan, serta permainan tebak kata bertema rabies.
Anak-anak tampak bersemangat mengikuti setiap kegiatan sambil belajar tentang pentingnya menjaga diri dari gigitan hewan pembawa rabies.
Salah satu siswa kelas V, Stenly, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan ini.
“Sekarang saya tahu kalau rabies itu berbahaya dan bisa bikin orang meninggal. Jadi kalau main sama anjing harus hati-hati, dan kalau digigit harus cepat bilang ke ibu guru atau orang tua,” ujarnya.
Pihak sekolah juga menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan ini.
Kepala Sekolah SDN Nunbaun Sabu, Nur Florense N. Ataupunh, menilai bahwa sosialisasi seperti ini sangat penting dan bermanfaat, terutama bagi anak-anak yang sering berinteraksi dengan hewan peliharaan di lingkungan sekitar.
Ia berharap kegiatan serupa bisa dilakukan secara rutin oleh perguruan tinggi maupun instansi terkait.
Menurut Larry R. W. Toha, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Undana dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Melalui pendekatan yang ringan dan sesuai dengan usia anak, diharapkan para siswa bisa menjadi “agen kecil” yang membantu menyebarkan informasi tentang bahaya rabies kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
“Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan menjadi korban gigitan hewan, tapi mereka juga bisa menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Jika mereka paham sejak dini, maka kesadaran di masyarakat akan meningkat,” ungkapnya.
Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi Universitas Nusa Cendana dalam mendukung program pemerintah menuju NTT bebas rabies.
Upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan dan aparat pemerintah, namun juga membutuhkan peran aktif masyarakat—termasuk anak-anak—dalam menjaga kebersihan, kesehatan hewan peliharaan, dan kewaspadaan terhadap gigitan hewan liar.
Ia berharap agar generasi muda NTT tumbuh dengan kesadaran tinggi terhadap kesehatan lingkungan dan keselamatan diri, serta ikut berperan dalam menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan tanggap terhadap ancaman penyakit zoonosis seperti rabies.*
Alberto



