Opini

Sosok Andreas Ande, Jalan Panjang Menjadi Guru Besar

Oleh: Alberto Linbes Kuluantuan

Pengukuhan Prof. Andreas Ande,  sebagai Guru Besar Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) pada 14 Januari 2026 bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah peristiwa historis yang menyimpan makna sosial, kultural, dan kemanusiaan yang dalam—terutama bagi dunia pendidikan dan kebudayaan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di balik toga profesor yang akan dikenakannya, tersimpan kisah panjang tentang kemiskinan, kehilangan, kerja keras, dan keteguhan hati. Kisah ini sekaligus menjadi cermin bahwa sejarah bukan hanya kumpulan peristiwa masa lalu, melainkan pengalaman hidup yang membentuk kesadaran dan jati diri manusia.

Prof. Andreas Ande lahir di Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, pada 10 Oktober 1962, dari keluarga petani sederhana. Kehidupan masa kecilnya tidak berjalan mudah. Ia kehilangan ibunya saat masih duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, sementara adik bungsunya baru berusia enam bulan. Kepergian ibu menjadi luka awal yang membentuk perjalanan hidupnya.

Situasi keluarga semakin kompleks ketika sang ayah menikah lagi dan membentuk keluarga baru. Dalam keterbatasan perhatian dan ekonomi, Prof. Ande dan saudara-saudaranya tumbuh dengan pengalaman hidup yang keras. Kakak perempuannya bahkan tidak sempat mengenyam pendidikan formal karena harus mengurus adik-adiknya.

Namun, di tengah keterbatasan itu, solidaritas keluarga besar dan perhatian para pastor di paroki menjadi jaring pengaman sosial yang memungkinkan Prof. Ande tetap bersekolah. Inilah wajah pendidikan di desa-desa NTT: bertahan bukan karena fasilitas, tetapi karena kepedulian dan ketekunan.

Menempuh pendidikan dasar di SDK Boganatar, Prof. Ande sudah terbiasa bekerja sejak kecil, mengumpulkan batu untuk pengerasan jalan, memilih kemiri, hingga menjaga kebun dari gangguan hewan. Jarak sekolah yang jauh, bahkan mencapai puluhan kilometer dari kebun, tidak pernah menjadi alasan untuk menyerah.

Pendidikan menengah dijalaninya dengan berjalan kaki sejauh lima kilometer setiap hari dari Ledalero ke SMPK Kimang Buleng, Nita, sebelum sempat mencicipi kehidupan seminari di Hokeng dan akhirnya menyelesaikan SMA di SMA Sint Gabriel Maumere.

Pilihan hidupnya kemudian membawanya merantau ke Kupang pada 1983 untuk kuliah di Universitas Nusa Cendana. Dengan membawa peti kayu dan pakaian sebagai bekal, ia datang tanpa kemewahan, hanya tekad untuk mengubah nasib melalui pendidikan.

Memilih Jurusan Sejarah di Undana pada masa itu bukan pilihan populer. Namun bagi Prof. Ande, sejarah bukan sekadar disiplin ilmu, melainkan ruang untuk memahami manusia dan kebudayaannya. Selama kuliah, ia bekerja apa saja demi bertahan hidup, dari buruh tukang, membongkar WC di Pasar Inpres Naikoten, hingga mengajar sambil kuliah.

Dari sisa potongan kayu tempat ia bekerja sebagai tukang, ia membuat lemari untuk kebutuhan sendiri, bahkan kemudian dijual kepada orang lain. Di sinilah terlihat bahwa kreativitas dan daya juang sering lahir dari keterbatasan.

Setelah menyelesaikan S1 pada 1988, Prof. Ande terus menekuni dunia akademik. Ia melanjutkan S2 di Universitas Airlangga melalui beasiswa dan meraih gelar doktor di Universitas Negeri Malang pada 2016.

Puluhan tahun ia habiskan untuk penelitian, pengajaran, dan pengabdian, terutama terkait sejarah dan kebudayaan NTT. Sebagai Guru Besar, Prof. Ande mengusung spesialisasi Sejarah Kebudayaan Daerah, dengan orasi ilmiah bertajuk “Manusia dan Sejarah Kebudayaan Daerah Nusa Tenggara Timur dalam Kurikulum Merdeka Belajar.”

Tema ini relevan dan kontekstual di tengah tantangan pendidikan nasional yang kerap tercerabut dari akar budaya lokal. Bagi Prof. Ande, kebudayaan daerah bukan ornamen pelengkap kurikulum, melainkan fondasi pembentukan karakter dan identitas generasi muda. Sejarah lokal harus hadir sebagai ruang refleksi agar manusia NTT memahami dirinya, lingkungannya, dan masa depannya.

Pandangan ini sejalan dengan kiprahnya sebagai Ketua Tim Ahli Cagar Budaya NTT, serta pengalamannya mengajar di berbagai perguruan tinggi, termasuk Undana, Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Universitas Terbuka.

Pengukuhan Prof. Andreas Ande sebagai guru besar adalah simbol bahwa perguruan tinggi di daerah memiliki potensi besar melahirkan pemikir-pemikir unggul yang berakar pada realitas lokal. Ia adalah bukti bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang sosial bukan penghalang untuk mencapai puncak akademik.

Lebih dari itu, perjalanan hidup Prof. Ande mengajarkan bahwa sejarah sejati adalah sejarah yang hidup—yang dialami, direnungkan, dan kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya melalui pendidikan.

Ketika Prof. Ande mengucapkan terima kasih kepada para dosen dan semua pihak yang mendorongnya, sesungguhnya ia sedang menegaskan satu hal penting: ilmu pengetahuan tumbuh dari kebersamaan, bukan dari kesendirian.

Di tengah tantangan zaman dan perubahan kurikulum, sosok Prof. Andreas Ande menghadirkan harapan bahwa pendidikan sejarah dan kebudayaan daerah masih memiliki tempat strategis dalam membentuk manusia NTT yang berakar, berdaya, dan bermartabat.*

Lihat Selengkapnya

Related Articles

Back to top button